Rabu, 25 Agustus 2010

Oetarjo Diran

sumber : http://www.aerospaceitb.org/?p=125

Oleh Oetarjo Diran *)

Email ini ditulis untuk membalas pernyataan Pak Widjaja Sekar tentang prestasi Pak Diran, sebagai salah satu pelopor aerodinamika transonik, di Eropa.

Sorry akan mengambil waktu anda. Namun, email anda mengembalikan saya pada masa muda kira-kira 40 hingga 50 tahun yang lalu, ketika saya bermukim di Dritterheimat, yakni Jerman. Zweiter heimat adalah Nederland, Erster heimat adalah Indonesia.

Ya, saya ingat pada waktu itu saya baru tiba di Jerman bulan Desember 1968. Sebagai orang yang sudah sepuluh tahun di Indonesia, saya harus bekerja agak keras untuk membuktikan bahwa saya masih dapat berprestasi melawan kompetisi profesional Jerman yang pada umumnya jauh lebih muda dan baru lulus dari universitas. Pada umumnya pengetahuan dan kemampuan mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang sepuluh tahun hidup sebagai dosen (dan peneliti?) di Indonesia, yang ketika itu tidak kondusif untuk pengembangan profesionalismenya. Dus, saya harus membuktikan dan menghasilkan apa yang diharapkan perusahaan dari saya. Saya ditempatkan dalam kelompok aerodinamika teoretikal di Blohm-und-Voss, dekat sungai Elba yang tertutup es pada bulan-bulan musim dingin.

Teman-teman di bidang aerodinamika pesawat udara ternyata masih mempergunakan metoda pendekatan yang kebetulan saya masih fahami dan kuasai. Namun, saya belum memiliki pengalaman menerapkan langsung dalam aeronautika aerodinamika industri. Saya beruntung bekerja dibawah Dr Seeler, seumuran saya, yang mengerti kesulitan yang saya hadapi. Dr Seeler memberi kesempatan saya untuk melakukan penelitian apa saja yang saya nilai berguna untuk program Messerschitt-Boelkow-Blohm, Gmbh saat itu. (MBB, perusahaan merger Messerschmitt, Boelkow, dan Blohm). Perlu dicatat bahwa saat itu ada program internasional, antara Jerman, Inggris dan Perancis untuk membuat pesawat Airbus 300.

Saya amati bahwa pada umumnya teman-teman di sana tidak terlalu banyak membaca jurnal-jurnal dalam bahasa Inggris. Dus, untuk tidak secara konfrotatif melawan teman-teman Jerman dalam bidang-bidang yang mereka kuasai, saya masuk ke perpustakaan selama kurang lebih satu bulan untuk membaca semua jurnal dari luar Jerman (USA, Perancis, Inggeris dan Belanda). Saya menemukan bahwa industri penerbangan Jerman belum melakukan atau belum tertarik pada studi atau aplikasi ilmu-ilmu profil transonik and sayap, khususnya shock-free transonic profiles
(profil transonik bebas kejut) atau supercritical profiles (profil superkritis). Setelah kurang lebih satu bulan saya kembali ke Dr Seeler dengan proposal membuat program numerik perancangan 2-D supercritical profiles yang makalah ilmiahnya dikembangan oleh seorang Amerika (maaf lupa namanya dan dalam saya tidak dapat temukan dalam gudang dokumentasi saya).

Pada saat itu MBB sedang tergiur memanfaatkan komputer besar yang masih menggunakan computer input cards di jaman komputer ‘Jurassic’. Proposal proyek saya diterima, dana riset dicarikan dan sisanya adalah sejarah.

