Senin, 01 Juni 2009

Jejak Presiden Soekarno




Lokasi sel yang dipakai memenjarakan Sukarno pada 1930 tak terawat dan berbau pesing. Minggu, 11 Juli 2009 pukul 01:50:00 http://www.republika.co.id

Merespons pengumuman, mereka berkumpul di Jl Merdeka 7 Bandung. Para mahasiswa awal itu hendak menelusuri jejak Sukarno muda, Ahad (21/6). Ada yang dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Unviversitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Pasundan (Unpas), dan Universitas Ilmu Komputer (Unikom).

Sebelum menyusuri jejak Sukarno (lahir pada 6 Juni 1901), mereka mencari informasi di buku-buku dan internet. Di antara peserta, banyak yang tak menyangka kalau sejarah kemerdekaan berangkat dari Bandung. ''Menyadari hal itu, kami pun mengajak anak-anak muda menyusuri jejak fisiknya di bulan Juni, bulan kelahiran Bung Karno,'' ujar Aeng Anwar Sanusi, ketua Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).

Dari sekretariat PMB itu, mereka menuju ke Gedung Indonesia Menggugat (GIM) sembari membawa alat-alat kebersihan. ''Selama perjalanan kita harus memungut sampah yang kita temui,'' ajak Aeng, sebelum berangkat.

GIM yang menjadi sasaran pertama adalah gedung di Jl Perintis Kemerdekaan. Dulu bernama Gedung Landraad, tempat Sukarno muda disidang pada 1930, setelah ditahan oleh Belanda sekitar delapan bulan di penjara Banceuy. Di persidangan, ia memberikan pembelaan berjudul 'Indonesia Menggugat'.

''Kami berdiri di hadapan mahkamah tuan-tuan ini bukan sebagai Soekarno, Gatot Mangkoperadja, Maskoen atau Soepriadinata, kami orang berdiri di sini adalah sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang berkeluh kesah sebagai putra-putri Indonesia yang setia dan bakti kepadanya,'' ujar Sukarno membacakan pledoinya, seperti dikutip Bob Hering dalam buku Soekarno Bapak Indonesia Merdeka.

Di GIM ini, para mahasiswa itu mendapat penjelasan soal dibuangnya Sukarno ke Ende setelah persidangan, karena dia dianggap berbahaya. ''Selama di Ende itulah, konon, Sukarno muda melihat daun sukun yang bercabang lima, yang kemudian menginspirasinya menemukan lima falsafah yang menjadi dasar negara,'' ujar Aeng.

Meja hakim masih dipertahankan di ruang sidang di gedung itu. Foto-foto Sukarno dan naskah-naskah kisah perjuangannya juga dipajang di dinding gedung yang sekarang jadi salah satu meeting point favorit di Bandung itu. Mantan gubernur Jawa Barat, Mashudi, yang mengusulkan pemanfaatan gedung itu sebagai tempat pertemuan publik. Ada pula kafe di sini. Sebelumnya, gedung ini dimanfaatkan sebagai kantor pemerintahan.

Selama delapan bulan ditahan sebelum disidang, Sukarno muda mengisi sel kecil di Banceuy. Ia mengisi sel nomor lima, yang keberadaannya sekarang masih dipertahankan di belakang Pertokoan Banceuy. Dari GIM, ke sinilah para mahasiswa itu menuju, melewati Viaduct dan Jl Banceuy.

Di lokasi sel berukuran 2,5 x 1,5 meter itu, mereka harus menahan bau pesing. Rupanya, banyak orang memilih kencing di sini --meski ada papan larangan 'Dilarang Kencing di Sini'-- karena tersembunyi dari pandangan umum. Gerobak-gerobak pedagang kaki lima menutup jalan masuk ke lokasi sel ini.

Karenanya, lingkungan tempat Sukarno ditahan sejak Desember 1929 hingga Agustus 1930 itu terlihat tak terawat. Sampah berserakan. Gerobak pengangkut sampah pun di parkir di sini. Bau psing dan lingkungan kotor, bisa membuat orang enggan lewat lokasi ini.

