Selasa, 27 Maret 2012

Pengobatan gratis April 2012




Penyuluhan Kesehatan Gigi 21 April 2012
---------




-----------------------------------




------------

----------------------------

Untung Wardoyo PMB 1994

Rabu, 07 Maret 2012

Revolusi Tanpa Darah ( Bachtiar Aly )

Revolusi Tanpa Darah

Sulit membayangkan suatu revolusi tanpa darah. Sejarah revolusi dunia, mulai dari Latin Amerika sampai Cina, tetap berjejak darah. Terlebih revolusi Arab Spring belakangan ini. Jenderal Charles De Gaule pernah berujar, revolusi mengorbankan anaknya sendiri. Revolusi, kata Winston Churchill, harus direduksi lewat diplomasi agar nyawa manusia bisa lebih selamat.
Amerika Latin mengenal empat musim. Namun, di sana juga ada musim yang sulit diprediksi: musim kudeta (coup d’etat). Rezim yang dicap otoriter, tak peduli derita rakyat, dan korup bersama kroninya, dapat digulingkan sewaktu-waktu.
Disebut revolusi bila mampu melakukan perubahan sosial dan budaya secara fundamental. Ruang lingkupnya dialektika, logika, dan romantika revolusi, seperti pemahaman sejarah, nilai, dan cita-cita yang diperjuangkan lewat berbagai instrumen demi kehidupan lebih baik dan bermartabat. Menjebol dan membangun, itu kata kuncinya. Alexis de Tocqueville mencermati, revolusi bisa saja terjadi simultan lewat kekerasan. Seperti revolusi politik yang bertujuan membentuk tatanan politik baru.
Revolusi mengorbankan harta dan nyawa yang tak terbilang. Tenggat waktunya ada yang segera, ada yang lama. Sebutlah revolusi industri di Inggris yang sangat lama tapi efeknya mendunia. Menurut T. S. Ashton, revolusi yang berlangsung gradual sejak 1760 hingga 1830, timbul lagi pada 1850, ini menjadi proses perubahan teknologi, sosio-ekonomi, dan kultur. Rentetan efeknya luar biasa hingga terbitnya Factory Act (1234) yang ikut mengatur hak anak di bawah umur.
Jatuhnya monarki absolut dan tuntutan restrukturisasi radikal Gereja Katolik oleh kaum demokrat yang didukung kaum republikan menandai era Revolusi Perancis (1789-1799). Napoleon Bonaparte ikut berkudeta, mengakhiri rezim lama dan melanjutkan revolusi.
Perancis mengalami berbagai sistem kekuasaan: monarki, kekaisaran, hingga republik. Penyebab revolusinya antara lain rakyat marah pada absolutisme kerajaan, hancurnya ekonomi, buruknya sandang pangan, menggunungnya utang negara, dan tak adilnya sistem pajak. Plus sentimen terhadap kaum bangsawan dan borjuis, serta intoleransi terhadap agama.
Puncaknya, 14 Juli 1789, rakyat menguasai penjara Bastille, membunuh gubernur De Launay berikut pengawalnya. Bastille jadi simbol kebencian. Apalagi para petani ikut memberontak. Akibatnya, di masyarakat tercipta ketakutan besar (la Grande Peur).
Berbeda dengannya, Revolusi Bolshevik 25 Oktober 1917 di Rusia dilancarkan kaum komunis pimpinan Lenin. Revolusi yang menggulingkan Alexander Kerensky, pemimpin nasionalis, ini menghasilkan Uni Soviet yang menggantikan sistem Tsar Rusia. Rezim terakhir, Tsar Nikolas II, diturunkan dari tahtanya karena tidak cakap memerintah dan kehilangan legitimasi. Revolusi Oktober ini juga diramaikan “Kornilov Affair”, suasana perang Rusia versus Jerman. Kehidupan kaum pekerja dan tentaranya sangat sengsara.
Sementara Revolusi Kebudayaan (Wénhuà Dàgéming) sangat membekas getirnya di kalangan rakyat Cina. Inspiratornya, Mao Zedong. Revolusi ini terjadi sejak 1966 hingga 1976 dengan Pengawal Merahnya. Inilah puncak perseteruan Mao versus Liu Shaoqi (presiden saat itu yang dituduh “kanan” serta mendukung intelektualisme dan kapitalisme).
Lain lagi dengan Revolusi Iran yang mengubah Iran dari monarki konservatif ala Shah Mohammad Reza Pahlevi, menjadi Republik Islam di bawah pemimpin spiritual dan revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Revolusi ini berlangsung Januari 1978 hingga Desember 1979. Dari pengasingan di Paris, sang pembebas Khomeini menyusun kekuatan. Kaset agitasi bernuansa Islam diselundupkan ke seantero negeri. Para kader intelektual disiapkan. Rakyat terpikat, siap ber-revolusi.
Khomeini come back ke Teheran, Reza Pahlevi hengkang ke Kairo, Mesir, pada Januari 1979 untuk hidup di pengasingan sampai ajal menjemput. Warisannya berupa penguasa otoriter, brutal, korup, dan bikin rakyat sengsara.
Tapi jangan lupa, revolusi Indonesia tak kalah heroik dan menarik. Terjadi perang gerilya dan kekuatan militer yang dikombinasi jurus diplomasi. Perjuangan rakyat semesta berbambu runcing mampu mengusir kaum imperialis dan kolonial dari bumi pertiwi.
Indonesia terbangun dari nasib sepenanggungan anak negeri. Bersendi Pancasila dan UUD 1945, Indonesia sudah makan asam garam revolusi, juga reformasi. Kini, agar tak lagi jatuh korban dan berdarah-darah, lakukanlah “revolusi tanpa darah” alias “restorasi”!
Oleh: Prof. Dr. Bachtiar Aly , MA Guru Besar FISIP Universitas Indonesia Foto: Fendi Siregar
** PMB angkatan 1969

