Senin, 07 September 2015

50 tahun PMB 1965


Iwan Abdulrahman 



 Serah terima kePMB 1967 untuk siap2 acara 50 tahun PMB 1967

Selasa, 18 Agustus 2015

Pak Ahmad Kurus Almarhum: Bangsa Indonesia Seumur Hidup Berutang

Pak Ahmad Kurus almarhum (PAK) seumur hidupnya tinggal di Pondok Cabe Udik, Tangerang. PAK adalah Orang Betawi asli. Pada saat saya masih bertugas, PAK bekerja di perusahaan sebagai Tukang Kebun. Pendidikan PAK hanya tamat Sekolah Dasar.
Pak Ahmad diberi gelar Kurus karena ada beberapa karyawan yang bernama Ahmad dan Beliau paling kurus. PAK adalah orang yang sangat baik hati, selalu senyum, selalu siap menolong orang lain. Saya panggil Beliau karena hormat saya pada pandangannya tentang Hidup. Saya belajar dari Beliau.
Pak Ahmad Kurus almarhum muram dan sedih

Pada suatu saat saya melihat PAK muram dan sedih.Atas pertanyaan saya, berikut penjelasan PAK: 
Minggu depan saya menikahkan anak saya. Anggaran tersedia Rp 5 juta. Ini benar-benar maksimum kemampuan saya, sudah habis-habisan demikian ungkapan PAK. Dari Dana Rp 5 jt sesudah dipotong biaya Akad dan biaya lain-lain , tersisalah dana untuk mengundang 10 orang.
Kebiasaan dikeluarga saya, dikampung saya, saudara-saudara, keluarga dekat dan tetangga memberikan amplop. Sekarang sudah terkumpul Rp 10 juta. Istri, anak-anak dan Calon Pengantin bersorak-sorai karena pesta pernikahan akan meriah. Jumlah Undangan mencapai 100 orang.

Saya berkata dalam hati bahwa total uang dalam Amplop, yaitu Rp 10 juta adalah utang saya kepada Keluarga dan Tetangga. Utang harus dibayar. Pesta pernikahan anak saya akan berjalan dengan Meriah. Meriah tetapi sesugguhnya diluar kemampuan saya. Pesta yang meriah dengan cara berutang. 

PAK: coba dihitung berapa kali saya mengadakan acara keluarga dengan cara berutang. Dari Khitanan anak, Hari Ulang Tahun saya sendiri, istri dan anak-anak. Belum lagi pada waktu Kematian Ibu dan Bapak saya. Seumur hidup saya Dililit Utang. Kemampuan saya memberi pendidikan kepada anak-anak saya, sangat terbatas. PAK tidak berdaya menolak tekanan adat. PAK sedih: Anak-anak saya paling-paling menjual rumah saya , kalau saya meninggal.
Saya sampaikan pandangan PAK pada anak Pabrik, sejawat PAK. Praktis semua mengatakan: Atas kebaikan saudara-saudara kita dan tetangga kita, dengan biaya terbatas, kita dapat mengadakan Pesta Meriah. Soal pengembalian amplop itu kan tidak harus segera dibayar kembali. Disyukuri, dijalanin saja demikian pandangan mereka.
Bangsa Indonesia tidak berdaya menghindar dari Tekanan Amplop.
Bayangkan betapa rentannya Bangsa Indonesia, Bangsa yang seumur hidup berutang. Mungkinkah Bangsa Indonesia dapat bersaing dengan Bangsa Lain jika seumur hidup berutang?
Mempraktekkan Pandangan Hidup PAK


Filsafat hidup PAK menyadarkan saya betapa beratnya anak-anak pabrik (pendidikan STM) apalagi Petugas Kebersihan, Tukang Kebun, menjalani hidup mereka agar memiliki rumah dan tidak menjual rumah begitu pensiun. Perjuangan mereka agar anak-anak mereka mencapai gelar Sarjana dan Utama: Jangan menyusahkan Anak.
Saya mengenang Pak Ahmad Kurus almarhum dengan rasa hormat, dengan rasa terima kasih. Pak Ahmad Kurus memberi saya pelajaran tentang Hidup.

Oleh :

Robert Parlaungan Siregar  PMB 1956

Rabu, 13 Mei 2015

Perploncoan PMB bercerita , Panti asuhan, PMB 1965




Dari Kiri ke kanan Erna Witoelar (PMB 65) , Walikota Bandung,  Riani Inkiriwang  (PMB 65), Yeti (PMB 65), Rudy Djamil  (PMB 67)  dan ketua Senat PMB.  Dalam rangka program Penghijauan  "PMB Gives Back to Bandung,"   Golden Jubilee PMB 1965.





