Selasa, 30 September 2008

Irma Nurmala Pratikto


Mereka Bilang Kegiatan Saya Ajaib-ajaib
Perhimpunan Mahasiswa Bandung A 1979

Tiap kali membuat suatu pencapaian hidup, Irma Nurmala Pratikto selalu penasaran apa lagi yang kiranya dapat ia dilakukan. Perempuan yang akrab disapa Nungky ini sungguh tak betah berlama-lama berada di zona kenyamanan. ''Sejak gadis, saya sudah seperti itu,'' kata pengusaha properti, penyair, atlet petembak, dan relawan search and rescue ini.
Mengusung prinsip seperti itu, tak heran jika Nungky memiliki daftar riwayat hidup yang berlembar-lembar panjangnya. Sejumlah organisasi pernah dijajalnya. Uniknya, Nungky lebih banyak berkecimpung di domain lelaki. ''Saya nyaman dan cocok berada di dunia laki-laki,'' ujar alumnus Sekolah Tinggi Teknologi Mandala (STTM), Bandung, Jawa Barat, ini.
Semasa remaja, Nungky bergabung bersama angkatan pertama Pramuka dan Taruna Pecinta Alam (Trupala) SMA Negeri 6 Bulungan, Jakarta Selatan. Begitu kuliah, Nungky semakin aktif berorganisasi. ''Saya ikut Wanadri, Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), Resimen Mahasiswa (Menwa), dan Merpati Putih,'' ujar Nungky. Masuk PMB tahun 1979, Nungky harus mengikuti perploncoan selama dua pekan.
Seabrek pengalaman membuatnya menjadi perempuan tangguh. Terlebih, saat ia terjun di dunia properti yang sesak dengan kaum laki-laki. Di awal masa bekerjanya sebagai project engineer di Raya Incorp, kemampuan Nungky pernah diuji oleh rekan pria. Nyali Nungky tak ciut. ''Saat mengecek karakteristik beton, saya lihat ternyata tak sesuai standar. Saya tegur mereka. Mereka tak koreksi. Saya terus menegur hingga ada perbaikan,'' kata dia.
Berada di antara banyak lelaki, Nungky tak lantas jadi tomboi. Ia tetap luwes lenggak-lenggok di atas catwalk dan anggun berpose di depan kamera. ''Saya pernah naik catwalk PMB dan menjadi model majalah Femina serta Q's,'' ujar dia.
Sejalan usia, Nungky mengaku penampilannya menjadi lebih feminin. Namun, hasratnya untuk terus mencoba sesuatu yang baru tetap bergelora. ''Bedanya, saya sudah berumah tangga, punya anak, bekerja, dan terbatas umur,'' jelas dia.
Kini, Nungky masih menjadi atlet petembak nasional yang aktif di Global Rescue Network. Ia juga giat melahirkan karya sastra dan sesekali mementaskannya. Di antara padatnya kegiatan hariannya, Nungky mengalokasikan sebagian waktunya pada Selasa (2/8) untuk berbincang dengan wartawan Republika, Reiny Dwinanda, dan fotografer, Amin Madani. Berikut petikannya:
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/119/news_id/5428
Repubilka 28 September 2008

Rabu, 24 September 2008

PMB angkatan 1975

PMB angkatan 1975


Perploncoan Perhimpunan Mahasiswa Bandung th 1975 (koleksi RH 70)











Senin, 22 September 2008

Diana C Pondaaga

Berikut petikan wawancara wartawan Republika, Reiny Dwinanda, dan fotografer Amin Madani dengan Diana Pondaaga:


(hanya sebagian yang di posting.... lebih lengkapnya lihat Republika Senin 22 September 2008)