http://www.prioritasnews.com/2012/02/20/revolusi-tanpa-darah/

Senin, 20 Februari 2012

65 tahun PMB (1948 - 2012)

Minggu, 25 Maret 2012

SMAN 16 Bandung Juara PMB Cup

PAJAJARAN,(GM)-
Tim futsal putra SMAN 16 Bandung berhasil menjadi juara Turnamen Futsal PMB Cup 2012 setelah dalam final menundukkan SMAN 1 Cimahi dengan skor 5-1 di GOR Pajajaran Bandung, Sabtu (24/3). Sementara posisi ketiga diraih SMAN 18 Bandung yang mengalahkan SMKN 9 Bandung dengan skor 7-3.

Partai puncak memang berlangsung menarik dalam tempo cepat. Pada babak pertama, SMAN 16 tampil penuh percaya diri dan mencetak gol terlebih dahulu lewat tendangan sang kapten Aziz di menit pertama. Tiga menit kemudian, Aziz kembali mengoyak jala gawang SMAN 1 melalui serangan balik.

SMAN 1 yang terus diserang berusaha keluar dari tekanan. Umpan-umpan panjang ke depan gawang dilakukan SMAN 1 untuk menghindari tekanan. Namun strategi tersebut dapat dibaca para pemain SMAN 16. Bahkan di menit ke-8, Aziz menciptakan hattrick ketika sukses memperdayai kiper SMAN 1 Cimahi, Alip. Hingga babak pertama berakhir, skor tetap 3-0 untuk keunggulan SMAN 16.

Memasuki babak kedua, anak-anak SMAN 1 mencoba bangkit. Tim yang dimotori Dhani ini memiliki beberapa peluang untuk mencetak gol, salah satunya melalui Fauzi. Namun tendangannya masih terlalu lemah sehingga dapat ditangkap penjaga gawang SMAN 16, Kikin.

Melihat pemain SMAN 1 mulai tampil trengginas, anak-anak SMAN 16 tidak tinggal diam. Mereka pun bertubi-tubi mendobrak pertahanan SMAN 1. Usaha SMAN 16 tidak sia-sia, setelah Nandang berhasil memperlebar jarak menjadi 4-0 dengan memanfaatkan bola liar di depan gawang SMAN 1.

Pertengahan babak kedua, permainan SMAN 16 sedikit mengalami penurunan. Situasi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak SMAN 1 hingga Mujahid berhasil menceploskan gol ke gawang SMAN 16 dan skor berubah menjadi 4-1.

Dua menit menjelang akhir pertandingan, SMAN 16 kembali mencetak gol lewat tendangan keras Sambas. Hingga babak kedua selesai, keunggulan 5-1 SMAN 16 tetap bertahan.