Saya memperoleh sejumlah profil 2-D secara numerikal yang dibuktikan memang tidak menghasilkan gelombang kejut transonik pada saat mendekati Mach 1. Perlu dicatat bahwa pada saat itu profil transonik tidak dapat dirancang secara kontinu dengan perubahan parameter profil (sudut ekor, bentuk lengkung, ketebalan, diameter hidung). Solusi
hanya dapat diperoleh dengan menemukan kombinasi yang tepat dengan pengamatan dan pendekatan rasional. Saya sangat beruntung dapat menemukan sejumlah profil superkritis yang kemudian dipergunakan MBB dalam program perancangan sayap Airbus A300. Kemudian, saya diberi tanggungjawab menjadi kepala bagian aerodinamika transonik yang pertama kali dibentuk di MBB di Hamburg. Sebagai kepala kelompok ini saya sangat beruntung diikutsertakan dalam tim perancangan pesawat Airbus A300, meskipun desain yang terpilih bukan desain Jerman tetapi desain Inggris.

Kemudian saya ditantang lagi oleh Dr Seeler untuk mempelajari apa yang dilakukan kelompok Dr Habibie (yang sedang mengembangkan metoda finite element method) disamping memimpin kelompok saya mengembangkan finite
element method untuk konfigurasi subsonik 3-D, khususnya sayap. Dr Seeler memberikan satu makalah dari USA yang dibuat oleh A.M.O. Smith, dan satu makalah seminar dari J. Slooff (dari NLR Belanda, yang kemudian menjadi teman dekat saya, dan menjadi pembimbing Dr Bambang I. Sumarwoto beberapa dekade kemudian).

Program ini adalah apa yang dikenal sebagai finite panel method, berdasarkan atas algoritma yang sederhana and elegan. Perlu dicatat bahwa program-program ini sangat dirahasiakan oleh masing-masing perusahaan karena persaingan. Namun Slooff dan saya bermufakat untuk berfikir sebagai ilmuwan, dan melakukan pertukaran fikiran melalui masalah optimisasi algoritma program. Saya akui bahwa saya lebih banyak memperoleh ilmu dari Slooff daripada sebaliknya. Program yang saya kembangkan tidak selincah program Slooff, tetapi program itu merupakan dasar keputusan MBB untuk mengembangkannya juga. Alasan khususnya karena saat itu perang di Vietnam memerlukan perhitungan-perhitungan aerodinamika pesawat yang rusak (berlubang-lubang karena ledakan tembakan anti-aircraft dari Vietcong). Program MBB sangat rahasia, dan ketika sukses, hasilnya diserahkan kepada NATO. Saya kehilangan kontak karena saya tidak memiliki security level yang cukup tinggi.

Perlu dicatat bahwa saya membawa pulang algoritma dan hasil cetak Program 3-D finite panel methods yang kemudian terus dikembangkan dalam rangka tugas sarjana. Program komputer ini pertama kali dikerjakan oleh (almarhum) Profesor Said D. Jenie. Beliau mengalami kesulitan karena keterbatasan komputer IBM yang dimiliki ITB saat itu.
Hal ini memerlukan intervensi saya, dan saya kemudian membangun kerjasama dengan IBM Jakarta dan Pertamina supaya akhirnya Pak Said dapat menyelesaikan program komputer dan studinya. Untuk itu Said Jenie terpaksa pulang pergi Jakarta – Bandung untuk memakai komputer IBM dan Pertamina.

Pada akhir tahun 70an, tongkat estafet saya serahkan kepada Ir Jusman SD (bekas Dirut Garuda) dan Ir Agung Nugroho (bekas Direktur Teknologi IPTN) yang juga berhasil lulus dari cengkeraman studi teknik penerbangan dengan penyelesaian program finite panel method 3-D dinamakan program Jusman-Agung. Program Jusman-Agung ini dipergunakan dalam perancangan pesawat CN235. Bahkan karena ada ketentuan risk
sharing contract dengan CASA Spanyol maka program Jusman-Nugroho ini ”diekspor” ke CASA Spanyol.

Yang masih saya sayangkan adalah tidak ada lagi pengembangan finite panel method ini untuk viscous subsonic flows yang saya baca dari paper-paper akhir-akhir ini. Mungkin peluang pengembangannya akan ada dengan dikembangkannya pesawat 19 penumpang di PTDI?