Menyukai Film-film Kisah Nyata
Semasa remaja, Diana Pondaaga sering tampil di ajang peragaan busana bergengsi di Bandung, Jawa Barat. Perempuan kelahiran Makassar, 15 Juli ini menikmati profesinya sebagai model catwalk. Semasa kuliah, ia juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) sejak 1970. Namun, kegiatan model dan organisasi kemahasiswaan itu tak membuatnya lalai melanjutkan studi. Hanya, ketika berada di tingkat enam Universitas Padjadjaran, ia memutuskan untuk memperkaya wawasan ke Jerman. Diana berangkat ke Jerman tahun 1976. Di sana, ia mengikuti pelatihan salon rambut selama tiga tahun dan bekerja dua tahun berikutnya. ''Saya pulang ke Indonesia tahun 1981 dan menyelesaikan S1,'' kenang insinyur pertanian yang meraih gelar master of management dari Universitas Indonesia ini. Tahun 1986, Diana menikah dengan Iriantoko, seorang arsitek. Pernikahan itu terjadi atas jasa mak comblang. ''Mereka suami-istri. Yang mempertemukan sudah cerai, kami jalan terus,'' ketua PPRS apartemen di Slipi ini terkekeh. Pasangan Diana-Iriantoko tak memiliki keturunan. Mereka tak gusar menghadapi kenyataan itu. ''Kami malah bisa jalan-jalan, travelling, tanpa rencana,'' jelas Diana. Di kesehariannya, Diana gemar membaca. Buku-buku pengembangan pribadi dan spiritual adalah bacaan favoritnya. ''Saya juga suka nonton DVD yang true story,'' ujar perempuan berdarah Manado ini. Menatap ke belakang, mencermati pengalaman hidupnya, Diana tak memiliki penyesalan apapun atas pilihan masa lalunya. Tetapi, usai membaca buku pakar investasi, Robert Kiyosaki, ia sadar ada peluang bisnis luput digarapnya. ''Andai saja saya dulu membuka usaha salon, mungkin bisa seperti Johnny Andrean yang sukses dengan ratusan cabang salon di Indonesia,'' gumam Diana. n

Kamis, 18 September 2008

Menuju format masa depan




Diskusi serta buka puasa bersama di rumahnya Sn Dedi Panigoro untuk menuju format PMB masa depan yang yang diwakli oleh 16 angkatan di PMB

Jumat, 12 September 2008

Tulisan Wimar Witoelar

BLOG SEBAGAI MEDIA GERAKAN
Wimar Witoelar PMB 63
www.perspektif.net/i/art/cap025.jpg

Pada saat pemerintah menaikkan harga BBM, sekelompok intelektual tukang beramai-ramai melakukan kampanye memberikan dukungan. Kampanye tersebut dilakukan dengan menggunakan (ceritanya) data-data. Mereka menyiarkannya melalui televise, radio, koran dan lain-lain. Anda percaya? Kami tidak!.
Kelas menengah yang berisi kaum intelektual bisa saja condong pada supra struktur, maupun pada basis. Para intelektual tukang yang memakai baju penelitian dll bisa saja melakukan kampanye meninabobokan masyarakat. Mereka bertugas meredam gejolak, mengkonter kritik, menghapus keraguan dengan mimpi-mimpi kesejahteraan. Kita tahu itu bohong.
Masalahnya adalah kebanyakan kita tidak bisa pasang iklan di koran ataupun Televisi. Karena televisi adalah milik Mamamia-Show dan para intelektual tukang tersebut. Percaya tidak percaya, sekarang ada media gratis untuk menyuarakan aspirasi, namanya blog. Sebenarnya blog sudah ada dari dulu, mungkin kita saja yang terlambat.
Kita bisa mengawinkan blog dengan YouTube, social networking dirctory, bahkan dengan affiliate program (itung-itung nambah danrev). Walaupun akses internet masih terbatas, tapi minimal kita bisa mengoptimalkan pengopinian melalui media internet agar berpihak pada rakyat kecil (mustadh’afin).
Caranya, jika ada satu berita mengenai kebijakan yang merugikan rakyat, blogger bisa ramai-ramai membuat opini kontra. Sehingga, saat pengguna internet mencari berita tentang kebijakan tersebut, opini para intelektual tukang dapat ditandingi dengan opini aktivis gerakan pro-rakyat.
So, tulisan singkat tidak bermutu ini hanya bermaksud mengajak teman-teman untuk menjewer para pejabat yang kerjanya tidak becus dan kebanyakan tidur, memberikan informasi pencerahan, mengkritisi pendidikan mahal dan menjadikan blog sebagai media gerakan.