PERGURUAN TINGGI :

1. ARSITEKTUR ITB
2. POLITEKNIK LPKIA
3. IMAKSI - UPI
4. PIIT FC - UNISBA
5. STKIP PASUNDAN
6. FISIP - UNPAD
7. STIKES IMMANUEL
8. UPI - MERAH
9. IF - UIN
10. UPI - HITAM
11. IM TELKOM
12. IT TELKOM
13. BLACK PEACE - POLTEK TEDC
14. RANGE - POLTEK TEDC
15. POLTEK PRAKTISI A
16. POLTEK PRAKTISI B
17. HUKUM UNISBA FC A
18. HUKUM UNISBA FC B
19. STHB
20. KENKO - MARANATA
21. MAGNETIK - MARANATA
22. UNPAR
23. PORTLAND - MARANATA
24. POLTEKPOS
25. ONCOL UPI
26. FBEB UPI
27. STBA FC
28. INABA FC
29. HIMAS UNIKOM
30. UNIKOM FC
31. POLTEK PIKSI GANESHA
32. SFFC UNPAS
33. SIPIL UPI A
34. SIPIL UPI B
35. UNPAS PUTRA NUSANTARA
36. HMI KOMHUK UNPAS
37. UNIV. KEBANGSAAN
37. UNIKOM FC
38. PS - ITB
39. ARSITEKTUR -UPI
40. UPI MERAH

Tingkat Universitas :
1. Universitas MARANATHA ( MAGNETIK )
2. PS ITB
3. Universitas Kebangsaan


PESERTA KATEGORI SMA DIIKUTI OLEH 22 SMU/ SMK

1. SMAN 16
2. SMAN 5 - DESTROYER A
3. SMAN 5 - DESTROYER B
4. SMAN 18
5. SMAN 1 CIMAHI
6. MAN 2 BDG
7. DARUL HIKAM
8. SMK SHANDY PUTRA
9. SMA PASUNDAN 3
10. SMA YWKA A
11. SMA YWKA B
12. SMAN 4 CIMAHI A
13. SMAN 4 CIMAHI B
14. SMKN 1 CIMAHI
15. SMAN 1 PARONGPONG
16. SMKN 9 A
17. SMKN 9 B
18. SMAN 14
19. SMKN 4 CIMAHI
20. SMU BPI 2
21. SMK PGII UT
22. SMA PURAGABAYA

Tingkat SMA :
1. SMAN 16 Bandung
2. SMAN 1 Cimahi
3. SMAN 18 Bandung

17 Maret 2012, Malam Hikmat
17 Maret 2012, Malam Hikmat
Web PMB, 17 Maret 2012
Perhimpunan Mahasiswa Bandung ( PMB )
mengadakan Turnamen Futsal PMB CUP 2012 antar Universitas dan SMA/SMK seBandung Raya.
Memperubutkan PIALA WALIKOTA dan DISPORA KOTA BANDUNG
Bertempat di Gor Pajajaran,
untk info dan pendaftaran di sekertariat Pmb Jl merdeka no 7 bdg dpn hotel panghegar.
Cp : faozi azam +6287823514566

Kamis, 19 Januari 2012

45 tahun PMB 1967



1 Maret 2012, Reuni 45 tahun PMB 1967, di BP. Sangkuriang Jl. Kiputih Bandung
KHAZANAH KEBAJIKAN - Dengan IMAN dan Al-Qur'an 17-02-2012 pk.11.00 Cireundeu