Waktu itu sudah tahun 1972 dan istri saya mulai mendeteksi perasaan gelisah dalam diri saya. Beliau menanyakan apakah saya merasakan heimweh (rindu kampung halaman). Saya tidak sadar akan perubahan sikap saya tadi. Namun, mungkin saya hanya merasa bersalah melawan tiga kriteria saya sebagai dosen PNS: tiga id, yaitu ikatan dinas, idealist, idiot atau kombinasi dari ketiga id tadi.

Akhirnya saya kembali ke kampus (belum ada laptop saat itu!). Tetapi itu adalah cerita lain.

Maaf atas kesabaran anda bila anda sampai pada kalimat terakhir ini, dan waktu berharga yang anda habiskan hanya untuk nostalgia warga, eks-PNS, eks-dosen ITB yang sekarang bermukim di desa metropolitan (Jakarta) yang berhasrat menjadi international “car-and-water flooded” metropolitan.

Jakarta, 24 Agustus 2010

*) Prof. H. Oetarjo Diran, Vi. adalah guru besar Teknik Penerbangan
ITB, mantan ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
*) Anggota PMB angkatan 1952

ke Panti Asuhan Ramadhan


Diakhiri dengan buka bersama

Bingkisan untuk Panti Asuhan

Bingkisan untuk Panti Asuhan

Bingkisan untuk Panti Asuhan

Foto bareng dengan anak-anak Panti Asuhan

Keliling 15 Panti Asuhan di Bandung

Senin, 09 Agustus 2010

Forum Indonesia Sejahtera

Seputar Nusantara. 19 Juli 2010.


FIS ( Forum Indonesia Sejahtera ) mengusulkan kepada Presiden SBY, DPR dan DPD RI, untuk segera menghapuskan otonomi ditingkat Kabupaten dan memberlakukan otonomi hanya di tingkat Propinsi dan kota- kota yang mampu membiayai dirinya sendiri. Usulan FIS ini merupakan alternatif atas wacana yang menginginkan Gubernur ditunjuk langsung oleh Presiden dan atau dipilih oleh DPRD Propinsi. ” Menjadikan Gubernur ditunjuk langsung oleh Presiden dan atau dipilih oleh DPRD Propinsi, menurut pendapat kami tidak akan menyelesaikan akar permasalahan otonomi kita,” kata Ketua Presidium FIS Hendarmin Ranadireksa didampingi beberapa anggota Presidium Forum itu di Jakarta, Senin 19 Juli 2010.Akar permasalahan otonomi daerah kita, menurut FIS, adalah gabungan antara mandulnya kekuasaan Gubernur yang wilayah kekuasaannya telah habis dibagikan kepada para Bupati, serta terlalu besarnya wewenang Bupati dalam mengatur Kabupatennya.

Salah satu akibatnya adalah demi mengejar PAD ( Pendapatan Asli Daerah ), pembangunan daerah berjalan “kebablasan” tanpa mempertimbangkan keterpaduan pembangunan intra- Propinsi, dan mengorbankan kelestarian lingkungan. Kekuasaan besar yang dimiliki oleh Bupati, telah pula melahirkan fenomena “Raja-Raja Kecil” yang meluaskan praktek kotor KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ) sampai ke tingkat Kabupaten.

Karena itu FIS mengusulkan solusi untuk mengatasi akar permasalahan Otonomi Daerah dengan memberlakukan otonomi hanya di tingkat Propinsi saja dan kota- kota yang mampu membiayai dirinya sendiri. Hal ini selain akan meluruskan tata kelola pemerintahan dan jalannya pembangunan, sekaligus akan mengakhiri pemborosan anggaran negara untuk mengongkosi banyak Pilkada di negara Indonesia.