''Sedih rasanya melihat situs ini jadi tempat tumpukan sampah dan tempat kencing orang yang tak bertanggung jawab,'' ucap Nur Eni Lestari, mahasiswi Unpad angkatan 2006.

''Wah, gara-gara kurang ekspose nilai historisnya nih, situs sel ini jadi nggak terawat,'' timpal Rama Praditya, mahasiswa Unpas angkatan 2005.

Mereka kemudian bergegas membersihkan sampah, sebelum mengambil posisi berdiri di depan sel menyanyikan Indonesia Raya. Suasana tiba-tiba menjadi haru. Budi Tryaditia mengaku hampir meneteskan air mata karenanya. ''Saya baru ke sini sekali,'' ujar mahasiswa Unpad angkatan 2006 itu.

Budi mengaku ikut membersihkan area sel itu menjadi bentuk penghormatan untuk jasa Sukarno. Sel itu dikelilingi pagar besi yang sudah keropos. Ada dua tugu di dekatnya. Pot-pot bunga yang dimaksudkan untuk memperindah lokasi itu kini sudah hancur dan berantakan. Dua tiang bendera mengibarkan bendera merah putih yang sudah pudar warnanya.

Mereka sempat menerima penjelasan dari Ketua RW yang diberi tanggung jawab menjaga lokasi ini. Menurut dia, perawatan dari warga dilakukan dengan keterbatasan.

Usai di sel Sukarno, mereka menuju ke Gedung Merdeka, gedung tempat diadakannya Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digagas Sukarno. Sebelum tiba di Gedung Merdeka, mereka menyempatkan diri melihat Sumur Bandung di Gedung PLN, Cikapundung.

Juru kunci menjelaskan ke mereka, Sumur Bandung merupakan sumur yang muncul setelah Bupati Bandung, Wiranata Kusumah II ((1794-1829), menancapkan tongkatnya. Saat itu, daerah ini masih berupa hutan, yang kemudian oleh Daendels dibuatkan jalan raya di situ.

''Itu dilakukan sewaktu beliau beristirahat di sini dalam perjalanannya dari Subang menuju Dayeuhkolot,'' ujar sang juru kunci. Dayeuhkolot adalah ibu kota Kabupaten Bandung. Atas perintah Daendels, kemudian dipindah ke pinggir jalan raya yang baru dibangun Daendels dekat Sumur Bandung itu (sekarang bernama Jl Asia-Afrika).

Menyeberang jalan dari Gedung PLN, sampailah mereka di Gedung Merdeka. Pemandu wisata telah menunggu mereka, untuk menjelaskan hal-hal yang ingin mereka ketahui.

Selama di Gedung Merdeka, mereka mendapat penjelasan latar belakang penyelenggaraan KAA. Sesekali, lewat penjelasannya tentang KAA itu, staf museum itu mencoba membakar semangat para mahasiswa itu. Selama dua jam mereka di Gedung Merdeka, termasuk menonton film dokumenter KAA. Tapi, keinginan mereka masuk ke ruang bawah tanah tak terkabulkan, karena di hari libur, ruang bawah tanah di Gedung Merdeka ditutup.

Di Gedung Merdeka ini pula, mereka bertemu dengan Paguyuban Sepeda Ontel Bandung. ''Mereka mengajak melakukan city tour bersama untuk lokasi lain di lain hari,'' kata Aeng. pry

Minggu, 10 Mei 2009

PMB di Lumpur Lapindo , Acara GMS Mei 2009

Persiapan Reuni PMB 67 pada tanggal 30 Mei 2009 di Jakarta
Melihat lumpur Sidoarjo bersama : IMADA dan GMS
Foto bareng : Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) dan Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA).
Pada Acara GMS Return

Selasa, 21 April 2009

Hari Bumi Bulan April 2009

Happening Art , bersama jendral Bumi
Hari bumi 22 April (Earth Day Not For Sale)

Kita serukan bersama untuk katakan TIDAK! kepada semua
kamuflase hijau di sekeliling kita.Jangan biarkan isu lingkungan
menjadi alat bagi mereka para kaum kapitalis sebagai kendaraa
untuk penggemukan perut mereka pribadi. Katakan TIDAK!
kepada mereka yang telah terang-terangan merusak lingkungan
di sekeliling kita. Jangan biarkan ideologi lingkungan hanya
menempel sebagai gaya hidup pada tubuh kita.