Ke Panti Asuhan , 24 Januari 2012

Rabu, 11 Januari 2012

Rahman Tolleng


Rahman Tolleng: Musuh Kita Adalah Diri Kita Sendiri
Jakarta, NU Online
Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kebobrokan politik Indonesia, semua tidak menunjukkan keberhasilan. Politik Indonesia tampak tidak lebih baik dari sebelum gerakan reformasi dilakukan.Bahkan, sulit dibantah, wajah politik Indonesia saat ini tampak semakin kusut.
Demikian inti pernyataan yang disampaikan salah seorang eksponen aktivis Angkatan 1966, Rahman Tolleng, di Jakarta, Jumat (10/12).
Kusutnya politik nasional saat ini, kata Tolleng, telah mengikis semua usaha atau terobosan dalam memperbaiki politik Indonesia, sejak uji coba dari sistem multi partai, Pemilu yang jujur dan adil (Jurdil), semi distrik, sampai pemilihan presiden secara langsung. Tapi semuanya berjalan seperti sebelumnya, tidak membawa perubahan berarti, bahkan dalam beberapa hal terjadi kemerosotan yanglebih buruk,kata eksponen Angkatan 66 ini.
Aktivis yang pernah aktif di Forum Demokrasi (Fordem)organisasi masyarakat sipil yang kritis terhadap kekuasaan Rezim Soeharto pada masa silamakrab dipanggil dengan nama pendek Tolleng ini memang sengaja didaulat menjadi pembicara dalam acara Silaturrahmi Kelompok Pro Demokrasi dan Peringatan Hari Hak asasi Manusia (HAM)yang diselenggarakan oleh Gugus Nusantara Jakarta, hari ini.
.
Lebih lanjut Tolleng mengungkapkan, bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini sepenuhnya mengalami disorientasi atau kehilangan arah pandangan politik sebagai warga negara atau rakyat. Termasuk bagian dari kelompok ini, kata Tolleng, mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai pro demokrasi dan kalangan reformis.
Tolleng pun menyebutkan bukti-bukti dari disorientasi itu. Ketika menghadapi pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu mereka mengalami split ideology (ideologi ganda atau terpecah: Red.). Akibatnya, muncul tiga kelompok reformis, yaitu reformis fundamental, reformis pragmatis dan reformis spekulatif,ungkapnya.
Kelompok reformis fondamental, semestinya bila tidak menganut ideologi ganda, kata Tolleng, dalam menghadapi realitas politik pemilihan presiden yang memunculkan calon yang tidak sejalan dengan nilai reformasi seharusnya tidak memilih, sebab tidak ada calon yang bisa membawa amanat reformasi. Tetapi dalam kenyataannya, kata Tolleng, mereka tetap memilih.
Untuk kelompok reformis pragmatis, ungkap Tolleng, mereka lebih memilih megawati, sebab mereka bisa memperoleh akses kekuasaan yang memadai, dan posisi mereka yang sudah mapan tidak akan terganggu. Sedangkan, untuk kelompok reformis spekulatif, yang mengangankan perubahan, mereka mimilih Susilo Bambang Yudoyono (SBY), tanpa terlebih dahulu menyoal komitmen SBY yang belum pernah ditunjukkan dalam melakukan reformasi atau perubahan. Karena itu, menurut Tolleng, harapan itu bersifat spekulatif.
Selanjutnya Rahman Tolleng membuktikan bahwa para pemilih SBY benar-benar berspekulasi, karena terbukti hingga saat ini SBY belum membuat langkah dan kebijakan yang bisa mengarah pada perubahan fundamental, khususnya terhadap politik kenegaraan. Kekecewaan demi kekecewaan terus bermunculan, dan tidak menutup kemungkinan akan terus membesar.
Kalangan masyarakat sendiri juga mengalami kekecewaan, tidak hanya kepada partai, parlemen maupun Ormas, karena mereka terlibat dalam berbagai korupsi dan dan penyimpangan sehingga mereka merupakan bagian dari masalah,katanya.
Karena itu, menurut Rahman Tolleng, dalam mengatasi kekacauan sosial dan politik semacam ini, orang tidak bisa lagi hanya mengandalkan lembaga atau penataan sistem semata. Kita semua justeru harus kembali pada diri kita sendiri. Sebab, lawan sebenarnya dalam mengupayakan perubahan tidak lain adalah diri kita sendiri. Lawan kita adalah, nafsu kita, ambisi kita, yang semuanya harus dibayar mahal secara politik dan kekuasaan, melalui korupsi dan kolusi. Kalau kita sebagai individu tidak mampu mengontrol ambisi kitasendiri, maka segala upaya perbaikan sistem akan sia-sia seperti selama ini,kata Tolleng mengingatkan demoralisasi yang sudah melanda aktivis.
