Rabu, 02 September 2009

Kegiatan Bulan Ramadhan

Gempa yang menghantam Jabar dan sekitarnya terjadi pada pada 2/9/09 pkl: 14.55 WIB, berlokasi 8.24 LS - 107.32 BT berkekuatan 7.3 SR pada kedalaman 30 Km diwilayah 142 km Barat Daya Tasikmalaya sepontan mengejutkan kita semua. Tentunya bagi kita yang tinggal diwilayah Jawa Barat, Jakarta, bahkan pulau Jawa dapat merasakan hebatnya getaran yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Namun apakah kita juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para korban gempa?


Memang bukan keinginan dari kita semua terjadinya musibah gempa bumi ini dan juga bukan keinginan para korban untuk tinggal di tempat-tempat penampungan dengan tenda darurat, juga bukan keinginan mereka yang kehilangan keluarga tercintanya disaat mendekati hari raya dimana sanak famili saling berkumpul memberi kehangatan dengan saling mamaafkan dan juga bukan keinginan bahkan cita-cita mereka untuk di telantarkan oleh kita dan juga pemerintah disaat mereka membutuhkan bantuan meski tanpa harus menjadikan diri mereka sebagai pengemis.


Bayangkan ketika kita sedang asik menata hidangan sahur dan berbuka puasa ternyata saudara-saudara kita disana masih sibuk menata puing-puing reruntuhan rumahnya yang hancur akibat gempa? Bayangkan juga ketika kita sedang asik menyuap sesendok makanan, jangankan suapan, sendokpun tak berhasil mereka temukan? Lalu bayangkan ketika kita sedang asik menyaksikan televisi, ternyata saudara-saudara kita disana sedang menyaksikan tumpukan tubuh tanpa nyawa dan bangunan-bangunan rumah yang luluh lantah akibat getaran gempa.


Saat ini, kondisi korban gempa di wilayah Tasik, Bandung, Cianjur, Garut dan sekitarnya sangat memperihatinkan. Mereka harus rela tidur di tenda-tenda pengungsian yang hanya beralaskan Koran dan kardus bekas, kondisi sanitasi yang kurang sehat ditambah sulitnya akses air besih. Kurangnya bahan makana dan obat-obatan. Apalagi saat ini umat muslim sedunia sedang melaksanaka ibadah puasa di bulan Rhamadhan, namun bukan berarti saudara kita disana harus merasakan puasa 24 jam lamanya. Belum lagi hari raya Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi. Tentunya tragedi ini meninggalkan luka yang cukup mendalam bagi para korban.


Sejenak kita renungkan, jika yang mengalami musibah tersebut adalah sanakfamili kita sendiri, atau bahkan kita yang mengalaminya sendiri. Dibulan yang penuh rahmat ini, dimana setiapa amal ibadah dilipat gandakan,merupakan peluang bagi kita sebagai umat muslim untuk menambah pahala kita. Disamping itu, sekecil apapun bantuan yang kita berikan, setidaknya dapat membantu meringankan penderitaan para korban yang saat ini masih dalam kesulitan.


Saat ini kami membuka Posko kemanusiaan diwilayah Pengalengan Bandung Selatan. Bagi anda yang bersedia membantu meringankan penderitaan korban Gempa dapat disalurkan melalui:


1). Sekertariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) di Jln. Merdeka No. 7 depan hotel Panghegar - Insan Selamet (PMB): 085862041252.


2). Sekertariat Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) di Jln. Teuku Umar No.4 Menteng, Jakarta Pusat - Anggoro Prajesta (IMADA): 021 - 98683024.



====================================================


PMB Roadshow to Panti Asuhan

Jumat, 21 Agustus 2009

Kisi kisi dalam berorganisasi

Ya ALLAH, aku berlindung kepada-Mu, dari menjalani yang sesat atau disesatkan orang, dari tergelincir atau digelincirkan orang, dari berlaku zalim atau dizalimi orang, dan berlaku bodoh atau dari orang yang berlaku bodoh atas diriku. ( HR. Abu Daud )

Sejak di SMA memang saya selalu jadi ketua kelas, tapi tak pernah jadi pengurus OSIS. Waktu jadi mahasiswa, kecuali di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), saya memang pernah jadi anggota pengurus Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) ITB. Selebihnya saya kurang aktiflah berorganisasi, apalagi yang berbau politik. Baru waktu menginjak usia dewasa saya aktif di berbagai organisasi. Sebut saja Asosiasi Perusahaan Nasional Informatika (APNI), Ikatan Pemakai Komputer Indonesia (IPKIN), Information Systems Audit & Control Association (ISACA) Indonesia Chapter, Musyawarah Kekeluargaan Masyarakat Bangka (MKMB), Forum Indonesia Mandiri (FIM), Ikatan Moderator Indonesia (IKAMI) dan terakhir Asosiasi Mediator Indonesia (ASMINDO). Tentu saja sebagai PNS saya pernah jadi anggota GOLKAR, dan berbagai perkumpulan alumni dan profesi seperti PII, ISEI, Alumni ITB, dan Alumni FE UI. Yang ingin saya paparkan adalah ihwal saya yang terkait dengan tiga organisasi saja, yakni PELTI, PMB, dan De’ SENIORS, sebagai berikut : ..........

