Kamis, 09 Juni 2011

Perploncoan 2011 (foto)



KABARET
Penyongsong fajar (pembagian emblim)

Inaugurasi PMB 2011

Plonco .. lagi karaoke
Republika, 9 Juli 2011
Nightmare di Kuburan Pandu
Malam Kabaret 5 Juli 2011
Malam Kabaret 5 Juli 2011
Didepan Gedung Merdeka

Diskusi SOMAL 3 Juli 2011

Lelang nama 2 Juli 2011

Acara pembukaan 1 Juli 2011
Persiapan acara pembukaan 1 Juli 2011


Minggu, 22 Mei 2011

20 Mei 2011



Reformasi tidak Gagal, tapi Diselewengkan

JAKARTA--MICOM: Tiga belas tahun reformasi ternyata tidak membuat perubahan yang berarti bagi negeri ini, pejabat-pejabat yang diamanatkan untuk menjalankan agenda reformasi dituding tidak mampu dan telah meyimpang dari apa yang dicita-citakan para pengusung gerakan reformasi.

"Saya kecewa dengan pernyataan bahwa reformasi itu gagal, sebenarnya tidak gagal tetapi belum tuntas, situasi yang saat ini terjadi karena adanya pengkhianat-pengkhianat reformasi yang menyelewengkan agenda reformasi," ujar Dedi Uu Arianto, aktivis gerakan 1998 yang juga alumnus kampus trisakti disela-sela orasi politik oleh alumni komunitas mahasiswa 1998 dengan tema 'Menggugat Arah Reformasi' di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Sabtu (21/5).

Pada gerakan mahasiswa 1998, mahasiswa menyuarakan beberapa tuntutan sebagai agenda awal reformasi, di antaranya: Turunkan Harga, Mengadili Soeharto dan Antek-anteknya, Menangkap dan Mengadili Pelaku Pelanggaran HAM, Memberantas Korupsi-Kolusi-Nepotisme, Mencabut Dwifungsi ABRI, dan Pembatasan Masa Jabatan Presiden.

Tuntutan tersebut dilakukan karena para aktivis penggagas reformasi 1998 melihat kondisi negara yang waktu itu berada pada titik nadir krisis total nasional. Mereka menganggap semua itu dapat diperbaiki dengan melakukan reformasi total.

Tetapi, setelah tiga belas tahun reformasi berlangsung, para aktivitis ini melihat situasi nasional Indonesia saat ini maupun peranan Indonesia dalam percaturan-percaturan bangsa di dunia tidaklah menunjukkan ke arah yang lebih baik.

Mereka menyatakan perkembangan republik ini semakin buruk bahkan mengarah pada situasi krisis nasional seperti pada tiga belas tahun yang lalu.

"Rezim telah berganti, pimpinan juga berganti, tetapi perubahan tidak ada. Artinya, ketika perubahan tidak ada, bukan gerakan reformasi yang salah. Tetapi, reformasi telah dibajak kekuatan-kekuatan yang ternyata masih bagian antek-antek Orde Baru,” papar koordinator aksi orasi Joni Sujarman.

Tidak hanya itu, para aktivis 98 melihat partai-partai politik dipandang tidak mewakili rakyat, mereka secara kasar dan terang-terangan hanya menjadi mesin kepentingan kelompok-kelompok tertentu masyarakat khususnya kelompok pelaku ekonomi. Melalui wakil-wakilnya di fraksi DPR, partai politik justru berlomba untuk mencari mesin uang partai yang bertujuan untuk mengisi kas partai guna mendanai agenda lima tahunan dan lagi-lagi rakyat sebagai objeknya.