Yuk kita nge-move dan nge-blog

Kamis, 11 September 2008

Arsip Perploncoan 1972 dan 1999

Diambil dari buku acara 40 tahun Perhimpuan Mahasiswa Bandung tahun 1987

=============

MPAB 1999

Kamis, 04 September 2008

Foto Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Dendang Syahdu Bimbo

Seperti tahun-tahun biasanya di tanah air, selama Ramadhan lagu-lagu Bimbo banyak menghiassi televisi di tanah air.. Kali ini Ramadhan dan Lebaran jauh dari kampung halaman, sedikit mengobati kangen suasana Ramdhan dan Idul fitri seperti di tanah air, alunan merdu dari Syam, Jaka, Acil dan Iin Parlina (PMB 71) menyampaikan pesan-pesan pengingat hati.. Untuk sahabat yang bersama-sama beribadah Ramadhan dan merayakan Idul Fitri di perantauan, silahkan mendengarkan yach.

Download Lagu
http://fafank130.multiply.com/music/item/20

To Ogle Orde Baru

Oleh : Lestari Putryanto anggota Perhimpunan Mahasiswa Bandung Ang 2007

Dua pekan terakhir ini,Masyarakat, Pers disibukan oleh berita berita seputar Cendana,terutama setelah tokoh utamanya terbaring sakit.padahal masalah seputar naiknya beras,dan kelangkaan minyak tanah harusnya jadi topik terhangat pekan ini, tapi ternyata tidak.rakyat lebih antusias dan interest seputar perkembangan kesehatan mantan orang No.1 di masa Orde baru
Ini.Pra dan pasca kematian Raja Jawa ini,terbilang Fenomenal.
Luar biasa Ternyata Rakyat Indonesia tipe PEMAAF..walaupun secara tidak langsung mereka telah Terdzolimi selama 32 tahun.
Walahuallam Bi Soaaf
Orde baru merupakan suatu tatanan baru yang bertekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 45. secara murni. Penataan yang baru tersebut bukan hanya masalah politik, sosial, ekonomi, dan budaya saja. Tetapi juga ditujukan pada nilai-nilai sosial kultural agar nilai-nilai yang baik tidak diselewengkan.Orde baru juga diniatkan sebagai Orde yang mengoreksi terhadap penyelewengan dimasa lampau ( Orde Lama ) dan menyusun kembali kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa.
Dalam perjalanan sejarah Orde baru yang panjang, Indonesia dapat melaksanakan PEMBANGUNAN….
Namum sangat disayangkan bahwa keberhasilan pembangunan tersebut tidak merata.kemajuan Indonesia ternyata hanya semu bahkan Palsu.ada kesenjangan sosial,gejala Korupsi,Kolusi dan NepotismePun merebak.
Tahun 1997, rakyat dilanda krisis ekonomi.yang ditandai dengan naiknya harga Sembako dan kebutuhan” lainnya.sehingga daya beli masyarakat menurun. Krisis ekonomi inilah yang terus melahirkan krisis politik yang di tandai dengan ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahan Soeharto.gerakan melawan pemerintahpun muncul secara periodik.terutama yang dipelopori oleh kaum elite Mahasiswa dan para musuh politik soeharto.
Di tahun 1998 tepatnya bulan Mei tanggal 20, terjadi Demo besar-besaran.sebuah Motto berlaku ”Sejarah pasti terulang ” tidak jauh beda orde lama pun berakhir dengan cara itu.rezim Orde baru pun berahkir demikian dan diakhiri dengan penyerahan kekuasaan kepada B.J Habibi satu haru setelah itu..
Selamat jalan Bapak soeharto, jutaan Rakyat yang sedang menderita mendoakan Mu..semoga Allah Swt, memberikan tempat yang sebaik-baiknya.dan semoga INDONESIA lebih Baik lagi.Amiin

