Jumat, 29 April 2016

Panti asuhan, Tanam Pohon , Sunatan Massal, Malam







Perjalanan Malam PMB 2016
=======================================================


Keliling panti asuhan, bagi2 hadiah
===============================================




==================================================

 Saat memberi tanaman ke Rektor UNPAD tahun 2015

 Sepeda santai saat hari Bumi 24 Mei 2016

 Melanjutkan tanam pohon 24 Mei 2016, dikampus Jatinangor, kab. Sumedang
ditanam secara bertahap dari tahun 2015


Sambutan rektor Unpad, 

PMB angkatan 1965 meyumbang  kurang lebih 8000 pohon sesuai jumlah mahasiswa angkatan 2015

Jumat, 18 Maret 2016

Imam Yudotomo PMB 1961


Imam Yudotomo
Sosialisme Tidak Sama Dengan Komunisme

Perspektif Baru: Tahun 1965 sudah berlalu tapi kita masih mengalami trauma panjang soal sosialisme di Indonesia yang sepertinya adalah persoalan kematian politik. Sosialisme di Indonesia sebenarnya sudah panjang umurnya, seumur dengan sejarah bangsa kita. Pada awal kemerdekaan ada paham-paham seperti nasionalisme, sosialisme dan islamisme. Namun sekarang yang tersisa hanyalah nasionalisme dan islamisme. Ada apa dengan "sosialisme"? Tahun 1965 mencatat bahwa persoalan sosialisme seolah-olah adalah persoalan anti Tuhan dan persoalan yang sangat buruk dihadapan manusia. Pandangan sosialisme mengenai manusia seolah-olah merupakan pandangan mengenai keduniawian semata. Bagaimana sebenarnya sosialisme sekarang ini? Relevankah sosialisme ini dengan situasi politik dan situasi dunia saat ini? Ataukah kita harus menguburnya seperti juga kita mengubur sejarah Majapahit di masa yang lalu? Kita hadir bersama Imam Yudotomo, seseorang yang dulu pernah menjadi perwakilan sosialis internasional di kawasan Asia Tenggara dan sekarang memprakarsai sebuah organisasi bernama "Pergerakan Sosialis." Kita akan mengetahui bagaimana dia bersama kawan-kawannya mencoba menggalang dan menerbitkan kembali gagasan sosialisme dalam menghadapi keadaan dunia dan krisis yang tidak pernah selesai hingga saat ini. Perspektif Baru kali ini dipandu oleh saya, Faisol Riza.

Menurut saya anda termasuk orang yang cukup langka, dengan berbagai pengalaman politik di masa lalu. Anda tetap tidak berhenti sampai usia di atas 60 tahun. Sementara generasi anda tampaknya sudah mapan dan sudah berpikir bagaimana mengakhiri atau melewati masa tua ini. Apa yang menjadi semangat anda sampai anda bisa bertahan hingga kni?

Mungkin ini satu kecelakaan atau juga mungkin merupakan suatu berkah bagi saya. Mungkin saya bisa begini karena saya mempunyai ideologi. Dengan ideologi itu saya punya cita-cita dan karena itu maka saya terus seperti ini, terus berjuang untuk mencapai cita-cita tersebut. Mungkin teman-teman sesama aktivis zaman dulu tidak berideologi atau kurang ideologinya jadi dia bisa macam-macam di luar jalur yang semestinya ditempuh.

Sebelum berbicara mengenai ideologi, sepertinya hidup anda ini selalu diisi dengan berjuang, berjuang dan berjuang akan tetapi belum mencapai hasil sampai sekarang. Memang panjang sekali perjuangan semacam ini dan apa sebenarnya tujuannya?

Kalau disebut berjuang, rasanya seperti hebat sekali. Mungkin hidup memang seperti inilah adanya karena ada cita-cita. Kalau berbicara tidak tercapai, Soekarno berbicara mengenai kemerdekaan dan baru 30-40 tahun kemudian kemerdekaan itu tercapai. Apalagi berbicara soal Nabi, perjuangan 200 tahun belum tercapai juga. Jadi umur 60 tahun sebenarnya tidak ada artinya.