Untuk diketahui, dalam setiap kurun waktu 5 tahun, di Indonesia berlangsung 373 Pilkada Bupati dan 373 Pileg DPRD Kabupaten, 87 Pilkada Walikota dan 87 Pileg DPRD Kota, serta 33 Pilkada Gubernur dan 33 Pileg DPRD tingkat Propinsi. Hal ini, menurut Organisasi FIS yang beranggotakan aktivis dari Jakarta- Bandung dan Surabaya itu, jelas merupakan pemborosan yang sangat sia- sia.

Pangkas Rantai Birokrasi

Lebih lanjut FIS mengajak masyarakat mempertimbangkan norma lazim di negara Demokrasi manapun di dunia ini, dimana otonomi hanya diberikan pada tingkat Propinsi ( atau negara bagian ) dan kota- kota yang dapat membiayai dirinya sendiri. Tujuannya : agar selain Propinsi dapat mengoptimalkan potensi wilayahnya (yang terdiri dari Kabupaten dan Kota), otonomi tersebut hendaknya menjadi bagian integral dari tata kelola pemerintahan yang efektif dan efisien dari pusat ke daerah.

Kemudian lanjut FIS, rantai Birokrasipun akan lebih pendek. Tidak seperti sekarang, calon investor yang ingin berbisnis di daerah harus menghadapi rantai perijinan panjang yang menghabiskan waktu dan biaya. Otonomi yang diberlakukan hanya di tingkat Propinsi, menurut FIS akan memangkas rantai Birokrasi yang selama ini panjang dan boros itu.

FIS sangat menyayangkan, pemerintah membutakan diri terhadap kekeliruan Otda yang menyebabkan fungsi Gubernur ter-eliminasi secara legal. Jika gagasan Gubernur ditunjuk langsung oleh Presiden dan atau dipilih oleh DPRD Propinsi disetujui, FIS yakin pemerintahan Propinsi akan semakin memburuk dan taruhannya adalah kesejahteraan rakyat. Sekarang saja kendati telah dipilih rakyat langsung, Gubernur tidak dapat menjalankan fungsi yang semestinya, apalagi jika Gubernur tidak legitimate. Demikian Forum Indonesia Sejahtera ( FIS ) mengakhiri pernyataannya. ( Aziz )

Hendarmin Ranadireksa PMB 1962

Senin, 21 Juni 2010

Balas Budi 2010



KUNJUNGAN GEDUNG TUA, VIDEO DOKUMENTER, LOMBA & PAMERAN PHOTOGRAPHY




Selasa, 08 Juni 2010

Anggota PMB yang dipecat

Nurul Hamama PMB 1997
Ilham Budhi Silalahi PMB 1991
--------------------------------
Mereka suami istri, dipecat dari keanggotaan PMB, karena telah membawa kabur uang organisasi.

Rabu, 19 Mei 2010

PMB Trip To Yogya Mei 2010

Pawai andong menuju Kraton Yogyakarta

Bersama Sultan Hamengkubowono X
Prambanan diwaktu malam
Panitia PMB Trip To Yogya
Acara Kroeg di Prambanan
Berfose di Kali Adem

------------------------------
Sambutan PMB saat bertemu Sri Sultan Hamengkubowono X

Bapak Hamengkubuwono X yth dan hadirin yang mulia.
Sebagai organisasi mahasiswa lokal, Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), yang didirikan pada 17 Maret 1948, pada mulanya adalah wadah kegiatan bersifat nasional yang berciri lokal untuk tetap berjuang mengisi kemerdekaan negara Republik Indonesia walaupun berbeda-beda tetap satu bangsa.
Selain berjuang secara fisik juga diimbangi dengan kegiatan intelektual kemahasiswaan berlandaskan pada kebijaksaaan lokal (local genius, local wisdom) Jawa Barat maupun beragam sifat dari anggota-anggotanya yang beragam suku dan asalnya (Sunda, Jawa, Minang/Melayu dan lain-lain)
Setelah menjalani waktu pertumbuhan dan perkembangnya selama dua dekade, PMB dan juga beberapa organisasi lokal lainnya ( di Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak dan Bandung sendiri) dengan masing-masing "local wisdom"nya bergabung dalam Sekertariat Bersama dengan nama SOMAL, pada masa kritis bangsa kita tahun 1965/1966 terus berjuang untuk perbaikan kehidupan kita berbangsa hingga kini.
Berdasarkan hal-hal tadi, kiranya Bapak Hamengkubuwono X pada kesempatan yang berbahagia ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua yang hadir malam ini. Yang berdasarkan kearifan lokal bangsa kita dapat dapat terus berjuang mensejahterakan bangsa ini dengan dukungan kebijakan lokal kita masing-masing, menjaga keutuhan dan kesinambungan NKRI yang beragam ini.
Demikianlah adanya, semoga kunjungan kami ini mendapatkan manfaat bersama kita semua, kami dan juga anak-anak muda yang akan mengisi masa depannya dan masa depan bangsa