Oleh karena itu, mereka mengingatkan kepada penyelenggara negara saat ini baik lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif bahwa penyelewengan reformasi telah menyeret bangsa ini ke lembah kekacauan dan mendorong terciptanya situasi pergolakan baru di semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. (*OL-11)

Minggu, 22 Mei 2011 01:33 WIB

Selasa, 03 Mei 2011

Futsal Tournament

Juara I : Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Gunung Jati
Juara II : Zets United (Gabungan dari beberapa kampus)
Juara III : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)






Senin, 02 Mei 2011

Masa Penerimaan Anggota Baru 2011

Lagu Indonesia Raya .. 29 Juni 2011, saat acara Open House MPAB 2011

Tumpengan MPAB 2011
Tumpengan MPAB 2011
Tumpengan MPAB 2011 di Breeze Cafe jl. Cipaku
Promosi MPAB 2011
Promosi MPAB 2011
Tim Promosi MPAB 2011


Minggu, 17 April 2011

Kroeg 87888990919293

Alam
Kebersamaan
Perkebunan teh Ciwidey
Tua muda bersama, bergabung
Nostalgia saat jadi plonco
Sponsor NESLITE

Minggu, 03 April 2011

Dari Acara LTC PMB 2011


Panita dan sebagian peserta
Acara dinamika kelompok
Bersama Sudjana Sapi'ie PMB 1951
Berpose bersama Sarwono Kusumaatmadja PMB 1963

Rabu, 16 Maret 2011

Foto dalam berita ..


Beberapa waktu yang lalu di Papua



Pancagila di REPUBLIKA 18 Juni 2011, hal 20.
PANCASILA

Berbagai pihak menuding banyak anak muda tak hafal Pancasila. Tapi, menurut pemasang baliho ini, banyak pejabat yang tak melaksanakan Pancasila, karena tergila-gila oleh nafsu kekuasaan. Tiga mahasiswa Bandung ini pun memasang baliho Pancagila. Baliho dipasang di depan sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Jl Merdeka Bandung.
Dipasang didepan Sekretariat PMB, Jl. Merdeka No 7 Bandung
16 Juni 2011

Pembagian Sembako tahun 1998, di Sekretariat PMB jl. Merdeka no 7 Bandung

Aktifitas Sosial bersama Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala, Asgar Jaya, BBC dan PMB
Mei 2011


Budi Hubudi PMB 1972



Kaos * TAK SUDI DIPIMPIN MANTAN NAPI KORU"PSSI" *
==========================



Minggu, 06 Maret 2011

Iwan Abdulrachman PMB 1965

Mendengarkan Abah Iwan

Oleh Priyantono Oemar

----

Di rubrik ini, berkali-kita kali menikmati alam, pegunungan, dan kafe. Bolehlah kali ini kita menikmati pesan-pesan dari orang yang biasa ke gunung. Menyimak lagunya, menyimak pesannya. Lagu dan pesan yang diberikan oleh Iwan Abdulrahman, akrab dipanggil Abah Iwan.

------

Menyimak omongan Abah Iwan (63 tahun), kita bisa memahami tindakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selalu menegur orang yang tidur ketika ia sedang berpidato. Ngobrol santai sebelum pentas ‘’Dongeng Kebangsaan’’, Abah Iwan berbicara tentang pengendalian diri dan kekuatan mendengarkan.

Salah satu latihan pengendalian diri adalah menahan menguap ketika orang lain sedang berbicara. Menguap saja tidak dianjurkan, apalagi tidur. Di militer, Yudhoyono tentu mendapat pelatihan nahan nguap itu.

‘’Nahan nguap? Bisa?’’ tanya saya.

‘’Bisa. Meski air mata sampai keluar,’’ jawab Abah Iwan.

Menurut dia, bahkan menutup mulut saat menguap pun tak diperbolehkan. Jadi, harus benar-benar menahan untuk tidak menguap. Posisi mulut meski tertutup, tapi kalau ada gerakan rahang ke bawah, juga tidak diperkenankan. Benar-benar harus menahan menguap dengan posisi mulut tidak sedang menguap atau menahan menguap.

Ketika hendak menguap, udara tetap disalurkan melalui hidung, tidak melalui mulut. Menahan menguap adalah salah satu cara menghormati orang yang sedang berbicara di hadapan kita.

Isi omongan itu, ia ulang di depan para peserta pelatihan kepemimpinan yang diadakan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) lewat ‘’Dongeng Kebangsaan’’. ‘’Kita harus bisa mengendalikan diri di saat alam mengajak terhanyut. Itu yang disebut pemimpin,’’ ujar Abah Iwan.

Tidak hanyut, juga ditekankan Abah Iwan saat ia mengajak berlatih mendengarkan. Ia memutar lagu ‘’Spanish Harlem’’-nya Ben E King.