Calon Presiden boneka

republika, ahad 27 juli 2008
Levende Wayangpoppen Oleh Priyantono Oemar, Perhimpunan Mahasiswa Bandung A 89
Ronggowarsito mempunyai tembang yang pas buat para sultan di Jawa, di bagian terakhir Serat Kalatidha. Isinya menggambarkan posisi raja utama dengan para pembantu yang yang jagoan, tapi tak mampu menjalankan tugasnya, yaitu mencegah kalabendu (bencana):

Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Parandene tan dadi
Paliyasing kalabendu

Di abad ke-18, para sultan di Jawa (tengah bagian selatan) itu menjadi penguasa karena perkenan Belanda. Mereka pun hidup dari subsidi Belanda. Dalam studinya, Breton de Nijs pada 1961 menyebut para sultan itu dengan istilah levende wayangpoppen.

Boneka-boneka hidup. Sebagai boneka hidup, mereka sesuai dengan pepatah Jawa: Kacang mangsa ninggal lanjaran (kacang panjang takkan mungkin meninggalkan tiang perambatnya).

Tiang perambat, sepertinya, juga tak mungkin meninggalkan kacang panjang. Para sultan Jawa adalah kacang panjang, Belanda adalah tiang perambat. Karena Belanda menjadi tempat hidup para sultan, susah rasanya bagi Belanda meninggalkan para sultan itu. Maka, ketika Diponegoro mendapat perintah dari Ratu Roro Kidul agar merebut Jawa dengan melakukan perlawanan terhadap para sultan, Belanda pun berada di belakang musuh-musuh Diponegoro. Tiang perambat yang berbeda, saat ini masih berdiri untuk kacang-kacang yang berbeda pula. Jika mau kembali ke masa kecil, kita bisa membuat imajinasi liar soal kacang panjang dan tiang perambat ini. Dalam imajinasi itu, kacang-kacang itu tumbuh subur. Meski kacang lokal, tapi mendapat pupuk dari luar. Kacang-kacang itu kemudian berbuah boneka-boneka hidup. Bisa bicara, membela mati-matian tiang perambat yang diserang banyak orang.

Boneka-boneka itu menggunakan liberalisme untuk menyerang balik orang-orang yang akan mencabut tiang perambatnya. Boneka-boneka itu pun menggunakan media untuk kampanye mereka. Di dalam negeri, mereka mengusung kepentingan dari kelompok kepentingan swasta. Bukan dari kelompok kepentingan umum. Mereka memasang iklan soal perlunya mendukung kenaikan harga bahan bakar minyak. Mereka juga tak keberatan atas upaya menjual aset-aset negara, untuk kemudian mengatakan lewat acara di televisi: Save Our Nation.

Demokrasi telah memberikan kesempatan kepada siapa saja di bumi Indonesia ini. Dalam dunia khayali kanak-kanak itu, boneka-boneka hidup yang muncul dari buah kacang panjang panjang itu juga ingin ikut pemilihan presiden. Mereka merasa mampu mengelola negeri ini, untuk memenuhi kepentingan dari kelompok kepentingan swasta itu. Mereka merasa tak lebih jelek dari calon-calon lain yang sudah lebih dulu menyatakan siap maju. Dengan liberalisme sebagai bahasa krama inggil mereka, boneka-boneka hidup itu merasa sudah dimanusiakan oleh kelompok kepentingan swasta itu. Dengan liberalisme sebagai bahasa krama inggil, tentu boneka-boneka hidup itu tak akan bisa memahami bahasa ngoko yang dipakai oleh kelompok kepentingan umum, yang tak setuju aset-aset bangsa digadaikan. Perdebatan dengan dua bahasa itu tentu tak nyambung satu sama lain. Tapi, tiang perambat tak peduli terhadap hal itu, sebagaimana halnya dulu, Belanda pada mulanya juga tak peduli pada pertengkaran masyarakat Samin yang menggunakan bahasa ngoko dengan kelompok keraton yang menggunakan bahasa krama inggil. Toh, pada akhirnya, Belanda menggunakan kekerasan juga untuk menghadapi kelompok Samin yang terdiri dari para petani gurem itu.