Disaat ribuan hektar hutan di sekitar kita habis. Disaat semua
sumber air menjadi milik pribadi dan kita 'dipaksa' untuk membelinya.
Disaat hak kita atas udara bersih terancam menjadi sebuah mimpi.
Disaat semakin menganganya lubang ozon, polusi udara, naiknya
permukaan air laut, rusaknya susunan tanah akibat pupuk berkelebihan,
terancamnya keanekaragaman hayati, dan tergusurnya komunitas
setempat berikut kearifan budayanya. Disaat tanda-tanda atas semua
mimpi buruk itu akan terjadi, dan kita belum melakukan apa-apa?

Ayo datang dan suarakan harapanmu, luangkan sedikit waktumu,
ajak semua kerabatmu, awali dari sini atas kecintaanmu pada bumi
yang kamu pijaki, pada aksi kolektif dalam rangka perayaan
Hari Bumi 2009 di kota yang kamu cintai ini.

Hari Rabu, 22 April 2009
Jam 15:30 - 17:30
di Bundaran Taman
Cikapayang Dago, Bandung

Rabu, 01 April 2009

di bencana Situ Gintung


PMB
Situ Gintung adalah satu dari sekian banyak situ di tanahair. banyak situ-situ yang kondisi fisiknya gak lebih baik dari situ gintung. penyebab utama jebolnya tanggul Situ Gintung adalah karena areal bantaran sekeliling situ (50 meter sepanjang batas air situ gintung) ternyata telah beralih fungsi sehingga tanggul tidak memperoleh areal penguat yang memadai. jebollah ia.

problem tersebut hampir dimiliki oleh seluruh situ di tanahair.

Maka, tolong sebarluaskan poster ini ke miling list yang anda kenal, sehingga menjadi perhatian sebanyak-banyaknya warga yang peduli.

AGAR BENCANA SITU GINTUNG TAK SAMPAI TERULANG KEMBALI DI TEMPAT LAIN

Rabu, 18 Maret 2009

Puisi ku

bELaJar dAri hUJan…
Thursday, March 12, 2009 at 3:49pm
(Nurma Indriyani PMB 07)

Mungkin sekarang memang sudah waktunya berganti musim
Hari mulai hujan terus
Didahului dengan langit hitam kelam
Ada sedikit rasa takut..

Sendirian..
Kesepian..
Kemudian turunlah hujan..
Manusia dengan sejuta kegagahannya
Jadi tidak berarti apa-apa di saat hujan

Hanya bisa diam,
Mungkin merenung,
Banyak memori yang tiba-tiba keluar berloncatan di saat hujan
Sejuta kenangan yang tanpa permisi memenuhi seluruh isi kepala
Perasan-perasaan yang di dapat hanya pada saat hujan turun

Hujan deras,
Ada yang memilih mencermati,
Mengagumi, membiarkan diri
Beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia
Ada juga yang marah-marah karena merasa aktivitas terhenti,
Terputus dari sesuatu yang disebut peradaban

Sebagian merasa takut
Merasa hujan seperti badai yang mengempas seluruh hidupnya
Kadang seseorang merasakan ketiganya
Tapi sore ini,
Entah mengapa hujan jadi punya makna

Selalu ada pelangi setelah hujan
Awan selalu kembali cerah
Anak kecil, tukang jualan sampai para pekerja kembali memenuhi jalan

Hujan ternyata bukan untuk selamanya
Kadang memang panjang
Kadang teramat panjang
Tapi semua kembali normal
Masih ada kehidupan setelah hujan

Masalah itu ibarat hujan
Betapapun berat
Betapapun sakit
Menyesakkan
Membuat mual
Dan ingin muntah

Suatu hari…
pasti akan berakhir
bersabar
menunggu, mungkin merenung sambil menanti hujan usai
tidak perlu menerobos derasnya
membiarkan diri bertambah sakit
atau menjadi basah kuyup

sedikit lagi..
matahari akan kembali bersinar

sedikit lagi..
keceriaan akan kembali mengisi hari

sedikit lagi…

Hang on, dear!