‘’Coba dengarkan,’’ pinta dia. ‘’Ada bas,’’ lanjutnya. ‘’Jangan hanyut pada lagunya.’’ Mengikuti terus alunan lagu, ia kemudian menyebut satu per satu suara yang ada di lagu itu.

Ia mendapat pelatihan mendengarkan saat mengikuti pelatihan Long Range Patrol di Long Range Patrol School Alabama, Amerika Serikat, pada 1986, bersama tentara dari berbagai negara. Setelah mendengarkan lagu, peserta latihan Long Range Patrol diminta ke luar untuk mendengarkan suara angin.

Iwan menyebut berlatih mendengar adalah hal yang sangat diperlukan. Dengan mendengar, kita bisa mendapat banyak hal. Karena, dengan mendengar, kita tidak fokus pada diri kita, melainkan fokus pada yang berada di luar diri kita. ‘’Latihan mendengarkan adalah mengendalikan diri sendiri. Ada trickle down effect pada mental kita,’’ ujar dia.

Perhatikan orang lain

Suka mendaki gunung, Abah Iwan tentu sudah banyak belajar mendengarkan dan mengendalikan diri. Ketika ia di rig pada 1984 misalnya, ia bisa mendengarkan burung camar bernyanyi gembira di atas laut lepas. Di langit burung camar bergembira, di lautan, nelayan nelangsa.

Anggota Wanadri ini bercerita tentang banyaknya makanan di rig yang tak selalu habis dimakan. Tapi, pekerja tak boleh membawanya dari ruang makan. Makanan tak habis, aturannya harus dibuang, tapi di ujung lautan, terlihat perahu nelayan sendirian ditemani sepi selama tiga malam dan tanpa makan yang berkecukupan. Ia pun menyanyi.

Tiba-tiba ‘ku tertegun lubuk hatiku tersentuh

Perahu kecil terayun nelayan tua di sana

Tiga malam bulan t’lah menghilang

Langit sepi walau tak bermega

Ironi ini dicatat Abah Iwan dalam syair lagu ‘’Burung Camar’’. Musiknya digarap oleh Aryono Huboyo Djati, kemudian oleh Vina Panduwinata dinyanyikan di festival di Tokyo pada 1985. Menang.

Burung camar, tinggi melayang

bersahutan di balik awan

Kini membawa anganku yang tadi melayang

Jatuh dia dekat di kakiku

Ironi yang masih ada di sekitar kita. ‘’Kalian di sini berlatih kepemimpinan, 100 meter dari sini, di luar sana, banyak yang tak punya makanan,’’ kata Abah Iwan di sela nyanyiannya. ‘’Ayah saya bilang, Iwan jangan khawatir. Rakyat kecil kita sudah teruji oleh zaman. Mereka sudah terbiasa dengan kehidupan mereka. Yang menyedihkan buat mereka, tak ada yang teringat kepada mereka,’’ tutur dia.

Karenanya, Abah Iwan mengingatkan, agar selalu memerhatikan orang lain. ‘’Kalau kalian hanya mementingkan diri sendiri, jangan jadi pemimpin, karena itu akan menyengsarakan bangsa,’’ kata dia.

Kuberjuang penuh tekad demi nusa dan bangsa.

Ia menyanyikan ‘’Balada Kelana’’, lagu yang ia buat di Gunung Burangrang pada 1964, sewaktu masih di bangku SMA. Lagu ini pernah ia nyanyikan di hadapan taruna Akabri pada 1973, setelah terjadi konflik taruna dan mahasiswa. ‘’Perpecahan bangsa dimulai dari perpecahan generasi muda,’’ kata Abah Iwan.

Polisi Bandung saat itu rajin merazia celana ketat. Ketemu mahasiswa bercelana ketat polisi akan mengguting celana itu. Ketegangan pun terjadi, sehingga diadakan pertandingan persahabatan sepak bola antara mahasiswa dan taruna polisi di kampus ITB.

Mahasiswa memenuhi area dekat gawang yang dijaga taruna polisi. Seorang mahasiswa bawa gunting rumput, dan selalu memeragakan ingin menggunting celana.