Masih dalam imajinasi yang seolah-olah sebuah kenyataan itu, para dalang dari kelompok kepentingan swasta memainkan boneka-boneka hidup sedemikian bagusnya. Karenanya, di panggung, boneka-boneka hidup itu mampu menyita perhatian penonton. Huebat.... Wayang beber saja kini sudah punah. Tak ada lagi dalang yang mampu memainkan wayang beber sebagaimana halusnya pertunjukan wayang beber di masa Majapahit.

Dan, di era modern ini, kelompok-kelompok kepentingan swasta mampu menciptakan levende wayangpoppen dari kacang panjang, dan memainkannya dengan teknik-teknik permainan mutakhir. Seolah, dalang-dalang itu tak menggerak-gerakkan boneka-bonekanya. Boneka-boneka itu, terlihat natural bergerak memainkan perannya mewakili kepentingan- kepentingan sang dalang. Sang dalang tentu mempunyai pemahaman lebih soal menjaga loyalitas. Jangan sampai kacang panjang yang berbuah boneka-boneka hidup itu tak mau merambati lanjaran. Para dalang itu tentu tahu praktik dalam bisnis. Bahwa loyalitas pelanggan bisa dibeli. Karenanya, para dalang itu rajin memberi pupuk pada kacang-kacang itu, agar tumbuh subur dan tetap merambat di tiang perambat. Kemudian, ketika kacang-kacang itu telah berbuah boneka-boneka hidup, para dalang juga rajin memberi makan boneka-boneka itu. Kalau boneka-boneka hidup itu di kemudian hari bisa menjadi presiden atau wakil presiden, kepentingan mereka tentu akan dengan mudah terpenuhi lewat boneka-boneka itu.

Arrrrrrggggh. ... Kirain ini hanya imajinasi kanak-kanak saja. Ternyata, kita benar-benar melihatnya dalam kenyataan. Bahwa ada banyak boneka-boneka hidup. n proe12@republika. co.id

Brings Back Old Memories at BLOEMEN - Bandung



Owner : Suntana Perhimpunan Mahasisawa Bandung A 64

Maknyus *** menurut Bondan ahli kuliner


Bloemen yang didirikan tahun 2004 ini mulanya berupa Resto & Café yang berdiri mengisi salah satu kavling di Cihampelas Walk. Sejak akhir tahun 2007 BLOEMEN pindah ke Jl. Boscha 45 Cipaganti, di belakang pompa bensin Cipaganti, menempati sebuah rumah, dengan suasana yang lebih homey sehingga konsep Bloemen sebagai restoran keluarga lebih terasa.
Sebagai sebuah resto, Bloemen cukup kreatif dengan mengangkat tema “ Old Bandung Lovers”. Makanya jangan heran, begitu menginjakkan kaki di sana kita akan “ disambut” sebuah rumah tua dengan galeri koleksi foto Bandung Tempo Doeloe.
Soal makanan..wuuiihh,,jangan ditanya deh! Bloemen menyajikan menu yang bervariasi mulai dari appetizer, burger, chef’s suggestion, Unique Bloemen, makanan asia, dll.
Misalnya saja nih Bloemen Spesial Burger yang di dalamnya berisi beef, telor, dan keju yang menggoda plus ukurannya yang bikin kenyang abisyyy!!!! Atau mau nyoba Carpaccio Gratin yang berupa daging tenderloin dengan saus pesto dan tutupan mozarella dihidangkan dengan sayuran rebus dan garlic bread. Ada lagi nih yang namanya Potato Creamy Veal yaitu potongan baked potato dan irisan ayam disiram dengan keju morazella. Hhmmm..yummy..!!Gak salah deh kalau Bloemen mendapat predikat “ Mak Nyuss” dari pakar kuliner Bondan Winarno.