Sudah saatnya pragmatisme budaya dan gaya hidup metropolis yang jauh dari kesahajaan ditinggalkan, baik oleh para aktivis, maupun masyarakat umum,kata Tolleng mengharapkan. (neva)
Rahman Tolleng PMB angkatan 1959
-------------------
Tentang Rahman Tolleng
Oleh A. Syalaby Ichsan
Saya berkenalan pertama kali dengan dia lewat buku. Kisahnya ditulis heroik oleh beberapa penulis yang juga adalah kawan seperjuangannya dulu, seperti Rum Ally dengan ‘Titik Silang Kekuasaan Militer Otoriter’ dan Hasroel Mochtar yang menulis buku ‘Mereka Dari Bandung’. Atau juga dari seorang peneliti Perancis, Fracois Raillon dengan bukunya yang juga merupakan disertasi dengan judul ‘Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia’.
Buku-buku ini membahas dalam tentang Rahman Tolleng sebagai orang yang membidani MI di tahun 1967. Tidak ada bab khusus memang, tapi cerita-cerita tentang dia selalu mendominasi, terlebih manakala para penulis tersebut berkisah tentang angkatan ’66, atau pers mahasiswa dan lebih khusus mengenai Mingguan Mahasiswa Indonesia.
Kisahnya di dunia akademis penuh dengan cobaan. Rahman pindah ke Bandung, ITB dari Kedokteran Hewan UI (sekarang IPB) karena terinspirasi akan tokoh Sukarno yang juga adalah mahasiswa ITB. Presiden yang kelak justru ‘diturunkan’ oleh Rahman karena diktatoriatnya. Dan hingga akhir ia tidak menyelesaikan kuliah terakhirnya di Unpad.
Kisahnya sebagai aktivis adalah inspirasi bagi para aktivis lain. Ia menjadi rujukan bertanya bagi kawan-kawan seperjuangannya. Pantaslah jalan Tamblong, di kantor MI yang juga tempat dia bekerja selalu ramai oleh para aktivis mahasiswa. Kegiatan diskusi mewarnai kantor yang terletak di pusat kotabandung ini. Aktivis KAMI, KAPPI dan para Ketua Dema seringkali datang ke Tamblong untuk berdiskusi
Menangkap cerita dari buku-buku para penulis di atas, saya berasumsi bahwa Rahman Toleng, yang juga punya dua nama samaran sekaligus – Iwan Ramelan dan Armanto A.L (Asrama Latimojong)– adalah seorang dengan tipikal konseptor. Tidak banyak tampil ke depan, tapi menjadi dalang dari para wayang yang dia tampilkan. Lazimnya cerita dalam novel, sosok tokoh dengan karakter seperti ini penuh dengan misteri. Tidak ada yang bisa menduga arah pergerakannya dan yang teristimewa, ia punya jaringan yang luas dan rumit, sehingga, menurut seorang aktivis yang juga pernah berkenalan dengannya, jaringan itu sangat sulit untuk diurai.
Tentunya butuh kecerdasan di atas rata-rata dan bakat kepemimpinan yang kuat untuk menjadi seorang ‘dalang’, terlebih dalang itu punya ‘banyak tangan’. Darah bugis yang rata-rata menghasilkan manusia petualang menjadi given bagi Rahman.Sebutlah ia pernah menjadi buron di masa awalnya menjadi mahasiswa – sebab itu ia menggunakan nama samaran.
Contoh yang dapat menggambarkan kecerdasannya – yang ditulis oleh Hasyrul Mochtar – adalah ia dapat mengatur akses masuk dan keluar temannya, di masa orde lama, Ir. Ryandi atau Ir. Thuk Hok – kemudian juga menjadi salah satu Pemimpin Umum MI Jabar – untuk dapat menyusup ke dalam salah satu anak cabang PKI, yaitu HSI. Disana, Thung memata-matai pergerakan para tokoh muda PKI dan kemudian dilaporkan ke KODAM VI/Siliwangi.
Saya pun sempat bertemu langsung dengannya dalam rangka wawancara untuk karya tulis saya yang berjudul ‘Tahun-Tahun Terakhir Sebelum Pembredelan Mingguan Mahasiswa Indonesia (1972-1974)’ saya mendatangi tokoh yang satu ini sebab Rahman adalah bidan langsung dari MI.