Yogyakarta, 14 Mei 2010

Dedi Krisna Ketua senat PMB 1961

Senin, 19 April 2010

SOMAL (sekretariat bersama organisasi mahasiswa lokal)


Berdiri karena Isu
SOMAL, Riwayatmu ini

“Bubarkan organisasi-organisasi mahasiswa yang tak berinduk” atau “Bubarkan HMI”, demikian pernyataan yang sering dilontarkan oleh kubu organisasi mahasiswa dengan orientasi Komunis yang mendominasi PPMI (Perhimpunan Perserikatan Mahasiswa Indonesia) sebagai satu-satunya wadah organisasi ekstra universiter. Selain menyerang HMI, CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia) dan kawan-kawannya dalam PPMI juga menebar permusuhan dengan menyebut organisasi-organisasi mahasiswa lokal sebagai “organisasi pesta, banci, rasialis, manikebuis, borjuis”. Sadar akan bahaya besar yang menghadang, maka dalam sebuah acara bersama IMADA dan PMB di Lido – Sukabumi pada 25-27 Desember 1964, yang juga dihadiri IMABA di sela-sela pertemuan melakukan pembicaraan guna menyikapi gerakan-gerakan yang tengah dilancarkan CGMI cs. Pertemuan Lido menghasilkan kesamaan pendapat bahwa : organisasi-organisasi mahasiswa local harus bersatu. Pertemuan juga sepakat akan membicarakan lebih lanjut tentang bentuk persatuan tersebut dalam pertemuan berikutnya.

Situasi dan kondisi dunia kemahasiswaan dan politik semakin gawat dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, di sela-sela kegiatan pertandingan renang yang digelar oleh IMABA, CSB, PMB, IMADA, HMB (Himpunan Mahasiswa Bandung) dan Tirta Merta pada 23 - 24 April 1965 di Pemandian Centrum Bandung, kembali dilakukan pertemuan dengan pembicaraan yang lebih serius. Melalui diskusi yang cukup panjang di mana HMB berhadapan dengan peserta lainnya namun berhasil disepakati konsep Deklarasi. Deklarasi yang memberikan pengertian kepada anggota-anggotanya khususnya dan pemuda/mahasiswa Indonesia umumnya bahwa : pemuda-pemuda Indonesia adalah heroik, progresif, revolusioner dan tidak boleh membedakan hak serta kewajiban atas dasar golongan, keturunan, daerah, kepercayaan dalam mengemban amanat penderitaan rakyat. Deklarasi hanya ditandatangani oleh CSB, IMABA. IMADA dan PMB, karena HMB tidak hadir kembali pada saat penandatanganan.