Selanjutnya klik saja :

Ichjar Musa PMB 1961

Selasa, 18 Agustus 2009

lagu Gaudeamus igitur

Teks yang tertulis di bawah ini merupakan versi Christian Wilhelm Kindleben yang ditulis pada tahun 1781, dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Sebagai catatan, kata antiburschius ("anti-mahasiswa") sebenarnya bukanlah kata asli dari bahasa Latin, melainkan sebuah kata serapan dari bahasa Jerman Bursch atau Bursche, yang berarti "anak muda" atau "mahasiswa".
Ketika dinyanyikan, dua baris pertama dan baris terakhir setiap stanza dinyanyikan secara berulang, sebagai contoh:

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus

Nos habebit humus.

selain itu dalam acara wisuda umumnya lagu ini 'dipersingkat' dengan hanya menyanyikan bait kesatu dan bait keempat saja.
Latin dan Indonesia

Gaudeamus igiturJuvenes dum sumus. Post jucundam juventutem Post molestam senectutem Nos habebit humus.
Mari kita bersenang-senang. elagi masih muda. Setelah masa muda yang penuh keceriaan. Setelah masa tua yang penuh kesukaran. Tanah akan menguasai kita.
Ubi sunt qui ante nosIn mundo fuere?Vadite ad superosTransite in inferosHos si vis videre.
Kemana orang-orang sebelum kita. Yang pernah hidup di dunia ini? Terbanglah ke surga. Terjunlah ke dalam neraka. Bila kau ingin menjumpai mereka
Vita nostra brevis est Brevi finietur. Venit mors velociter Rapit nos atrociter Nemini parcetur.
Hidup kita sangatlah singkat. Berakhir dengan segera. Maut datang dengan cepat. Merenggut kita dengan ganas. Tak seorang pun mampu menghindar
Vivat academia! Vivant professores! Vivat membrum quod libet Vivat membra quae libet Semper sint in flore.
Panjang umur akademi!. Panjang umur para pengajar!. Panjang umur setiap pelajar!. Panjang umur seluruh pelajar! .Semoga mereka terus tumbuh berkembang!
Vivant omnes virgines Faciles, formosae. Vivant et mulieresTenerae, amabilesBonae, laboriosae.
Panjang umur para gadis! Yang sederhana dan elok Juga, hidup para wanita! Yang lembut dan penuh cinta Jujur, pekerja keras

Vivant et res publicaet qui illam regit. Vivat nostra civitas,Maecenatum caritas Quae nos hic protegit.
Hidup negaraku! Dan pemerintahannya. Hidup kota kami! Dan kemurahan hati para dermawan. Yang telah melindungi kami
Pereat tristitia, Pereant osores. Pereat diabolus, Quivis antiburschius A tque irrisores.
Enyahlah kesedihan, Enyahlah kebencian, Enyahlah kejahatan, Dan siapa pun yg anti mahasiswa, Juga mereka yang mencemoh kami

De Brevitate Vitae (Dalam Singkatnya Kehidupan), atau lebih dikenal dengan judul Gaudeamus igitur ("Karenanya marilah kita bergembira") adalah lagu berbahasa Latin yang merupakan lagu komersium akademik dan sering dinyanyikan di berbagai negara Eropa. Di negara-negara Barat, lagu ini dinyanyikan sebagai anthem dalam upacara kelulusan. Melodi lagu ini terinspirasi oleh lagu abad pertengahan, bishop of Bologna ciptaan Strada. Gaudeamus ini pada zaman dahulu di jerman merupakan lagu perjuangan kebebasan akademi.
Liriknya sendiri mencerminkan semangat para pelajar yang tetap semangat meskipun dengan pengetahuan bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan mati, seperti terangkum dalam bait pertama pada baris ke-4 dan yang lebih diperjelas lagi pada isi bait ketiga, yang mengandung arti kesadaran akan dekatnya kematian dengan kehidupan manusia di bumi ini.
Dengan demikian bukanlah sebuah 'ajakan' untuk hidup dalam hedonisme seperti yang sering dituduhkan, hal ini dapat dilihat dari bait kedua dari stanza ini yang secara tersurat dan tersirat berisi pengakuan akan keberadaan alam lain setelah kematian yaitu surga dan neraka
Meskipun sering dipakai sebagai 'lagu pembuka' acara sebelum bersulang, sebagai sebuah kebiasaan di negara-negara Barat untuk merayakan sesuatu dengan minum bir, anggur, atau sampanye sebagai penghangat diri, lagu ini sendiri bukan dimaksudkan untuk mabuk-mabukan namun lebih kepada perayaan atas segala keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, misalnya berhasil menyelesaikan pendidikan. Itulah sebabnya Gaudeamus igitur banyak dipakai di hampir seluruh universitas di dunia dalam acara wisuda.
De Brevitate Vitae dikenal dengan sebutan "Gaudeamus igitur" atau "Gaudeamus", yang merupakan kata pembuka lagu ini. Di Britania Raya, lagu ini juga dikenal sebagai The Gaudie.