Manajemen Energi yang Amburadul

Oleh Andi Sahrandi Konsultan Teknik , Perhimpunan Mahasiswa Bandung A 67

Listrik yang dipasok PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sering mati-hidup, karena kurang pasokan batu bara. Padahal kita punya batu bara dan bahan bakar minyak yang banyak. Tapi, ternyata bukan milik Republik, melainkan pengusaha, akibat peraturan yang tidak berpihak kepada rakyat. Krisis listrik diperkirakan akan terus berlanjut akibat PLN kesulitan pasokan batu bara ini.
Kita juga punya minyak dan gas, tapi kita selalu kekurangan, karena juga bukan milik Republik, melainkan pengusaha yang membengkakkan cost recovery, sehingga bagian mereka lebih banyak dari rakyat. Kita tak bisa seperti Venezuela yang memiliki pemerintah yang tegas, yang mengatur energi yang berpihak kepada rakyat.
Kita juga tidak serius menangani biofuel. Yang ada, lembaga-lembaga yang berkompeten soal energi tidak mampu memprogramkan dengan baik. Kita hanya bisa dibohongi oleh “blue energy” saja. (Ingat Cut Zahara Fona yang berhasil membohongi pejabat negara di awal tahun 70-an dengan bayi ajaibnya dan Markonah yang membohongi pejabat negara awal 60-an dengan pengakuannya sebagai ratu Kubu. Ingat pula menteri pertanian yang melaporkan adanya guci yang dapat menyuburkan tanah di pertengahan 70-an. Juga, menteri agama yang menggali situs bersejarah mencari harta karun di awal 2000-an).
Pembuatan-pembuatan pembangkit energi juga tidak terprogram. Pembuatan-pembuatan pembangkit energi sekarang dilakukan lebih karena kepepet atau karena ada pihak-pihak tertentu yang lagi berbisnis. Kita juga tidak serius mencari sumber-sumber energi listrik untuk daerah-daerah dengan cara memakai energi air dan angin yang jauh lebih murah.
Dulu ada rencana membuat Dewan Energi Nasional. Tapi, rencana itu tidak pernah terwujud. Padahal hal tersebut sangat penting. Manajemen energi sangat penting untuk diseriuskan, karena ketergantungan kita sangat besar pada energi. Dewan Energi Nasional dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan energi nasional dan mengawasi pelaksanaan kebijakan itu.
Kebutuhan kita pada energi untuk 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun ke depan perlu diprediksi dengan benar. Peningkatan dari pertumbuhan penduduk mengakibatkan juga pertumbuhan kebutuhan energi untuk rumah tangga (listrik, gas, dan lain-lain), kendaraan/transport asi, bisnis, industri, dan lain-lain.
Tiadanya manajemen energi nasional membuat peningkatan kebutuhan energi terus tidak terkontrol. Pada 2007, peningkatan kebutuhan pada minyak mencapai 12 persen dan peningkatan kebutuhan gas mencapai 15 persen untuk minyak.
Karena itu, kita perlu mengkaji sumber-sumber energi yang kita punyai itu. Berapa banyak batu bara kita, minyak kita, gas kita, angin kita, air kita, biofuel kita, panas bumi kita, dan lain-lainnya. Berapa banyak yang tersedia dan berapa lama dapat bertahan?
Dengan mengetahui jumlah deposit sumber energi kita, kita juga perlu membuat rencana penggunaan sumber energi menjadi energi sesuai dengan kebutuhan. Rencana itu perlu disusun secara bertahap sesuai tingkat kebutuhan yang terus bertambah. Berdasarkan hal-hal tersebut, kemudian pemerintah harus segera membuat peraturan-peraturan yang betul-betul harus ”menguntungkan rakyat Indonesia”, seperti yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 33.
Peraturan yang tepat itu diperlukan untuk mengatur pola kepemilikan sumber, pola produksi, pola tata niaga, dan lainnya. Dalam hal ini, tentu saja harus ditegaskan secara nyata untuk kepentingan rakyat Indonesia sebagai yang dinomorsatukan.
Baru kemudian untuk kepentingan ”dagang”. Pentahapan lewat rencana ini harus dilakukan (ingat Repelita). Harus dipikirkan pula kepentingan anak-cucu bangsa sendiri, baru untuk orang lain.
Adanya Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, belum memberikan kabar baik. Karena aturan itu dibuat tanpa perhitungan yang matang.
Melihat upaya yang dilakukan pemerintah sampai hari ini, mana mungkin pada 2025 pemanfaatan minyak bumi hanya 20 persen dari total pemanfataan energi di Indonesia? Mana mungkin pemanfaatan batu bara pada 2025 bisa mencapai 33 persen jika sampai hari ini, pemerintah belum memedulikan kepentingan dalam negeri?