Mengenai cita-cita tadi, apa refleksi anda terhadap berbagai macam usaha, gerakan yang ingin memperbaharui demokrasi di Indonesia, terutama bagian-bagian yang kita anggap sebagai evaluasi ?

Kalau berbicara tentang evaluasi, banyak dari teman-teman yang melawan Soeharto basisnya bukan basis ideologis. Mereka hanya ingin memperjuangkan satu hal yang waktu itu ada fenomena yang tidak enak lalu dilawan. Seharusnya ada cita-cita yang lebih besar dari itu dan bukan sekedar soal melawan Soeharto. Karena sesudah melawan Soeharto, banyak teman-teman yang sekarang ini mengalami kebuntuan dan tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. Ini yang pertama. Jadi adanya kebuntuan dari teman-teman pejuang demokrasi dulu tapi sekarang kebingungan. Karena itu, seringkali mereka juga ikut aktif bersama kekuatan yang sebenarnya anti demokratis dalam perjuangan mereka. Misalnya, menganggap Megawati sekarang ini kurang demokratis atau kurang untuk rakyat. Tapi dalam gerakannya, mereka berjuang bersama kekuatan non demokratis juga. Hal tersebut sama saja seperti ketika zaman dulu saat melawan komunisme bersama CIA. Hal itu tentu tidak lucu. Maka saya rasa harus dengan ideologi yang jelas.

Anda ingin menawarkan sebuah ideologi. Mungkin saya bisa lihat dari nama organisasi yang anda bangun bersama teman-teman yaitu "Pergerakan Sosialis." Maka sosialisme yang ingin anda tawarkan. Padahal di dunia ini banyak orang mengatakan sosialisme sudah selesai dan sekarang ini zaman baru dengan tata dunia baru. Apakah ini bukan sesuatu yang kontra dengan gagasan sosialisme yang ingin anda kembangkan?

Yang pertama ingin saya koreksi adalah pengertian bahwa sosialisme sudah hancur. Yang jelas adalah benar bahwa negara-negara komunis sudah hancur. Tapi karena orang komunis selalu mengklaim diri sebagai representasi dari kekuatan sosialis satu-satunya, maka orang-orang berpendapat bahwa sosialisme itu juga hancur. Padahal yang hancur adalah komunisme bukan sosialisme. Ini harus jelas juga. Di Indonesia, komunis dan sosialis sering dianggap sama karena sumbernya dari Marx. Betul kita bersumber sama namun banyak hal yang juga berbeda dan bahkan mungkin perbedaan itu menjadi pertentangan yang begitu dahsyat dan kalau dilihat, mungkin konsentrasi kamp yang dibuat Rusia di Siberia isinya adalah orang-orang sosialis juga. Perbedaanya dapat kita lihat misalnya dari cara mencapai kekuasaan. Orang sosialis berdasarkan demokrasi, sementara orang komunis dengan alasan sebelum demokrasi harus dibangun diktator proletariat. Ternyata diktator proletariat itu terjadi berpuluh tahun sehingga sulit dikatakan hal ini sebagai kesementaraan seperti yang dikatakan Lenin. Jadi yang pertama, sosialisme adalah ideologi dan hal itu masih ada sekalipun negara komunis hancur. Menurut saya rasa ideologi itu tidak bisa diberantas. Tentu hal ini menjadi bahan propaganda bahwa kehancuran komunisme itu seolah-oleh menjadi kehancuran ideologi komunisme dan sosialisme secara bersama. Hal ini sama sekali tidak benar. Karena sekalipun kita berbicara masalah dunia baru sebetulnya basis konfliknya sama yaitu orang kapitalis neo-liberalis ingin supaya campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi itu dihilangkan. Dengan begitu modal mereka bisa kemana-mana tanpa kontrol siapapun. Sementara orang sosialis tetap pada pendirian bagaimana mengontrol kapital, bagaimana mengontrol pasar, bagaimana mengontrol pemanfaatan hak milik. Jadi, jika dilihat dari segi itu sebetulnya mungkin seolah-olah berbeda, tapi kalau kita lihat neo liberalisme dengan pasar bebas merupakan kapitalis yang sangat elementer, yaitu bagaimana membebaskan peran negara atas mekanisme ekonomi. Ini yang sekarang dituntut neo liberalisme agar modalnya bisa pergi. Hal ini pada dasarnya sama saja dengan pertentangan orang kapitalis dengan orang Marxis zaman dulu. Jadi sebetulnya konstalasinya sama. Hanya sekarang caranya super canggih, teknik-teknik, strategi, taktik dan sebagainya sangat canggih. Jadi kita juga harus menyesuaikan dengan kecanggihan alam pikir manusia.