Selasa, 04 Agustus 2009

PMB ke gunung Semeru

Acara 17 Agustusan bersama anak-anak dari panti asuhan

Pelepasan Ekspedisi Ke Gunung Semeru PMB-IMADA dari Jl. Merdeka 7 Bandung, 13 Agustus 2009
Kegiatan khusus untuk anak2 panti asuhan, anak2 jalanan dan anak2 yang tidak mampu lainnya

Minggu, 12 Juli 2009

CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK)

Mahasiswa Bandung Kampanye Dukung Cicak Lawan Buaya

Kamis, 16 Juli 2009 | 11:36 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung - Puluhan Mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung, melakukan aksi unjuk rasa menentang pengkerdilan Komisi Pemberantasan Korupsi oleh lembaga lembaga negara dan para koruptor.

"Kekisruhan internal KPK, bukan berarti menjadi alasan untuk mengkerdilkan kerja KPK," ujar Aeng Anwar koordinator aksi dukung KPK di Gedung Sate Bandung. Kamis (16/7).

Para mahasiswa mengkritik ucapan Kabareskrim Komisaris Jenderal Susno Duaji yang menyatakan 'cicak kok melawan buaya'. "Kami masih memerlukan KPK, karena ini lembaga hukum ini sudah terbukti menjerat para koruptur dan menjebloskannya ke penjara."

Aeng menegaskan, meskipun KPK belum bekerja secara maksimal dalam penindakan dan pencegahan korupsi, tapi paling tidak dengan adanya KPK masyarakat lebih optimis pada lembaga pemberantas korupsi dibandingkan lembaga penegak hukum lainnya untuk mengungkap kasus kasus korupsi.

Dalam aksi unjuk rasa para mahasiswa Bandung tersebut, selain melakukan aksi teaterikal juga membagikan stiker yang bergambar cicak dan buaya dan bertuliskan "Saya Cicak Berani Melawan Buaya" serta "Cintai Indonesia Cintai KPK."

"Pengkerdilan dan pembubaran KPK jangan sampai terjadi karena kita masih memerlukan KPK, " ungkap Aeng.
Deklarasi CICAK di Bandung, tanggal 11 Juli 2009, dihalaman sekretariat PMB Jl. Merdeka No 7 Bandung

Dukung KPK Untuk Terus Berantas Korupsi

Dimata Dunia Indonesia termasuk Negara TERKORUP. Ini semua karena pejabat negara yang kehilangan hati dan nurani. Sekarang ditambah pula dengan akan dibubarkannya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tentu keadaan negara ini akan semakin hancur dan berantakan. Beberapa minggu terakhir keluar pula perkataan yang sangat mengkecilkan KPK dengan mengibaratkan KPK dengan CICAK, dan menyebut para pemerintah yang duduk dan korup itu, sebagai BUAYA. Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duaji mengatakan 'Cicak kok melawan buaya' di muat Majalah Tempo 6-12 Juli 2009. Itu artinya KPK telah dikecilkan dan sebentar lagi para pejabat itu akan membubarkannya.

INI TIDAK BOLEH TERJADI...!!!
Mau jadi apa negara Indonesia kita tanpa KPK?

Meski KPK belum bisa bekerja maksimal untuk menangkap para tikus yang menyengsarakan rakyat itu semuanya. Setidaknya ada pengurangan dan ada kegelisahan bagi mereka para kuroptor.

Di Jakarta telah dideklarasikan pada hari Minggu tanggal 12 Juli 2009 sebuah kelompok yang mendukung KPK dengan nama CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK) dan di Bandung pada tanggal 11 Juli 2009 lalu juga diadakan aksi damai ”PMB dukung CICAK” di sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Dan pada hari ini pula kita harus nyatakan ”DUKUNG KPK” bila kita cinta Indonesia.