Saat bola yang ditendang mahasiswa tak masuk ke gawang taruna, seorang mahasiswa mengambil bola itu, dan melemparkannya ke gawang. ‘’Gooooooolllllllll.’’ Mahasiswa pun bersorak girang.

Maka, pecahlah perkelahian pada 6 Oktober 1970 itu. Seorang mahasiswa tewas tertembak. Atas undangan Gubernur Akabri Sarwo Edhi Wibowo, Abah Iwan menyanyikan ‘’Balada Kelana’’ di hadapan para taruna. Salah satu tarunanya adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh Abah Iwan, ‘kelana’ diganti ‘taruna’.

Hai kelana tabahkan hatimu

Tuhan slalu besertamu

Abah Iwan pun teringat orang-orang yang pernah dipenjara di masa perjuangan kemerdekaan. Tak ada yang bisa menghadang cita-cita mereka.

Kudambakan jiwaku padamu oh Tuhanku

Kuberdoa sepenuh hati smoga tercapai tujuanku

’’Yang dibutuhkan bangsa ini adalah semangatnya,’’ ujar Abah Iwan. Maka, ia pun masih bersemangat mendaki. Pada 2010, ia membawa menaiki tebing ratusan meter untuk mencapai puncak Cartenz di Papua. Ia menyanyi di ketinggian 4.000-an meter dengan pasokan udara yang tipis.

‘’Menyanyi di gunung itu gampang. Yang susah adalah membawa gitarnya, perlu dukungan teman-teman,’’ ujar Abah Iwan. Ia juga pernah menyanyi di puncak Kilimanjaro. Puncak tempat Nyerere menggantungkan cita-citanya.

‘’Kami bangsa Afrika bercita-cita ingin menyalakan lilin kecil nun jauh di puncak Kilimanjaro. Lilin yang nyalanya akan menembus batas-batas tanah ini. Yang akan menyalakan cinta manakala kebencian sudah hadir di bangsa ini, manakala, martabat telah tercabik-cabik dari bangsa ini,’’ tutur Abah Iwan mengutip Julius Nyerere.

Saat memproklamasikan Tanganyika pada 1961 (kemudian berubah menjadi Tanzania), Nyerere mengucapkan kalimat ini: We will light candle on top of Mount Kilimanjaro which will shine beyond our borders, giving hope where there is despair, love where there is hate, and dignity where before there was only humiliation.

Menjaga semangat

Menurut Abah Iwan, di puncak Kilimanjaro angin sangat besar dan kencang. Oksigen sangat tipis. Tapi, Nyerere membakar semangat rakyatnya dengan cita-cita menyalakan lilin di spuncak Kilimanjaro. Yang dibutuhkan negara kita, menurut Abah Iwan, bukan lagi lilin kecil. Melainkan matahari. ‘’Kita harus menyalakan matahari di dalam hati kita, karena kebencian di kita sekarang melebihi kebencian di Afrika pada tahun itu,’’ tegas dia. Ia pun menyanyikan ‘’Mentari’’.

Mentari bernyala di sini

Di sini di dalam hatiku

Tapi, hidup tak selamanya matahari terbit untuk ita. Ada malam, saat bintang akan ditunggu-tunggu. Tak ada matahari, bintang pun jadi. Petikan gitar pun beralih ke irama lagu ‘’Melati dari Jayagiri’’ yang ia tulis pada Maret 1968.

Mentari kelak kan tenggelam

Gelap kan datang dingin mencekam

Harapanku bintang kan terang

Memberi sinar dalam hatiku

Kita, menurut Abah Iwan, harus menjadi orang yang berarti. Pedulu pada martabat orang lain. ‘’Jika hanya sayang pada martabat diri sendiri, saudara akan mati. Dianggap sebagai pembohong. Pemimpin harus punya kasih sayang pada orang lain,’’ tutur dia.

Anak muda, menurut Abah Iwan, sudah seharusnya memiliki human skill dan environment skill, selain berfisik sehat dan memiliki pengetahuan. ‘’Saya bukan pemimpin, tapi semoga apa yang saya sampaikan ini berguna,’’ ujar Abah Iwan.

Artikel ini lengkapnya ada di Republika, Sabtu 16 April 2011