Senin, 06 Mei 2019

Yessy Wenas PMB 1961




DATA PRIBADI

Nama : YESSY WENAS
Nama Lengkap : Jehezkiel Robert Wenas
Tempat Tanggal Lahir : Tomohon (Sulawesi Utara), 14 April 1939
Domisili Saat Ini : Jl. Kirey RT 005/010 Kelurahan Tengah Kramat Jati Jakarta Timur 

Nama Istri : Winny Grace Pakasi, SE

Nama Anak :
1. Sarah Sophia Ringkitan Wenas, SE (Ingkit)
2. Inameiyan Catootje Wenas, S.Pik (Ina)
3. Manoppo Ian Wenas, SE (Nopo)

PENDIDIKAN

SD : Sekolah Kristen GMIM III Tomohon tahun 1945-1953
SMP : Sekolah Kristen GMIM Tomohon tahun 1954-1957
SMA : SMA C. Biliton Bandung tahun 1957-1961
Perguruan Tinggi : Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Seni Rupa tahun 1961-1967 tidak selesai kena D.O karena situasi politik saat itu, Jessy dekat dengan keluarga presiden Soekarno

PRESTASI di BIDANG OLAHRAGA

Thn 1956 : Juara I Lomba Lari 1500m di Tomohon – Sulawesi Utara
Juara III Lomba Lari 5 km di Manado – Sulawesi Utara

PRESTASI di BIDANG MUSIK

Thn 1959 : Juara I Festival Group Band di Hotel Homan – Bandung
Nama Group “Alulas” sebagai Gitar Pengiring

Thn 1961 : vokalis group band “Aneka Nada” di Bandung bersama Guntur Soekarno Putra (Gitar & Fibraphone)
Iwan (Bass), Indradi (Drumer), Samsudin, Atjil, Memet Slamet(vocal).

Thn 1961 : Mulai menciptakan lagu, antara lain “Abunawas”, “Si Gareng”,

“Kisah Setangkai Daun”, “Menuai Padi”.
Rekaman piringan hitam untuk penyanyi Yanti Bersaudara di Studio Irama Jakarta.

Thn 1962 : Mencipta lagu “Tiada Salah” yang dinyanyikan bersama Alfons Pangemanan, piringan hitam produksi Lokananta Record.Iringan band “Aneka Nada” yang direkam di studio RRI – Bandung.

Thn 1966 : Pimpinan band rekaman “Kwartet Bintang” bersama Guntur
Soekarno Putra, Memet Slamet dan Dodo.

Beberapa lagu ciptaan yang direkam :

1. Borobudur (ciptaan tanggal 29 Mei 1966)
2. Putri Malu (ciptaan tanggal 12 Juli 1966)
3. Masa Lalu
4. Daku Dewasa
5. Pak Tani (PH. Volume Aneka 12)
6. Wolter Monginsidi (Remaco : RL-043)
7. Nyai Roro Kidul (ciptaan tanggal 14 Juli 1966)
8. Burung Gereja (ciptaan tanggal 23 Desember 1966)

Thn 1966 : Beberapa lagu ciptaan yang dinyanyikan Deddy Damhudi untuk
rekaman bersama band “Zaenal Combo” pimpinan Zaenal Arifin,di studio Remaco (30 Juli 1966) :

1. Di tepi Kolam
2. Peluklah Daku dan Lepaskan
3. Mega di Kala Senja (ciptaan tanggal 2 Juli 1966)
4. Pergi dan Kembali (ciptaan tanggal 1 Juli 1966)

Thn 1967 : Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, bersama band studio
Remaco (A.Riyanto, Joppy Item, Zaenal Arifin, Enteng Tanamal,dkk)

1. Semalam di Kota Bogor, penyanyi Alfian. (PH. Aneka 12″.Vol.4)
2. Kini Ku Rindu, penyanyi Tatty Saleh
3. Yang Terakhir, penyanyi Tatty Saleh

Thn 1967-1968 : Lagu ciptaan yang direkam di studio Remaco, penyanyi
Ernie Djohan :

1. Pemalu (ciptaan tanggal 6 Maret 1967)
2. Ingin Kembali (ciptaan tanggal 29 Maret 1967)
3. Tidak Kutanya Lagi
4. Samudraku
5. Setengah dari Hatiku
6. Mutiara yang Hilang
7. Jangan Biarkan Kusendiri
8. Semau Gue
9. Kisah di Seberang Samudera
10. Senja di Bina 
11. Stop
12. Jembatan Sarinah
13. Nompang Parkir
14. Pantai di Kala Senja
15. Sinar Mata Seorang Kekasih