Anda Koruptor? Jika bukan Koruptor, kita semua harus dukung KPK!!!
Anda Buaya? Jika buka buaya, kita semua harus dukung CICAK!!!
KPK tidak boleh di bubarkan!!!
CICAK BERANI LAWAN BUAYA!!!
CINTA INDONESIA CINTA KPK

Jumat, 12 Juni 2009

SOMAL 1965-2009

Oleh : Momok Sritomo W.Soebroto (GMS 70)
Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL) 12 Juni 1965 - 2009 - Shall We Return?

Banyak diantara kita barangkali yang tidak “ngeh” dengan kata atau istilah SOMAL ini. Sebuah nama yang tidak punya arti apa-apa untuk kondisi sekarang ini; tetapi sejarah politik kemahasiswaan pasti tidak pernah melupakannya. Khususnya bagi mereka yang pernah merasakan hiruk-pikuk dunia kemahasiswaan di saat-saat pertengahan tahun 1965. Ya, hampir 45 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Juni 1965, saat dimana dunia kemahasiswaan mencatat berkumpulnya beberapa organisasi mahasiswa lokal seperti Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB), Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Corpus Studiosorum Bandungense (CSB), Ikatan Mahasiswa Bandung (IMABA), dan Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS) berkumpul dan mendeklarasikan terbentuknya Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL). Selanjutnya ikut bergabung juga Ikatan Mahasiswa Pontianak (IMAPON) dan Ikatan Mahasiswa Yogyakarta (IMAYO). Suasana politik saat itu benar-benar membuat organisasi mahasiswa lokal seperti Imada, PMB, GMS dan lain-lain merasa berkepentingan untuk berhimpun diri, membangun jaringan dan sekaligus kekuatan. Khususnya didasarkan pada kesamaan nasib dan kesamaan garis perjuangan dalam menjaga eksistensi masing-masing yang terancam pada saat politik dicanangkan sebagai panglima.

Tekanan dan suasana politik tahun 60-an benar-benar telah membuat dunia kemahasiswaan menjadi lebih dinamis, meskipun dalam berbagai kasus terus menyeret kampus dan mahasiswa untuk masuk dalam ranah politik praktis. GMS seperti halnya dengan organisasi mahasiswa lokal lain (SOMAL : PMB, CSB, IMADA, MMB, GMS, IMAPON dan IMAYO) yang awalnya lebih banyak bergulat dengan aktivitas seputar dunia kampus mulai menggeliat dan tidak mau ketinggalan didalam pergerakan/ perjuangan di jalanan. Meskipun berbagai seruan “back to campus” telah dikumandangkan sejak lama, namun tidak mudah untuk membawa kembali mereka yang sudah terlanjur menikmati dunia barunya. Ranah politik akhirnya telah memberikan alternatif sebagai pilihan “pengabdian” kepada nusa-bangsa-negara; selain dunia profesi yang terkait dengan bekal keilmuan yang digeluti para aktivis organisasi mahasiswa. Kita telah mencatat beberapa tokoh SOMAL yang pernah memberi warna khas dunia kemahasiswaan, maupun politik saat itu seperti Sarwono Kusumaatmadja (PMB), Rahmat Witoelar (PMB), Moestahid Astari (GMS), Awan Karmawan Burhan (CSB), Lilik Asdjudiredja (IMABA), Sjahrir (IMADA), Marsilam Simandjuntak (IMADA), Erna Walinono (PMB), Trimoelja Darmasetia Soerjadi (GMS), dll.

Adigum yang terkesan heroik “Student today is Leader tomorrow” sangat populer dan sering didengungkan oleh aktivis pergerakan mahasiswa tahun 60-an terus dijadikan sebagai sumber insipirasi bagaimana sebuah organisasi mahasiswa harus dilanggengkan eksistensinya. Sebuah slogan yang sungguh sangat efektif untuk membangkitkan semangat dalam merancang pola kaderisasi. Khususnya pada saat merekrut anggota dan menjaga bagaimana organisasi bisa tumbuh dan berkembang agar tetap survive. Networking yang sangat kuat dengan kawan-kawan yang pernah tergabung dalam SOMAL (PMB, CSB, IMADA, MMB, GMS, IMAPON dan IMAYO) dan dilandasi pula dengan nilai-nilai independensi, pluralisme, non-sektarian, dan lain-lain akan merupakan modal dasar yang sungguh masih sangat relevan dengan tantangan global yang harus dihadapi oleh bangsa sekarang ini. Hal tersebut bisa dijadikan “entry point” yang mampu memberikan daya tarik untuk melakukan revitalisasi dalam kerangka melanjutkan tradisi kepemimpinan SOMAL di dunia kemahasiswaan maupun politik nasional. Kapan lagi kita bisa berkumpul, membangun tali silatuhrahim dalam ikut memberi sumbangan pemikiran dan kontribusi bagi kejayaan almamater, nusa, bangsa dan NKRI.
Semoga Allah SWT memberikan ridhoNya kepada kita semua.