Minggu, 07 Juli 2013

45 Tahun PMB 1968 (2013)

Balada yang dinyanyikan oleh senior Ichyar Musa (PMB 1961) di kroeg 68.

BALADA BBM
(lagu : Berita Untuk Kawan / Ebiet)


Kehidupan ini, terasa makin, menyedihkan….
Mungkin engkau tak ikut, kaum yang merasakan….
Banyak derita, yang mestinya, terhindarkan…
Kenaikan BBM, menyakitkan….
Ohoooo…hoooo, ohooo…hooo

Hidup pun terguncang, harga makin, tak terjangkau…
Keluarga risau, uang-belanja menjadi kacau….
Himpitan nasib, bikin rakyat jadi galau…
Sang pemimpin, sedang senang berkicau……
Twit twit twit…. Twiwiwiiiit……

Reff:
*Kawan coba dengar apa jawabnya …..?
Ketika PERTAMINA kutanya mengapa…….
Apa bumi yang habis cadangan migasnya……?
Atau pengelola, tak jalankan amanahnya…..

Mumpung kita di Indonesia, yuuk tanya mereka yang kuasa….
Kepada Karen, kepada Wacik, kepada Hatta Rajasa……
Tetapi s’mua tak terusik, merasa tetap berjasa….
Tinggal rakyat memekik, meratap berputus asa…….

*Barangkali istana, bisa bicara…., 
Mengapa nasib rakyat, makin sengsara….
Pasti Tuhan sudah bosan, yang dikejar hanya citra….
Bukan cari trobosan, kok sibuk tarik suara….

Pasti Tuhan sudah enggan, mendengar ustadz bicara…
Dikasih sapi, malah si Pusthun yang dipelihara…………..
Ohooo…hooo, ohoooo…hooo…….
Ohooo…hooo, ohoooo…hooo….


PMB 1970
Woyo Woyo Kompak
PMB 1963

Rabu, 10 April 2013

PMB dengan Green Net , Kukuyaan di Sungai Cikapundung

Penanaman pohon di acara GreenNET Indonesia menyertai Deklarasi No Cheating Indonesia tanggal 19 Mei 2013 di Bandung didukung Perhimpunan Mahasiswa Bandung, Perhutani, SMA 15 Bandung dan masyarakat luas.

---------------


========================
 Tim survei


Promosi


Dalam rangka memperingati HARI BUMI pada tanggal 22 April 2013. Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) mengajak seluruh lapisan dan golongan masyarakat, khususnya masyarakat Kota Bandung untuk bersama-sama melakukan kegiatan Bebersih Sungai Cikapundung melalui kegiatan KUKUYAAN yang akan diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 21 April 2013.



Kegiatan akan dimulai sejak Pukul. 07.00 (Kumpul di Babakan Ciamis) S.d Pukul 12.00 (Selesai di Pelataran Parkir Cikapundung Timur).



Adapun Kegiatan ini terdiri dari :

- Kukuyaan (Peralatan Ban, Helm, Pelampung)

- Bebersih Sungai Cikapundung
- Pelepasan Bibit Ikan
- Penanaman Pohon
- Pelepasan Burung
- Botram (Makan Siang Bareng)
- Games & Doorprize
Untuk informasi lebih lanjut silahkan berkunjung ke Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) di Jl. Merdeka No. 7 Bdg (Depan Hotel Panghegar) atau dapat menghubungi CP yg ada d poster






Senin, 11 Maret 2013

Ulang tahun PMB 2013 , bersepeda

Study Kasus @TPA Leuwi Gajah-Cireundeu-Cimahi Selatan.