Thn 1968 : Lagu ciptaan yang dinyanyikan Bob Tutupoli

1. Mengapa Tiada Maaf (ciptaan tanggal 2 April 1968),
dinyanyikan kembali oleh Yuni Shara
2. Wanita

Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titiek Sandora
1. Si Jago Mogok
2. Si Boncel
3. Jangan Tertawa
4. Warung Kopi (duet dengan Muchsin Alatas)
5. Micoma (Oh Mama)
6. Si Bogel
7. Lotto Harian
8. Sedetik Kau Terlambat

Lagu ciptaan yang dinyanyikan Titik Puspa
1. Antara Sepi dan Kesepian
2. Penyesalan

Thn 1968 : Lagu ciptaan yang dinyanyikan Patty Bersaudara
1. Cintaku Abadi Untukmu (ciptaan tanggal 6 Juli 1968)
2. Kisah Seribu Satu Malam

Lagu ciptaan yang dinyanyikan Tetty Kadi
1. Pramugari Udara
2. Bungaku
3. Bisikan Angin
4. Kuda Terbang
5. Tiada Maaf Bagimu

Lagu ciptaan yang dinyanyikan Anna Mathovani
1. Antara Pria dan Wanita
2. Menyambut Malam Tiba
3. Tukar Tambah
Penyelam Mutiara, penyanyi Lilies Suryani

Thn 1969 : Lagu ciptaan yang dinyanyikan Elly 
1. Jangan Kau Paksakan
2. Tak Usah Ya

Thn 1970 : Lagu ciptaan yang direkam di Metro Studio – Jakarta
Penyanyi Ineke Kusumawati

1. Melati di Musim Kemarau
2. Bila Teringat Padamu
3. Pertama Berkenalan (duet dengan Oma Irama)
4. Rindu Tiada Obatnya

Penyanyi Oma Irama
1. Diam-diam Jatuh Hati
2. Hari Ini Tiada Cinta
3. Mohon Diri

Mak Tjomblang, penyanyi Bing Slamet
Bila Sedang Sendiri, penyanyi Oslan Husein
Aku Sedang Rindu, penyanyi Onny Soerjono.

Penyanyi Vivie Sumanti
1. Di Tepi Danau Tondano
2. Hilang Tiada Berita
3. Bunga-Bunga Berguguran
4. Dendang Sayang

Thn 1971 : Lagu ciptaan yang direkam di studi Lokananta – Solo
Ingin Belaian Tanganmu, penyanyi Nunning Suwiryo

Penyanyi Nenny Triana
1. Bayangan Wajahmu (ciptaan Maret 1971)
2. Lagu Kesayangan

Thn 1971 : Pertama kalinya musik daerah Minahasa direkam dalam bentuk
piringan hitam, di Metro Studio sekarang bernama “Musika Studio”.
Group musik Kolintang Kadoodan pimpinan Alfred Sundah,
penyanyi Vivie Sumanti dan Frans Daromes.

Thn 1975 : Kolaborasi pimpinan orkes Zakaria di studio Golden Hand –
Surabaya, menciptakan sejumlah lagu melayu

1. Menagih Janji (penyanyi Fadiah El Bash)
2. Air Mata (penyanyi Yusniah)
3. Walau Aku Jauh
4. Tiada Yang Murni
5. Derita dan Bahagia
6. Topeng Monyet

Thn 1976 : Menciptakan lagu anak-anak di studio Yukawi – Cimanggis Bogor

1. Ayam Jantan (penyanyi Dina Mariana)
2. Cicak dan Kucing
3. Kuda Sado
4. Kancil dan Buaya
5. Coba Terka
6. Krik Krik Bunyi Jangkrik
7. Roda Tiga

Sampai kelahiran anak pertamanya di tahun 1978, Jessy Wenas telah
menghasilkan lagu ciptaannya hampir 300 buah dalam bentuk piringan hitam dan kaset.
Termasuk karyanya dalam iringan musik Kolintang dan Tarling.

PRESTASI di BIDANG SENI BUDAYA

Thn 1975 : Mengembangkan tarian Kabasaran / Cakalele di Jakarta.
Jika sebelumnya tarian ini ditolak karena dianggap dipengaruhi ilmu hitam, akhirnya diterima sebagai bagian dari seni tari untuk pertunjukkan.

Thn 1985 : Tim Penulis Makalah Gelar Adat Minahasa untuk Majelis
Kebudayaan Minahasa (MKM) pimpinan Drs. K.L Senduk. Judul
“Gelar Adat Minahasa di Masa Lampau” forum diskusi bertempat
Hotel Indonesia. Menjadi cikal bakal penentuan pemberian gelar adat Minahasa.

Thn 1993 : Mengangkat kerajinan dengan alih teknologi untuk pembuatan kain tenun di daerah Tonsea, dan pembuatan keramik di daerah Toraget,
Sulawesi Utara.