Ada bagian lain yang mungkin orang juga ingin katakan sosialisme sudah tidak relevan. Buktinya ada partai buruh misalnya di Inggris dan Australia yang tidak ubahnya juga dengan partai-partai yang lain. Padahal menurut sejarahnya atau paling tidak dalam terminologi tertentu, hal itu dikategorikan sebagai gerakan kiri atau khususnya menjadi bagian dari gerakan sosialis. Bagaimana mempertanggungjawabkan hal tersebut?

Persoalan mempertanggungjawabkan merupakan hal sulit, kalau saya harus mempertanggungjawabkan. Yang menjadi masalah perkembangan masyarakat memang bergerak ke arah lain dari yang banyak diramalkan orang. Salah satu contoh bisa kita lihat dari formasi kelas. Di Inggris atau negara-negara Eropa, kelas buruh tradisional yang disebut blue collar worker jumlahnya menjadi sangat sedikit. Ada penelitian yang menyebutkan jumlah golongan buruh semacam ini tinggal 16% dari seluruh buruh di Inggris. Artinya bahwa buruh dengan sifat-sifat yang lain seperti white collar job yang sebetulnya mereka buruh tapi merasa bukan buruh menjadi banyak yang tuntutannya. Berbeda dengan kaum buruh tradisional yang memang bekerja keras dengan tangannya. Mereka ini merupakan kelas yang 100% dikurangi 16% dari buruh tradisional menjadi tidak tertarik pada slogan-slogan kelas buruh yang 16%. Karena itu, sebagai partai kalau kita ingin mendapatkan vote suara dari mereka tentunya harus mengubah strategi. Jadi persoalan kaum sosialis di Eropa adalah mereka melihat kaum buruh tradisional itu tinggal 16%. Kalau dia tetap berpegang teguh pada slogan-slogan, tuntutan-tuntutan tradisional seperti zaman Marx dulu maka dia akan ditinggal pengikutnya. Hal itu merupakan problem sosialis di Eropa, sedangkan problem sosialis di Indonesia sangatlah berbeda, karena kaum kapitalisnya di sini masih kejam seperti kaum kapitalis 100 tahun yang lalu di negara-negara Eropa. Saya rasa dalam gerakan sosialis karena basis kita adalah pengalaman riil dalam masyarakat, maka perbedaan itu menjadi tidak aneh. Namun secara prinsip orang sosialis adalah pemegang prinsip demokrasi yang mungkin paling ketat. Saya sependapat sosialisme haruslah demokratis. Jadi kalau disebut bahwa partai buruh disana berubah, memang situasinya berubah dan mau tidak mau strategi politiknya harus berubah. Namun orang selalu mengira sebagai masyarakat internasional seolah-olah kaum sosial demokrat sama dimana-mana. Saya rasa tidak. Di Indonesia kalau kita bicara soal sosial demokrasi seperti Tony Blair,keblinger namanya.

Di Indonesia, dulu juga ada partai sosialis. Apa sebenarnya yang membedakan organisasi anda, pergerakan sosialis dengan partai atau organisasi-organisasi sosialis yang pernah tumbuh di Indonesia dan mungkin sebagian dilarang, terutama dalam gagasan-gagasan sosialismenya?