Telaah - 43 Tahun Nuklir Indonesia


Oleh Adjar Irawan S Hidayat , Perhimpunan Mahasiswa Bandung A 58

Jakarta (ANTARA News) - Bulan ini, 43 tahun lalu, bangsa ini mulai berbicara tentang reaktor nuklir, terhitung sejak “criticality- experiment” terhadap reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung berhasil dilakukan dengan baik.
Pemimpin percobaan Djali Ahimsa menulis dalam “log-book” tertanggal 16 Oktober 1964 : 18.37,5?, predict 57,5 critical.
Catatan itu menunjukkan bahwa pada jam tersebut sebanyak 57,5 batang elemen bakar nuklir (berisi 2,3 kg U-235) telah dipancingkan ke dalam teras reaktor dan pada kondisi itu reaksi inti yang berkesinambungan tepat sudah bisa terjadi.
Besaran 2,3 kg U-235 disebut bobot-kritis. Kritis di sini tidak ada kaitannya dengan bahaya.
Jauh hari kemudian, kepala proyek pembangunan reaktor Triga, Djali Ahimsa, menjadi Dirjen Batan.
Ketika itu, para pakar yang terlibat bersorak gembira dan lega.
Keesokan harinya, 17 Oktober 1964, koran daerah Harian Karya memberitakan soal kedatangan abad nuklir.
Sedangkan Radio Australia menyiarkan berita keesokan harinya “Indonesia mampu membuat reaktor atom”. Berita ini disusul dengan ulasan dua menit oleh “stringer” AK Jacoby yang menulis : Indonesia masuk abad nuklir.
Bersama 11 unit yang lain, reaktor jenis riset-reaktor ini (tipe Mark I dan Mark II) buatan General Atomic Mark II merupakan hibah dari pemerintah AS, awal 1960-an, kepada ke Vietnam, Korsel, Italia, Austria, Jepang, dan Indonesia seharga 350.000 dolar AS per unit. Kegunaannya untuk pelatihan, riset, produksi radio isotop.
Sekitar 25 tahun kemudian semua reaktor hibah tersebut telah dihentikan operasinya (decommissioning) karena sudah mencapai batas usia operasi, kecuali reaktor milik Indonesia, karena komponen-komponen utamanya telah diganti dengan membongkar reaktor kemudian memasang kembali dengan komponen baru sebanyak dua kali.
Pembongkaran pertama pada 1972 dipimpin Sutaryo Supadi dan pada 1997 dipimpin Haryoto Djoyosudibyo dan A. Hanafiah.
Pengawasan dilakukan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) atas segala sesuatunya, terutama neraca pemakaian dan keluar masuknya U-235.
Reaktor tipe itu, sebagaimana reaktor-riset lain pada umumnya, tidak mungkin meledak karena elemen-bakar U-235 konsentrasinya hanya 20 persen, sedang untuk bom perlu 98 persen. Jadi elemen-bakar kedua instalasi nuklir itu berbeda.
Lagi pula elemen bakar U-235 disenyawakan dengan “zirconium-hidrida” yang berubah menjadi bukan bahan bakar secara seketika, begitu temperatur terlalu tinggi sebelum meledak (negative prompt reactivity coeffisien).
Reaktor yang bekerja selalu menghasilkan panas dan netron. Panas bisa diubah menjadi energi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), sedangkan partikel netron untuk membuat “radioisotope” dengan cara menumbukkan kepada suatu zat kimia biasa menjadi zat radioaktif.
Kini Kepala Pusat Instalasi Nuklir di bawah naungan Batan ini dipimpin oleh Djatmoko M.Sc yang menyatakan sejauh ini tidak ada kecelakaan atau insiden nuklir, kecuali beberapa kali anomali yang sama sekali tidak membahayakan personel, termasuk pada waktu bongkar pasang reaktor dengan penggantian komponen-koponen utama (tangki, reflector, bellow, Lazy Susan, batang kendali, dan elemen-bakar) .