Thn 1995 : Merancang desain busana adat pria Minahasa dan kelengkapannya,
yang kemudian disah kan melalui keputusan Kepala Daerah Tk. II
Minahasa No. 254/KDH/VIII/1995. Sebelumnya hanya ada busana
adat Sulawesi Utara, dan busana adat masing-masing sub-etnik.

Thn 2005 : Ketua Juri Festival Tari Maengket tingkat Nasional di Jakarta.
Mengangkat kembali kain tenun Bentenan yang telah punah ke kancah nasional, sebagai juru gambar motif asli kain tersebut.
Motif Pinatikan ditenun dan motif Kaiwu Patola diprint yang kemudian menjadi bahan seragam untuk seluruh pegawai
pemerintahan propinsi Sulawesi Utara

Thn 2006 : Penulis sejarah tari Maengket pada buku “Materi Pelatihan Pelatih
Tari Maengket” Minahasa – Sulawesi Utara di tahun 2006.
Juru gambar motif asli kain Bentenan, jenis Tinonton Mata,Tinompak, Sinoi. Begitu juga motif asli kain Koffo (etnis Sangihe Talaud) dan kain Bantik.

Thn 2007 : Penulis makalah dan pembicara pada Seminar Kerajinan TenunBentenan di daerah Sonder Sulawesi Utara, untuk memperkenalkan
kembali jenis-jenis kain Bentenan Minahasa dan alat tenun tempo dulu. Banyak orang Minahasa khususnya, yang belum pernah melihatnya.

2007-skrg : Mengadakan pelatihan untuk pelatih kesenian Maengket,
Kabasaran, Kolintang ke daerah-daerah di Minahasa. Tujuannya antara lain untuk meluruskan kesalahpahaman masyarakat tentang keseniannya, karena kurangnya informasi tentang pengetahuan teori dan sejarahnya. Melalui Festival Seni Budaya Sulawesi Utara,pimpinan Kombes Benny J.
Mamoto.

PENGALAMAN KERJA

1971-1974 : Jakarta. Wakil Direktur di Studio Rekaman Metro Studio, pemilik
Amien Wijaya dan direkturnya Bing Slamet.

1975-1978 : Bogor. Kepala Studio Rekaman di studio Yukawi Cimanggis.
1979-1981 : Jakarta. Staff Redaksi merangkap Wartawan untuk majalah bulanan“Sonata”.

1981-1984 : Jakarta. Kolumnis Musik dan Seni Budaya untuk harian “Sinar
Harapan” dan mingguan “Mutiara”

1998-1999 : Jakarta. Pemimpin Redaksi majalah bulanan “Duta Kawanua”.

1999-2000 : Pemimpin Redaksi tabloid “Palakat”

PENGALAMAN ORGANISASI

Thn 1970 : Ketua Persatuan Pencipta Lagu Populer Indonesia (PERPIN),
Organisasi pencipta lagu komersil yang pertama mengurus hak cipta lagu dengan pihak produser. Bersama dengan A. Riyanto (wakil ketua) dan Mus K. Wirya (sekretaris).

Thn 1975 : Menjadi Pelatih saat pertama kali musik kolintang diperkenalkan di
daerah DKI Jakarta.
Sekretaris Sanggar Kabasaran “Makasiouw” di Jakarta.

Thn 1986 : Sekretaris Yayasan Kebudayaan Minahasa di Jakarta, dengan Ketua Umum Ibu M. Tengker – Rombot.

2005-skrg : Organisasi kebudayaan Minahasa “Festival Seni Budaya Sulawesi Utara”, dengan Ketua Umum Bapak Kombes Polisi Benny J.
Mamoto. Di Jakarta dan Manado. Tahun 2008 berubah nama menjadi “Institut Seni Budaya Sulawesi Utara”

2006-skrg : Penasehat dan Juru Gambar Motif Yayasan “Karema”, dengan Ketua
Umum Ibu On Markadi-Tambuwun. Mengangkat kain Bentenan yang
berasal dari Minahasa – Sulawesi Utara, sejak tahun 1800-an
menghilang dan kini dimunculkan lagi.

2008 : Ketua Departemen Seni Budaya dan Pariwisata Organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) se-Jabodetabek. Ketua Umum bapak Benny Tengker (pimpinan ASMI)

PIAGAM PENGHARGAAN

Thn 1975 : Ketua Juri Lomba Nyanyi Remaja & Anak-Anak “Pop Singer” se-
Jakarta Raya, lokasi Taman Ria Jakarta Pusat.
Anggota Juri Festival Penyanyi Pop (tahap Final) dari pihak penyelenggara, sekaligus Ketua Juri dari Yayasan Musik Indonesia.

Thn 1991 : Pemberi ceramah dalam workshop pelatih musik Kolintang, proyek Peningkatan mutu pelatih seni budaya se-DKI Jakarta. Diberikan oleh
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bapak Drs. Soeparno.