Mungkin perbedaannya terletak pada soal waktu dan realitas masyarakat yang ada. Bung Syahrir dalam tulisannya banyak mengatakan kapitalisme nasional tidak ada di Indonesia karena tempatnya sudah ditempati oleh kapitalis asing. Dan kapitalisme asing bersamaan dengan kemerdekaan Indonesia telah berhasil kita usir. Tapi sekarang, dengan asumsi bahwa kapitalis tidak ada, maka tentunya perjuangan tidak perlu mempertajam kontradiksi. Jadi buat kaum sosialis pada zaman Bung Syahrir, mereka mengembangkan cara-cara demokratis, pendidikan dan sebagainya yang lebih ke arah demokrasi. Kalau kita lihat situasi pada waktu itu, mungkin hal tersebut benar karena kemerdekaan sudah dicapai dan perusahaan asing sudah dikuasai oleh Indonesia. Tapi harus diingat, tahun 1948 ada KMB (Konferensi Meja Bundar) yang mengembalikan semua hak kaum kapitalis di Indonesia. Perkebunan-perkebunan dan pabrik-pabrik dikembalikan. Sejak itu muncul masalah apakah kapitalis ada atau tidak? Lalu kemudian oleh Bung Karno dinasionalisir dan hal itu menjadi masalah lagi, apakah kapitalis itu masih ada? Tapi yang riil pada tahun 2000 adalah kapitalis di Indonesia riil ada. Disitulah mungkin perbedaannya dalam pandangan melihat kapitalisme. Kita melihat kapitalisme itu riil ada di Indonesia, karena itu lawan kita adalah kapitalisme. Sementara Bung Syahrir mengatakan kapitalisme nasional itu tidak ada. Sejak kita mendapat keberuntungan sosial dengan harga minyak yang meningkat tajam, kita punya modal yang cukup yang bisa dipakai untuk mengembangkan kapitalisme nasional. Jadi hal yang dulu gagal dikerjakan oleh Bung Hatta dalam membangun kapitalis nasional dengan benteng policy yang memberi modal pada Hasyim Ning, Rahman Tamin dan banyak kapitalis nasional yang ternyata tidak berhasil. Tapi sejak Indonesia mendapat rezeki dari sektor minyak, kapitalisnya muncul seperti seperti Liem Soei Liong. Meskipun orang meragukan namanya kapitalis apa, tapi tetap kapitalisme ada di Indonesia.

Tentang sosialisme di Indonesia, terutama pada tahun-tahun terakhir ini sangat sulit dihadapkan pada masyarakat misalnya soal bentuk yang bisa mereka ikuti atau apa sebenarnya ideologi sosialisme? Tidak seperti partai politik, tidak seperti negara, tidak seperti institusi yang bisa didatangi. Bagaimana mencoba menghadirkan harapan baru tersebut kehadapan rakyat sehingga mereka mau ikut untuk jalan perbaikan?

Harus diketahui selama 30 tahun rezim orde baru kita sudah didepolitisasi. Kebijakan orde baru itu depolitisasi. Rakyat tidak boleh berpolitik. Depolitisasi itu menyebabkan rakyat menjadi deideologisasi atau tidak berideologi. Bersamaan dengan itu rakyat menjadi tidak terorganisir. Tentu hal ini menjadi sulit, karena sulit berbicara masalah sosialisme di dalam masyarakat yang tidak berideologi. Yang kedua, adanya satu kampanye yang dahsyat mengatakan sosialisme itu sama dengan komunisme. Sebetulnya orang sosialis dianggap komunis tidak masalah, namun buat rakyat yang namanya komunis nasibnya jelek sekali. Dua juta rakyat Indonesia dibunuh karena dianggap komunis. Kemudian tentara tidak boleh menikah dengan keluarga komunis. Jadi sekalipun buat kita tidak masalah, tapi buat rakyat bermasalah jika sosialis disebut sama dengan komunis. Tentu mereka tidak mau. Pemahaman ini ternyata bukan saja diikuti oleh rakyat umum akan tetapi dikalangan intelektual. Mahasiswa pun memiliki pemahaman seperti itu. Jadi memang sulit bagi kita untuk mempropagandakan sosialisme. Pergerakan sosialis sudah dideklarasikan pada 1 Agustus 2000 di Parapat, Sumatera Utara. Akan tetapi untuk menyebarluaskan gagasan tersebut menjadi masalah yang sangat besar. Target kita selama tiga tahun membangun organisasi yang berorientasi sosialis ternyata tidak tercapai. Kita hanya mampu membangun 40 organisasi massa yang berorientasi sosialis. Sehingga dengan 40 organisasi semacam ini kami belum bisa dan belum berani mendeklarasikan suatu partai. Kita mungkin berbeda dengan teman-teman yang mendirikan partai di Jakarta. Katakanlah di Jakarta kumpul beberapa orang kemudian deklarasi, sesudah itu mencari massa ke daerah. Namun yang kita ingin adalah kita mendirikan partai yang betul-betul diinginkan rakyat. Artinya kalau kita mempunyai 200 organisasi massa yang berorientasi sosialis, maka 200 organisasi itulah yang harusnya nanti memproklamirkan partai sosialis. Jadi memang perjalannya sangat jauh. Sama seperti apa yang dikatakan Hendry T. Roland Hores, pendiri partai Buruh Belanda 100 tahun yang lalu, yang mengatakan "kita bukan pembangun candi, kita hanya pengangkut batu," kira-kira begitulah peran orang-orang sosialis sekarang ini.