Aplikasi radioisotope
Para pakar telah mempelopori aplikasi “radioisotope” yang dihasilkan untuk penelitian hidrologi, seperti terhadap kebocoran tanggul Waduk Darma Kuningan (1967), penelitian gerakan sedimen Pelabuhan Tanjung Priok (1972), kedokteran nuklir (1970), pertanian (1969), dan industri (1968) dan kini telah mencapai jumlah puluhan proyek lainnya.
Pengiriman zat radioaktif juga pernah dilakukan ke Malaysia (1971) dan Singapura (1972) untuk penelitian. Pengiriman ini mempelopori ekspor zat hasil teknologi tinggi ini (Molybdenum) ke Malaysia sejak 15 tahun lalu, ke Vietnam, Thailand, bahkan Jepang sebagai hasil produksi Reaktor GA Siwabessy di Serpong buatan RFJ (reaktor riset ketiga) oleh PT Batantek (dipimpin oleh almarhum Bustomi dan Mulyanto).
Ratusan mahasiswa telah memanfaatkan reaktor Triga sebagai objek atau subjek tugas akhir. Reaktor telah beroperasi lebih dari seratus ribu jam.
Belasan senyawa “radioisotope” yang dibakukan telah dihasilkan. Satu di antaranya “Iodium-Hipuran” telah dipergunakan untuk diagnosa ginjal (renogram) terhadap ratusan pasien di delapan 8 Klinik Kedokteran Nuklir.
Kepercayaan IAEA kepada pakar Triga dibuktikan dengan belasan kontrak riset yang diberikan, dimulai riset tentang “tritium” atas nama Prof. Oei Ban Liang (1973) dan penyelenggaraan beberapa kali pertemuan ilmiah internasional serta penulisan hasil penelitian diberbagai jurnal fisika, kimia, dan biologi internasional.
Pengalaman mengganti komponen utama reaktor tersebut menjadi pelajaran untuk membangun reaktor nuklir sendiri, baik disain maupun konstruksinya seperti reaktor Kartini (1979) di Yogyakarta yang dipimpin Iyos R. Subki dan Suroto Ronodirjo (alm).
Pengalamam itu juga menjadi pelajaran dalam merencanakan membangun sebuah reaktor khusus hanya untuk produksi “radioisotope” yang semua komponennya merupakan hasil industri dalam negeri (kecuali peralatan kontrol elektronik dan elemen bakar uranium).
Pendidikan khusus pakar ke Inggris telah siap tahun 1994, tetapi tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada dana. Studi kelayakan penjualan “radioisotope” melalui agen internasional di Inggris dan Kanada telah rampung dan impas dicapai dalam 6-7 tahun.
Sebagai pemerhati nuklir yang pernah berkecimpung dalam perkembangan tenaga nuklir selama 20 tahun (1960-1980) dan mengamati di sana-sini perkembangannya termasuk kontroversi pembangunan PLTN sampai kini.
Dari pengamatan itu bisa disimpulkan bahwa tanpa niat, keberanian dan tekad bulat, bangsa Indonesia yang masih awam dan minim tenaga ahli reaktor pada waktu menginstalasi reaktor pertama Triga Mark II di Bandung awal tahun 1960-an tidak akan berhasil mencapai sasaran.
Demikian juga jikalau pemerintah dan parlemen, misalnya, memutuskan akan membangun PLTN, maka tekad bulat dan keberanian yang diperhitungkan harus dipegang teguh, bersatu-padu.
“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”.



*) Adjar Irawan S Hidayat, pemerhati nuklir, alumni Fisika ITB tahun 1967, operator angkatan pertama reaktor Triga Mark II tahun 1964, dan Ketua Asosiasi PBB Indonesia (United Nations Association in Indonesia) sejak 1973-sekarang. Dia juga peraih Piagam Pembawa Pesan Perdamaian (Peace Messenger) PBB tahun 1994. (*)