Konsolidasi terus dilakukan sebagai upaya untuk lebih meningkatkan persatuan di antara organisasi-organisasi mahasiswa lokal. Pertemuan yang dihadiri CSB, GMD, HMB, IMADA, IMABA, MMB dan PMB kembali digelar di Bandung bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1965. Dengan mengalami beberapa hambatan serta keterbatasan waktu maka dengan segala kekurangan yang ada berhasil membuat Pernyataan Bersama yang isinya antara lain menyatakan bahwa : Di dalam menuju masyarakat sosialis Indonesia, setiap mahasiswa harus lebih giat menyumbangkan tenaga dan pikirannya di berbagai bidang dan berusaha sekuat mungkin menggalang persatuan yang progresif revolusioner dengan bertindak secara pandai dalam menyelesaikan kontradiksi yang ada di kalangan organisasi mahasiswa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Pernyataan Bersama ini merupakan hasil maksimal yang bisa dibuat dengan waktu yang sangat sempit, karena itu pertemuan sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan. Disepakati MMB (Masyarakat Mahasiswa Bogor) sebagi tuan rumah dan mengusahakan agar dapat mengikutsertakan GMS (Gerakan Mahasiswa Surabaya).

Bogor 30 Mei 1965, di salah satu ruang kuliah di kampus IPB (Institut Pertanian Bogor), berkumpullah dengan lengkap seluruh organisasi-organisasi mahasiswa lokal yang menjadi anggota PPMI dari Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya. Utusan-utusan yang terdiri dari tokoh-tokoh kuat di kalangan kemahasiswaan saat itu menyebabkan pertemuan berjalan sengit dan alot dalam mengambil atau membuat permufakatan. Permufakatan yang salah satunya menyatakan bahwa : Perlu segera diadakan Kongres PPMI yang ke-6 untuk menampilkan organisasi-organisasi massa mahasiswa di Indonesia. GMD (Gerakan Mahasiswa Djakarta) dan HMB tidak menandatangani permufakatan ini karena perbedaan prinsip. Yang akhirnya menghadapkan GMD dan HMB di satu kubu dengan CSB, IMABA, IMADA, MMB, GMS dan PMB di kubu lainnya. Pertemuan lanjutan dirancang dan memutuskan GMD sebagai tuan rumah.

Jakarta 12 Juni 1965, pertemuan kembali dilanjutkan, sama seperti pertemuan Bogor 30 Mei 1965 pertemuan berlangsung sengit dan alot. GMD dan HMB berupaya menarik GMS ke dalam kubu mereka, namun gagal. Kubu ini tetap berkeras untuk tidak dapat menyatukan diri dengan organisasi-organisasi lokal lainnya. Alasannya, organisasi-organisasi tersebut belum tegas pendiriannya dalam persoalan manikebu, rasialisme, kontrarevolusi dan lain-lain. Gagal bersatu dengan GMD dan HMB bukan berarti “jalan buntu” untuk mempersatukan organisasi-organisasi mahasiswa lokal. Pertemuan dilanjutkan di Jalan Palem No. 45 Menteng (sekarang Jl. Suwiryo). Di tempat ini sebuah press-release Pernyataan Bersama yang pada hakikatnya untuk menegakkan prinsip kerjasama antara organisasi-organisasi mahasiswa lokal yang didasarkan atas persamaan sifat dan perjuangan yaitu kesediaan meletakan kesetiaan selaku warganegara Indonesia kepada Bangsa dan Negara Indonesia dan bukan kepada diri sendiri dan/atau golongan-golongan. Pernyataan Bersama ditandatangani oleh Corpus Studiosorum Bandungense (CSB), Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS), Ikatan Mahasiswa Bandung (IMABA), Masyarakat Mahasiswa Bogor (MMB), Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA). Dan saat itu pula SOMAL (Sekretariat bersama Organisasi Mahasiswa Lokal) resmi berdiri.