 50 tahun PMB 1965…. Bakti Lingkungan PMB untuk penghijauan di UNPAD... dibagikan ke 8000 mahasiswa baru oleh Erna Witoelar PMB 65 (pernah Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)), Setyanto Ps PMB 65 (pernah Dirut Telkom) , dan Iwan Abdulrahman PMB 65 (penyanyi, pencinta lingkungan)


=================================================================

"Akibat MPAB PMB 2015"

Januari...
Malam sebelum briefing pagi, aku mendaftar online untuk mengikuti MPAB PMB 2015..
Detik terakhir yang membuatku tak berpikir lama untuk menguatkan tekad lewati 'perpeloncoan' yang berlangsung selama 10 hari..
Hari demi hari kulalui, ada perasaan aneh dalam diri 'mengapa aku rela mengikuti segala rangkaian perpeloncoan ini?' dan 'aku selalu dibuat penasaran dengan apa yang akan dilakukan para Tuan Senior dan Nona Seniorita padaku'.
Tak terasa 10 hari itu berlalu dan berakhir di malam inagurasi, aku merasa waktu berlalu begitu cepat..
'Benarkah aku telah melewati 10 hari?'
'Apakah aku bermimpi, Tuhan?'

Efek dari perpeloncoan itu terasa hingga saat ini, selalu ada cerita dibalik perjalanan hidupku..
Tanpa sadar aku melewati semua dengan 'enjoy', yupzZz..'cause life is never flat..
Seperti saat perpeloncoan dulu, kini aku selalu menanti kejutan apa yang Tuhan berikan setiap harinya padaku..
Aku akan tetap menanti kejutan-Mu, Tuhan, hingga Kau sampaikan aku di 'hari persidangan' untuk mempertanggungjawabkan segala langkahku..
Lalu Kau dan para malaikat-Mu menjamuku dalam Surga..

Ya, seperti para Tuan Senior dan Nona Seniorita yang menjamuku di malam inagurasi..
Sungguh Tuhan, aku berharap Kau sudi menyambutku dalam kegembiraan bersama orang-orang beriman yang telah berjuang dalam kepayahan..

PMB...
Sebuah nama, sebuah cerita..
Katanya 'Perpeloncoan Never Ending Story', perpeloncoan mengajarkan aku bahwa 'dalam hidup akan selalu ada suka-duka, puja puji-caci maki, hina-mulia, tawa-air mata'.
Being the moment!!
Hadirkan dirimu dalam setiap episode kehidupan, suka tak suka itulah jalanmu!

Ketika kau harus rasakan sedih, menangislah! Bukan karena kau cengeng, tapi karena emosi itu perlu disalurkan!
Ketika kau merasa bahagia, tertawalah!
Hadirkan dirimu seutuhnya dalam setiap moment di hidupmu!
Tuhan selalu menghadirkan kejutan, nikmatilah selagi jiwa dikandung badan!

Terima kasih Tuhan..
Terima kasih Ibunda dan Ayahanda..
Terima kasih Tuan Senior dan Nona Seniorita (1948-2014)..
Terima kasih PMB 2015..

Salam,
-Tajirun yang mencintaimu, PMB-


Perponcoan 2015
 Sebagian anggkatan 2015
Bendera angkatan 2015
========================================== 

Berbagi kasih PMB 1967
16 Mei 2015




Kunjungan ke Panti Yatim, Yatim Piatu, Dhuafa...benar-benar menjadikan kita merasakan nasib mereka anak2 dari Ujung Sebelah Barat sampai ke Ujung Timur NUSANTARA bersatu dan senasib. Wahai Allah lindungi mereka semuanya agar mereka memperoleh berkah hidup...besarkan mereka agar menjadi hamba-hamba-MU yang berbakti kepada bangsa, negara dan agamanya.. kiriman snr Hamdhi Anwar PMB 67

Di Panti Putri Santika, Margahayu Permai-Soreang.




Rabu, 25 Maret 2015

Iwan Abdulrachman , Perploncoan PMB

--------------------------------------------------


MPAB 1970
-------------------------
60 Tahun KAA
---------------------------


MPAB 1973
===============================
Tahun 1978