Saya bertemu dengan Rahman di Kantornya, di Komunitas Utan Kayu, Jakarta. Bertemu langsung dengan sosok asli Rahman Tolleng memang tidak seperti yang saya bayangkan. Jujur, saya berharap bertemu dengan tokoh yang bersemangat terlebih ketika membicarakan mingguan yang dulu pernah dilahirkannya. Hanya saja, Rahman adalah sosok yang tenang, datar, tanpa ekspresi. Mungkin karena faktor usia yang sekitar 70 tahun, saya berasumsi. Ini karena beberapa pertanyaan saya mengenai MI tidak dapat ia jawab
Untuk fisik, ia termasuk sosok dengan tubuh mungil, tinggi lebih kurang 165 cm. pakaiannya sederhana. Cukup mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana berbahan katun dengan warna gelap. Ia pun perokok berat. Ini tampak dari rokok dalam pipa yang sebentar-sebentar diganti dan dinyalakannya.
Kalimatnya lugas tanpa bertele-tele, gagasannya cerdas wawasannya luas. Saya menyukai ketika ia menjelaskan tentang mengapa ia masuk ke dalam Golkar dan berpihak kepada pemerintah. Ia berfilosofis dengan menjelaskan mengenai nilai absolute dan nilai tanggung jawab sosial intinya adalah ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan, misalnya ada seorang penjahat yang mau menembak kita, maka kita tidak akan melawan karena katakanlah bahwa kita berprinsip anti terhadap kekerasan. Itulah yang disebut nilai absolut.
Akan tetapi sebaliknya, ketika kita memahami akan hakikat nilai tanggung jawab, karena kita setidaknya bertanggungjawab atas keselamatan diri kita, maka kita harus melawan, setidaknya menghindari tembakan penjahat itu.
Begitupun ketika Rahman memutuskan untuk memihak kepada Golkar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat kecacatan yang kala itu terlihat dalam tubuh Golkar, seperti ketika para penguasa memanfaatkan akses mereka ke daerah untuk memenangkan pemilu dan berinfiltrasi ke dalam kekuatan politik lain. Tapi Golkar, seperti disebutkan Rahman adalah suatu pilihan ‘The Bad among The Worst’. Istilah kasarnya, daripada kita tidak berpihak dan hanya berteriak-teriak di luar, lebih baik kitamembenahi sistem dari dalam meski terdapat cacat dalam sistem itu. Ini juga konsekuensi dari nilai tanggung jawab yang tadi kita anut.
Tolleng adalah sosok yang penuh dengan optimisme, percaya diri dan sedikit sombong. Tampak ketika ia mengatakan bahwa MI adalah Koran Rahman Tolleng dan dapat menjadi apa yang ia mau. Belum lagi ketika ia bicara dalam tataran pergerakan mahasiswa bandung. ia mengklaim bahwa isu-isu yang digulirkan oleh para mahasiswa umumnya adalah racikan dia karena data-data tentang kebobrokan pemerintah ketika itu, ia yang pegang.
Namun semua ini tentu diiringi dengan kerja keras dan keyakinan yang teguh akan perjuangan yang dia lakoni. Sesuai cerita tentang Rahman dari seorang koleganya, Ajan Sujana, iabilang “Rahman adalah orang yang betul-betul konsisten, sederhana, teguh sekali pada pendirian dan kental dengan konsepsi-konsepsi kemasyarakatan yang berakar dari paham modernisme. “Harus dibagaimanakan masyarakat Indonesia ini, setelah merdeka”.
Mengenai pergerakan mahasiswa saat ini, Rahman menjelaskan terdapat kondisi sosial politik yang berbeda antara kondisi lalu, di jamannya, dengan kondisi saat ini. Ia berujar,”kalau jaman dahulu, kita punya musuh yang nyata, yang ada dalam diri Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, tapi saat ini kondisinya berbeda dengan adanya iklim demokrasi yang kental dalam bangsa ini”.
Baginya, mahasiswa saat ini harus mulai menjawab akar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, tidak lagi menunjuk tokoh. Permasalahan-permasalahan besar seperto korupsi dan politik uang dalam demokrasi penting untuk segera dijawab. Adanya peristiwa Gestapu, meski di satu sisi mengorankan nyawa jendral-jendral Angkatan Darat, namun di sisi lain merupakan berkah tersendiri bagi Rahman karena efek dari gestapu yang menggerus kekuasaan orde lama, ia dapat muncul kembali ke permukaan dan berafiliasi dengan salah satu kekuatan sosial politik yang kala itu, menurut pendapatnya, menyerap aspirasi kaum muda dengan ide modernisasinya.
Gemsos yang berafiliasi dengan PSI.