Beberapa bulan setelah SOMAL berdiri, 30 September 1965 terjadilah peristiwa G-30-S PKI, kemelut politik menjadi lebih jelas siapa melawan siapa. Ketika seluruh elemen masyarakat mengutuk peristiwa tersebut, PPMI yang didominasi oleh CGMI justru berdiam diri bahkan seolah-olah melindungi tokoh-tokoh yang terlibat G-30-S PKI. Melihat sikap PPMI terhadap peristiwa ini, SOMAL melalui wakilnya PMB dan MM yang mempunyai 6 suara, kembali mendesak agar segera diadakan Kongres ke-6. 12 Oktober 1965, dalam pertemuan terakhir SOMAL dengan Presidium PPMI, kembali mendesak dan mengancam jika Kongres ke-6 tak dilaksanakan PPMI, maka SOMAL akan melaksanakannya. Namun ancaman tersebut tak digubris sama sekali oleh Presidium PPMI. 20 Oktober 1965, secara tiba-tiba SOMAL dipanggil oleh Menteri PTIP (Perguruan Tinggi Ilmu Pengetahuan), yang menyarankan agar SOMAL tidak berkeras untuk melaksanakan Kongres ke-6, dan SOMAL tetap pada pendiriannya. Jalan buntu dalam pertemuan hari itu, Menteri PTIP mengusulkan untuk mengadakan pertemuan lanjutan. 25 Oktober 1965 di Jl. Imam Bonjol 24 Jakarta Pusat (kediaman Menteri PTIP dr. Syarif Thayeb), SOMAL dan Organisasi Mahasiswa Ekstra Universiter dari Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya melakukan pertemuan lanjutan. Perdebatan panjang dan sengit terjadi antara kubu yang mempertahankan dan kubu yang menganggap PPMI telah “lapuk” (SOMAL cs). Tak ada kesepakatan dalam pertemuan, jalan kembali buntu, SOMAL dan Organisasi Mahasiswa yang menganggap PPMI telah “lapuk” pada hari itu memprakarsai dan mendeklarasikan berdirinya K.A.M.I. (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai wadah baru Organisasi Mahasiswa.

Dalam 18 tahun (1965 – 1983) perjalanannya, SOMAL banyak memberikan kontribusi bagi kehidupan kemahasiswaan, pendidikan serta politik di negeri ini. Setelah itu SOMAL 27 tahun tidur pulas (1983 – 2010), lebih panjang dari masa sadarnya, dan tak lagi peduli tentang Pernyataan Bersama atau Deklarasi. SOMAL tak punya peran serta sentuhan dalam pergolakan mahasiswa ketika melakukan perubahan-perubahan di negeri ini dalam upaya penegakan demokrasi. Jika berdiri karena isu maka mungkinkah dibangkitkan dengan isu? Di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, kita kerap disuguhkan berita tentang sepak terjang Mahasiswa Indonesia saat ini. Apa yang terjadi di Makassar, Jambi dan di Sekolah Tinggi Agama Kristen Ambon adalah tindak kekerasan yang sama sekali jauh dari citra mahasiswa sebagai calon intelektual. Apakah peran Perguruan Tinggi telah bergeser, karena dari serentetan kejadian tersebut maka Perguruan Tinggi hanya akan menghasilkan generasi muda pemberang dan petarung hebat. Mungkinkah situasi ini sanggup menggetarkan nurani generasi muda SOMAL dan membangkitkan dari tidur pulasnya? Jika mungkin, maka siapa yang pantas membangkitkannya?

VIVAT Academia, VIVAT Profesores, VIVAT SOMAL !!!

Chossie (IMADA 2446/Thn. 1974)
Ketua Umum BP IMADA 1976 – 1977
Sek. Jend. SOMAL 1979 - 1980

Sumber bacaan:
1. Djoni Sunarja Hardjadsumantri, “SEJARAH BERDIRINYA SOMAL, Mengapa Dan Untuk Apa SOMAL Berdiri?”, dalam Buku, Pesta, Cinta & Karya; IMADA 50 Tahun, IMADA, Jakarta,, 2005.
2. Yozar Anwar, Angkatan 66; Sebuah Catatan Harian Mahasiswa, Penerbit Sinar Harapan, Cetakan pertama, Jakarta 1980.
3. Yozar Anwar, PROTES KAUM MUDA!, Penerbit PT. Variasi Jaya, Jakarta, Cetakan Pertama, April 19