-----------------------

 17 Maret 2013
----------------------------------------------------------

-------------------

Minggu, 13 Januari 2013

Penerimaan Anggota Baru 2013

Dishub Kota Bandung Kembali Melakukan Pengembokan Di Area Larangan Parkir

BANDUNG, Selasa (5/2). Aksi penertiban parkir liar dengan cara pengembokan, kembali dilakukan Dinas Perhubungan Kota Bandung pada selasa siang. Akibatnya, dalam aksi kali ini terjadi insiden saat melakukan pengembokan terhadap mobil milik mahasiswa di jalan merdeka tepatnya di depan sekretariat PMB. Setelah dilakukan penggembokan oleh petugas, para mahasiswa yang berada dilokasi tidak menerima aksi petugas tersebut sehingga memindahkan mobilnya ketengah jalan yang mwngakibatkan kemacetan parah di Jalan Merdeka.
Namun sayangnya setelah insiden tersebut, Dinas Perhubungan malah membiarkan mobil yang telah tergembok berada di tengah jalan dan malah terus melakukan aktifitas kegiatan pengembokan, padahal bila Dinas Perhubungan lebih bijak, petugas dapat membuka dahulu gembok tersebut agar mobil bisa dipindahkan kepinggir jalan, kemacetan pun dapat diurai pada kawasan tersebut.
Menurut salah seorang mahasiswa PMB Aeng, aksi ini dilakukan karena para angota PMB sebetulnya akan mengunakan mobil tersebut dan akan segera pergi saat insiden pengembokan terjadi, namun para petugas malah terus melakukan aksi pengembokanya.
Sementara itu aksi pengembokan kendaraan sendiri dilakukan Dishub dibagi kebeberapa titik kawasan larangan parkir seperti Jalan Merdeka, Wastu Kencana, Jalan Aceh, Alun-alun, Otista dan Jalan Jendral Ahmad Yani




--------------------------------------











Rabu, 12 Desember 2012

16 Desember 2012, PMB di Kampung Naga

 
PMB ke Kampung Naga 16 Desember 2012


Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya - Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya.
Kampung Naga  dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya.

Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer.

Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur.

Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana.

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut. Pengembangan obyek wisata Kampung Naga termasuk dalam jangkuan pengembangan jangka pendek.

Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.

Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.

Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.

Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan "kewedukan". Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik "kabedasan". Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

Sumber : www.tasikmalaya.go.id, dieny-yusuf.com, www.westjava-indonesia.com
--------------

Senin, 03 Desember 2012

1/12/2012, Buku, Pesta dan Cinta ?

 









Buku, Pesta dan Cinta: Masihkah Ada?
Buku, Pesta, dan Cinta adalah slogan yang sangat populer di kalangan mahasiswa UI sejak era ‘60-an. Pada waktu itu kehidupan kemahasiswaan sangat diwarnai oleh semangat kebebasan dari semangat Tritura. Di era itu mahasiswa bebas untuk berorganisasi dan berpendapat dengan modal keberanian. Puncak dari semangat untuk mengekspresikan kebebasan itu adalah peristiwa Malari, yang berakibat beberapa tokoh mahasiswa mendekam di dalam penjara.
Beberapa alumni dari periode ini punya pandangan yang sama tentang pola pergaulan pada masa itu. Kesatuan mahasiswa mudah diciptakan karena belum ada gank-gank apalagi kelompok-kelompok berdasarkan perbedaan status sosial. Dan umumnya pada masa ini antar mahasiswa saling kenal dan bergaul akrab. Karena keakraban itu pulalah sehingga tidak jarang ada pasangan mahasiswa/i yang melanjutkan ‘merenda hari esok.’
Setelah peristiwa Malari itu kehidupan kampus dibekukan, cara berpikir dan orientasi mahasiswa menjadi harus cepat dan mudah. Kegiatan ‘hore-hore’ menjadi lebih besar bobotnya daripada diskusi ilmiah.
Sejak tahun 1987, kampus UI berpindah dari Rawamangun ke Depok. Pola pergaulan yang ada kemudian juga mengalami perubahan, dan mulai mengarah pada pertentangan karena tiap kelompok ingin mendahulukan kepentingannya dan mendominasi.
Trend dan dinamika mahasiswa UI pasca reformasi saat ini tidak dapat menghindar dari modernitas yang mempengaruhi mahasiswa dalam bertindak. Sarana dan pra-sarana yang makin canggih memungkinkan kemudahan-kemudahan untuk menghabiskan waktu di mall, cafe atau hanya di depan komputer untuk berinteraksi. Generasi sekarang mungkin tak sesusah generasi sebelumnya.
Kini dominasi pembicaraan di kampus tidak diwarnai hal-hal yang berbau sosial politik melainkan soal 3F (food, fashion, & film). Lalu, masihkah ada buku yang terselip di antara cinta dan pesta mahasiswa?
Mungkinkah mimpi Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI era ‘60-an, menjadi semakin terang atau semakin kabur?

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa.’ Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” (Soe Hok Gie)

Pemuda, yakinlah “KEBENARAN biarpun menyakitkan, lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.” 

http://media.kompasiana.com/buku/2011/07/02/buku-pesta-dan-cinta-masihkah-ada/

Foto koleksi : Rofiek PMB 77 dan Herru PMB 78