Rabu, 16 November 2011

PMB 2011






PMB angkatan 2011 Penghijauan di Parompong
Malam Tahun Baru 2011

Senin, 07 November 2011

Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata

Bapak Beton Indonesia

Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata *) adalah salah satu pakar dan praktisi di bidang konstruksi Indonesia. Ia merupakan seorang putra terbaik bangsa yang tidak diragukan dedikasi, integritas dan profesionalisme sebagai engineer dan enterpreneur bahkan guru besar yang sukses di bidang infrastruktur.
Karya-karyanya yang monumental telah menghiasi perjalanan sejarah bangsa Indonesia antara lain adalah Gedung Wisma Nusantara, Wisma Dharmala, Bakrie Tower dan Duku Atas Tunnel di Jakarta, Jembatan Ampera di Palembang, Jembatan Rajamandala di Bandung, Restorasi Candi Borobudur di Magelang serta Keuliling Dam di Aceh. Di pembangunan hotel dan apartemen, Wiratman merancang Four Seasons Residential Apartments, Mal Ciputra, dan Hotel Aryaduta.

Wiratman juga merancang Pembangkit Listrik Tenaga Air Mrica, Banjarnegara, PLTA Merangin, PLTA Kusan, Pembangkit Gresik, Telecommunication Tower dan Menara Jakarta. Menara Jakarta akan menjadi tower tertinggi di dunia dengan ketinggian 558 meter.
Wiratman dilahirkan di Jakarta tahun 1935 dan lulus sebagai Sarjana Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1960. Setelah lulus dari ITB ia langsung menjadi tenaga pengajar (luar biasa) di Jurusan Teknik Sipil ITB. Ia mengambil doktor di ITB dan mendapatkan gelar doktor pada tahun 1992 dalam bidang Rekayasa Struktur dengan predikat Cum Laude. Pada tahun 1995 sampai 2004 ia menjadi Guru Besar di Jurusan Teknik Sipil ITB. Dan sejak tahun 2005 menjadi Guru Besar Emeritus di Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara. Wiratman diangkat menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dari tahun 2003 sampai tahun 2006.
Wiratman Wangsadinata adalah Pendiri dan direktur utama PT. Wiratman & Associates, Multidisciplinary Consultant, yang telah berdiri sejak tahun 1976 dan sampai kini telah terlibat dalam perencanaan dan supervisi ratusan bahkan ribuan proyek-proyek konstruksi dari mulai jembatan, dam, jalan dan yang cukup banyak adalah gedung-gedung tinggi. Beliau juga lah yang menggagas tentang peraturan gempa di Indonesia.
Wiratman mulai mengembangkan kariernya sebagai Insinyur Perencana di Jawatan Jalan-jalan dan Jembatan Dep. PU pada tahun1960 sampai tahun1965, menjadi Direktur dari PN Perencana INDAH KARYA pada tahun 1965 sampai tahun 1970, diangkat menjadi Pengawas Pemerintah untuk perencanaan dan pelaksanaan Gedung Wisma Nusantara bertingkat 30, proyek investasi Pemerintah sekaligus gedung tinggi pertama di Indonesia pada tahun 1970 sampai tahun 1973, kemudian ditunjuk menjadi Konsultan pada Proyek Pemugaran Candi Borobudur yang disponsori oleh UNESCO pada tahun 1973 sampai tahun 1983.
Selama ini ia telah menulis lebih dari 200 makalah teknik yang dipresentasikan dalam berbagai konferensi nasional maupun internasional. Wiratman telah mendapatkan sekitar 14 penghargaan nasional maupun internasional atas jasa-jasanya seperti penghargaan karya konstruksi 2003, penghargaan Adhicipta Rekayasa untuk Teknik Sipil dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII), ASEAN Achievement Award dari ASEAN Forum dan penghargaan lainnya.
Inspirator dan motivator bagi perekayasa di Indonesia ini juga memegang paten dalam pembuatan terowongan “Sistem Antareja” No. ID 0 009 677. Ia juga menyandang Sertifikat Insinyur Profesional Utama (IPU) dari PII dan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI).

Foto: wiratman.co.id
*) PMB angkatan tahun 1954

http://www.engineeringtown.com/teenagers/index.php/profil-insinyur/852-prof-dr-ir-wiratman-wangsadinata.html

----------------
Prof Wiratman: Jembatan Selat Sunda Akan Mirip Golden Gate

Jakarta - Pemerintah saat ini mulai menggarap secara serius proses pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS), yang sudah masuk dalam blue book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Bahkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah telah mendukung dalam upaya menghubungkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa dengan membangun jambatan, bukan terowongan bawah laut.

Melalui program 100 hari pemerintah juga akan menyiapkan tim khusus yang akan menggodok studi kelayakan pembangunan (feasibility study) JSS. Rencananya studi kelayakan itu akan rampung beberapa tahun ke depan.

Berikut ini wawancara detikFinance dengan desainer yang merancang JSS yang juga salah satu ahli jembatan yang dimiliki oleh Indonesia, saat dihubungi detikFinance, Minggu (22/11/2009).

Adalah Prof DR. Wiratman Wangsadinata, pria kelahiran Jakarta 1935 ini merupakan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB). Prof Wiratman merupakan jebolan S-1 teknik sipil tahun 1960 dan menyabet gelar doktornya di tahun 1992 bidang bangunan.

Pakar jembatan ini juga telah banyak merancang pembangunan gedung-gedung di Indonesia termasuk infrastruktur lainnya seperti menara pencakar langit, power plant, bendungan dan lain-lain. Bahkan calon ikon Jakarta yaitu Menara Jakarta yang akan menjadi tower tertinggi di dunia setinggi 500 meter lebih, merupakan hasil rancangannya.

Selain itu Wiratman juga perancang gedung Wisma Darmala, PSP Office Tower, Kota BNI, Bakrie Tower, Sampoerna Strategic Square, Niaga Tower dan lainnnya. Di bidang perhotelan Wiratman juga telah merancang hotel Aryaduta, Four Seasons Residential Apartments, Mal Ciputra dan banyak lainnya, termasuk beberapa pembangkit listrik.

Di proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda, Anda berperan sebagai apa?
Saya sebagai perencana desainer, tapi pada saat pelaksanaannya nanti di pembangunannya sebagai pengawas.

Sebagai seorang yang ditugasi merancang Jembatam Selat Sunda (JSS), apa saja yang sudah dilakukan?
Sekarang sedang dimulai perancangan desain jembatan, dalam dua tahun rancangan harus selesai. Perancangan dasar ini akan dilakukan perhitungan mendetail hingga tahun 2012 nanti.

