Jumat, 08 Januari 2016

Yang terlewat

Dari acara kumpul2 PMB 1963, 17 Januari 2016


 Bersama Jendral Wimar Witoelar
Bersama Ibu  Indrawati Poerwo Lukman penari Sunda

======================================================








Senin, 07 September 2015

50 tahun PMB 1965


Iwan Abdulrahman 



 Serah terima kePMB 1967 untuk siap2 acara 50 tahun PMB 1967

Selasa, 18 Agustus 2015

Pak Ahmad Kurus Almarhum: Bangsa Indonesia Seumur Hidup Berutang

Pak Ahmad Kurus almarhum (PAK) seumur hidupnya tinggal di Pondok Cabe Udik, Tangerang. PAK adalah Orang Betawi asli. Pada saat saya masih bertugas, PAK bekerja di perusahaan sebagai Tukang Kebun. Pendidikan PAK hanya tamat Sekolah Dasar.
Pak Ahmad diberi gelar Kurus karena ada beberapa karyawan yang bernama Ahmad dan Beliau paling kurus. PAK adalah orang yang sangat baik hati, selalu senyum, selalu siap menolong orang lain. Saya panggil Beliau karena hormat saya pada pandangannya tentang Hidup. Saya belajar dari Beliau.
Pak Ahmad Kurus almarhum muram dan sedih

Pada suatu saat saya melihat PAK muram dan sedih.Atas pertanyaan saya, berikut penjelasan PAK: 
Minggu depan saya menikahkan anak saya. Anggaran tersedia Rp 5 juta. Ini benar-benar maksimum kemampuan saya, sudah habis-habisan demikian ungkapan PAK. Dari Dana Rp 5 jt sesudah dipotong biaya Akad dan biaya lain-lain , tersisalah dana untuk mengundang 10 orang.
Kebiasaan dikeluarga saya, dikampung saya, saudara-saudara, keluarga dekat dan tetangga memberikan amplop. Sekarang sudah terkumpul Rp 10 juta. Istri, anak-anak dan Calon Pengantin bersorak-sorai karena pesta pernikahan akan meriah. Jumlah Undangan mencapai 100 orang.

Saya berkata dalam hati bahwa total uang dalam Amplop, yaitu Rp 10 juta adalah utang saya kepada Keluarga dan Tetangga. Utang harus dibayar. Pesta pernikahan anak saya akan berjalan dengan Meriah. Meriah tetapi sesugguhnya diluar kemampuan saya. Pesta yang meriah dengan cara berutang. 

PAK: coba dihitung berapa kali saya mengadakan acara keluarga dengan cara berutang. Dari Khitanan anak, Hari Ulang Tahun saya sendiri, istri dan anak-anak. Belum lagi pada waktu Kematian Ibu dan Bapak saya. Seumur hidup saya Dililit Utang. Kemampuan saya memberi pendidikan kepada anak-anak saya, sangat terbatas. PAK tidak berdaya menolak tekanan adat. PAK sedih: Anak-anak saya paling-paling menjual rumah saya , kalau saya meninggal.
Saya sampaikan pandangan PAK pada anak Pabrik, sejawat PAK. Praktis semua mengatakan: Atas kebaikan saudara-saudara kita dan tetangga kita, dengan biaya terbatas, kita dapat mengadakan Pesta Meriah. Soal pengembalian amplop itu kan tidak harus segera dibayar kembali. Disyukuri, dijalanin saja demikian pandangan mereka.
Bangsa Indonesia tidak berdaya menghindar dari Tekanan Amplop.
Bayangkan betapa rentannya Bangsa Indonesia, Bangsa yang seumur hidup berutang. Mungkinkah Bangsa Indonesia dapat bersaing dengan Bangsa Lain jika seumur hidup berutang?
Mempraktekkan Pandangan Hidup PAK


Filsafat hidup PAK menyadarkan saya betapa beratnya anak-anak pabrik (pendidikan STM) apalagi Petugas Kebersihan, Tukang Kebun, menjalani hidup mereka agar memiliki rumah dan tidak menjual rumah begitu pensiun. Perjuangan mereka agar anak-anak mereka mencapai gelar Sarjana dan Utama: Jangan menyusahkan Anak.
Saya mengenang Pak Ahmad Kurus almarhum dengan rasa hormat, dengan rasa terima kasih. Pak Ahmad Kurus memberi saya pelajaran tentang Hidup.

Oleh :

Robert Parlaungan Siregar  PMB 1956