Terhadap ketakutan dari masyarakat dalam menerima propaganda hitam komunisme yang disamaratakan dengan sosialisme dan anda anggap sebagai sebuah hambatan yang cukup besar. Tentunya juga ada hal-hal yang menurut anda memberi harapan, bahwa sebenarnya sosialisme itu memang memang ideologi yang dibutuhkan pada saat sekarang. Harapan atau faktor yang bisa membantu mempercepat gerakan yang anda dan teman-teman buat yang juga bisa mempercepat proses penyebaran, apa saja kira-kira?

Saya rasa kondisi obyektif. Jadi kalau kita lihat kondisi obyektif sekarang masih sama. Upah buruh sangat rendah. Hal ini sama dengan apa yang terjadi 150 tahun di negara-negara Eropa. Dimana keuntungan nilai surplusvalue seluruhnya dinikmati oleh kaum kapital. Demikian juga kaum tani, sekalipun mereka sudah mampu meningkatkan produksi, tapi kehidupan mereka masih tetap sangat miskin, bahkan tidak pernah terangkat derajatnya. Mereka masih menjadi kaum yang terhina di dalam masyarakat. Saya rasa kondisi obyektifnya masih seperti itu. Jadi kondisi obyektif itulah yang memberikan harapan kepada kita bahwa tingkat kesadaran bisa meningkat dan kemudian sadar betul akan ini. Tapi memang kalau kita pilih perjuangan dengan demokrasi, memang ini bukan seperti membalikkan tangan atau memadamkan lampu. Akan tetapi suatu perjuangan yang sangat panjang. Jadi jika saya sudah berusia 63 tahun itu belum apa-apa. Masih banyak teman-teman yang lebih muda yang ikut dalam gerakan ini. Jadi sekali lagi optimisme kita karena keadaan obyektifnya memang semacam itu dan realitasnya memang harus ada perubahan. Di situlah mungkin harapan kita. Bukan kami bermaksud sombong, namun jika mungkin dibanding dengan ideologi-ideologi lain, biasanya orang sosialis itu mempunyai pandangan yang sangat spesifik. Dan tampaknya, kalau dulu orang mengatakan kemiskinan itu disebabkan oleh nasib, sekarang kelompok agamapun sudah sadar bahwa ini kapitalisme. Paling tidak kaum sosialis sudah tidak terlalu sulit untuk mendeteksi lawan-lawan kita. Namun yang menjadi masalah adalah kita perlu memformulasikan apa yang kita ucapkan, slogan kita secara lebih detil, sehingga perjuangan kita bisa mencapai sasaran yang lebih terfokus.

----------------------------------------------------





*) Imam Yudotomo alm adalah anggota PMB angkatan 1961

Jumat, 08 Januari 2016

Yang terlewat

Dari acara kumpul2 PMB 1963, 17 Januari 2016


 Bersama Jendral Wimar Witoelar
Bersama Ibu  Indrawati Poerwo Lukman penari Sunda

======================================================