Kalau sudah siap desainnya dan studi kelayakannya, maka sudah bisa dilaksanakan pembangunan. Mengenai investornya sedang dibicarakan. Kalau investor dengan siapa-siapanya, sebaiknya bisa dibicarakan dengan pihak Artha Graha.

Nantinya teknologi apa yang akan diterapkan Jembatan Selat Sunda ini ?
Kita akan pakai teknologi jembatan ultra panjang, di mana panjang bentang tengahnya untuk JSS mencapai 2.200 meter. Sedangkan untuk bentang samping sepanjang 2x800 meter jadi total bentangannya mencapai 3.800 meter. Sedangkan sisanya memakai konstruksi jembatan beton.

Ada lima seksi yang akan dibangun dengan total panjang 29 Km. Seksi 1 dibangun dengan beton, seksi 2 jembatan gantung ultra panjang, seksi 3 jembatan beton, seksi 4 jembatan gantung ultra panjang dan seksi 5 beton lagi.

Sekarang ini sudah masuk basic design atau perancangan dasar. Di antaranya lebih pada perhitungan pekerjaan yang banyak di lapangan misalnya masalah pengeboran laut dan lain-lain.

Lalu setelah itu pada tahun 2012 basic design selesai maka akan dilakukan tender melalui engineering procurement and construction (EPC) yang berdasarkan basic design. Kalau sudah ada pemenanangnya baru bisa dibangun.

Dalam basic design ini akan diperhitungkan beberapa aspek seperti faktor kegempaan, arus laut, kekuatan angin dan lainnya. Jadi feasibility study dengan basic design berjalan bersamaan.

Hambatan apa saja yang akan dialami?
Secara teknis tidak ada masalah, masalahnya adalah kurangnya sumber daya manusia kita, mungkin kita bisa kerja sama dengan tenaga ahli pihak asing. Misalnya dengan ahli yang membuat jembatan Messina di Italia yang memiliki bentang 3.300 meter, kita akan kerja sama dengan mereka termasuk melakukan MoU. Sementara yang lain juga menawarkan bidang teknologi pengetesan terowongan angin dari China.

Untuk tenaga kerja proses basic design ini membutuhkan 20 orang engineering. Sedangkan jumlah tenaga kerja untuk proses konstruksinya belum terpirkan, kita lihat nanti setelah tahun 2012, tentunya akan ribuan orang.

Jadi dari perkiraan sementara paling cepat kapan konstruksi bisa dibangun?

Paling tidak akan dibangun pada 2012, dengan proses pengerjaan selama sepuluh tahun dibangun, ini yang disyaratakan oleh pemerintah. Supaya ini masuk public private partnership (PPP), kalau tidak selesaikan dua tahun (basic design) maka akan dihapus dari PPP blue book. Kalau tahun 2012 sudah mulai dibangun rencananya jembatan sudah dibuka tahun 2022

Mungkin ini yang menjadi pertanyaan banyak orang, model apa yang akan dipakai dalam membangun JSS?
Seperti yang saya sampaikan tadi yaitu jembatan ultra panjang. Sebenarnya bentuknya akan sama seperti Suramadu, tapi kalau Suramadu itu pakai cable stayed, yaitu kabelnya lurus. Kalau jembatan Selat Sunda itu digantung sama dengan Golden Gate San Fransisco, tapi kalau Golden Gate Generasi pertama. Sedangkan kalau Jembatan Selat Sunda akan menerapkan teknologi generasi ketiga.

Sama dengan Jembatan Hangzhou di China, tetapi di China tidak ada rel kereta api. Kalau jembatan selat sunda ada jalur kereta api double track di tengahnya. Lebarnya JSS akan mencapai 60 meter, tidak memakai dua lantai ini lebih kuat terhadap angin karena daya angin lebih tipis, bentuknya aerodinamis.

Yang terpenting karena jembatan ini di atas perairan internasional maka tinggi jembatan dari permukaan laut mencapai 85 meter. Semua kapal laut bisa lewat termasuk generasi terbaru pun.

Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membangun JSS?
Biayanya tidak akan jauh dari sekitar US$ 10 miliar ya sekitar plus-minus 10%-15% atau sekitar Rp 100 triliun.

Sebagai jembatan yang akan menelan dana besar berapa lama kekuatan jembatan bisa bertahan?
Rencananya 200 tahun bisa bertahan, tapi itu bukan berarti langsung ambruk setelah itu.

Bagaimana dengan kesiapan pasokan material dalam negeri dalam menyokong pembangunan?
Akan diusahakan komponen lokal terutama untuk kubik beton, termasuk baja, meskipun baja sebagian akan dari luar. Harus diusahakan harus di atas 50% komponen lokalnya. (hen/qom)