Senin, 16 Maret 2009

Nani Sakri PMB 69

Nani Sakri : Saya Ingin Menulis Sejarah Fashion Indonesia

Tahun 1970-an, orang sering menyaksikan lenggak-lenggok sosok ini di atas catwalk yang glamour nan gemerlap. Namun belakangan, orang acapkali menyaksikan kepiawaian sosok ini saat tangannya asyik menari-nari dan berimajinasi dengan kuas di atas kanvas. Dialah seorang perempuan yang lahir di Yogyakarta, pada 25 Maret 1948, sang empunya nama lengkap Nani Prihatani Sakri Soenarto, atau lebih dikenal dengan nama Nani Sakri.

Ya, pada tahun 1970-an, Nani Sakri berkibar sebagai seorang peragawati papan atas, dan nama maupun fotonya sering kali nampangd di berbagai media. Namun, sejak tahun 1996, ia mulai memainkan imajinasinya dalam kombinasi cat, kuas, dan kanvas. Pada tahun 1998, Nani mulai serius menekuni dunia lukisan, dan sejak saat itulah lahir banyak karya lukis yang khas dari tangannya. Tak kurang dari 15 pameran lukisan tunggal maupun bersama, di dalam maupun di luar negeri, telah memajang karya-karya Nani yang memiliki corak khusus. Orang mengenal pelukis ini suka menggambarkan nuansa keelokan perempuan, batik, buah, dan binatang dalam sajian yang simple.

Sekalipun kini publik mungkin lebih mengenal namanya sebagai pelukis dan mantan model ternama, namun dunia keperagawatian atau modelling tetap saja merupakan domain seorang Nani Sakri. Penguasaannya akan pengalaman langsung dan pengetahuan atas perkembangan dunia keperagawatian Indonesia sempat mengantarkannya menjadi konsultan media maupun penulis kolom-kolom fashion di sejumlah media massa. Hingga kini, selain aktif melukis dan berpameran, mengembangkan usaha, dan mengajar di sejumlah universitas, Nani juga masih sering menerima undangan untuk hadir maupun tampil di berbagai peragaan busana. Dunia catwalk tidak sepenuhnya lenyap dari genggamannya, sekalipun generasi yang lebih muda telah menggantikannya.

Bagi Anda yang demen menjelajahi dunia Facebook, Anda akan dengan mudah menjumpai dan berkomunikasi dengan Nani Sakri, melihat sebagian dari hasil karyanya, dan mengenal jejak dunia modelling yang pernah dikuasainya. Nani memang seorang figur yang telah mewarnai panggung sejarah fashion Indonesia, dan kini terus menorehkan karya di dunia seni lukis. Selain ingin menjadi pelukis yang mumpuni dan diakui oleh masyarakat seni, saya juga ingin menulis buku tentang perjalanan sejarah industri fashion Indonesia,” ungkap Nani kepada Edy Zaqeus dari AndaLuarBiasa.com, dalam sebuah wawancara melalui pos-el dan dilanjutkan dengan komunikasi via Facebook. Berikut adalah petikannya:

Berikutnya klik saja : http://www.andaluarbiasa.com/nani-sakri-saya-ingin-menulis-sejarah-fashion-indonesia/comment-page-1#comment-214

Jumat, 13 Maret 2009

61 tahun. PMB Maret 2009

Acara 61 tahun Perhimpunan Mahasiswa Bandung, 17 Maret 2009
Penyerahan tumpeng dari angkatan 2009 ke angkatan 1948, 17 Maret 2009
Pentas musik 1/2 jadi di depan sekretariat PMB jl. Merdeka no 7 Bandung