Thn 1994 : Outstanding Service Award dari Persatuan Mahasiswa Indonesia di
Amerika Serikat. Pemba wa materi mengenai tarian Kabasaran Minahasa.

Thn 1999 : Juri Lomba Nyanyi tingkat DKI Jakarta. Diberikan oleh Kepala Dinas
Kebudayaan DKI Jakarta bapak Drs. H.E Sjahrial.
Juri Festival Lagu Populer Keroncong, di Pasar Seni Ancol Jakarta.

Thn 2000 : Peserta seminar “International Conference on the History of the Relation Between Indonesia and Portugal“, steering committe Prof.
DR Ivo Carnerio de Sousa di Jakarta.

Thn 2001 : Juri Lomba Nyanyi Karaoke Remaja se-Jakarta Pusat.
Diberikan oleh Kepala Gelanggang Remaja Planet Senen, bapak Drs.
Sophian Azpina.

Thn 2002 : Juri Lagu Hymne BKPMK yang diselenggarakan oleh Badan
Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI). Diberikan oleh ketua propinsi DKI Jakarta H. RB Sayid Priyohutomo.

Thn 2003 : Penghargaan atas prestasi dan kontsibusinya dalam menumbuh-
kembangkan nama dan budaya Sulawesi Utara. Diberikan oleh Ketua Umum Lembaga Kesenian Sulawesi Utara di Jakarta, bapak Mayjen
TNI (AD) Glenny Kairupan.

Thn 2004 : Pembicara dalam acara diskusi “Kain Bentenan” (The Hidden
Treasure of Minahasa). Diberikan oleh Kepala Museum Tekstil, ibu
Dra. Dewi Rudiati.
Pembicara dengan makalah musik Kolintang, acara Simfoni Budaya
Nusantara oleh yayasan Bhakti Kawula Nusantara.
Ketua Umum Dra. Dien Novita, MBA.

Thn 2005 : Peserta dalam sarasehan dan diskusi “International Standard Music
Number” di Perpustakaan Nasional. Diberikan Kepala Perpustakaan
Nasional, Dady P. Rachmananta.

Thn 2006 : Pembicara dan nara sumber Program Pelatihan Pelatih Tari
Maengket Tingkat Nasioal 2006 di Jakarta. Diberikan Ketua Panitia
bapak Kombes Polisi Benny J. Mamoto.

Thn 2007 : Menjabarkan teori untuk tari Kabasaran kepada para pelatih tari
Kabasaran. Sekaligus menyingkap tabir rahasia Sembilan Jurus
Pedang dan Sembilan Jurus Tusukan Tombak, untuk tarian Cakalele, Kumoyak dan Lalaya’an. Ilmu yang sebelumnya hanya diketahui para Kabasaran senior. Bertempat di Taman Budaya Manado.

AKTIFITAS YANG DILAKUKAN SAAT INI

Menjadi pemerhati dan turut terlibat dalam pelestarian kebudayaan Minahasa,dengan menjadi anggota “Institut Seni Budaya Sulawesi Utara”.
Antara lain dengan mengangkat dan memperlihatkan pada masyarakat Indonesia dan kepada sesama “Kawanua”, tentang upacara adat pernikahan, naik rumah baru,
pemberian gelar Tonaas dan Walian dan sebagainya dalam bentuk seni pertunjukkan.Yang juga memperkenalkan sastra bahasa sub-etnis Minahasa yang menyimpan sastra
yang tinggi dalam kata, kalimat dan falsafahnya.
Menerapkan teknik gambar motif asli kain Bentenan, sebagai motif hias asli Minahasa pada kertas cetakan (ilustrasi buku), kain tenun, ukiran kayu dan batu atau bahan lainnya. Seperti telah diketahui, masyarakat Minahasa cenderung mencari motif hias bukan asli Minahasa, karena sebelumnya mereka hanya mengenal motif hias Waruga (batu kubur khas Minahasa) yang enggan digunakan.Saat ini meskipun menjadi kontroversi, motif batu Waruga mulai dikembangkan dan diperkenalkan pada masyarakat lewat motif kain.

V I S I & M I S I

Harus ada orang Minahasa yang mau bergiat mengangkat kembali seni budaya
Minahasa yang sudah hilang sejak satu abad yang lalu. Berbuat sesuatu
untuk tanah kelahiran, bahkan untuk negara, harus masuk dalam rencana hidup.

Visi untuk jauh kedepan lintas generasi, jika belum dapat diselesaikan sekarang dapat dilanjutkan oelh generasi angkatan berikutnya.
Satu visi yang jelas, lebih baik daripada seratus keinginan yang tidak jelas realisasinya. Misi yang di emban tergantung visi yang terus dikerjakan sepanjang hidup.

Uang bukanlah segalanya.

Selamat jalan sang maestro..😭...

 _Turut berduka_ 🙏

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Terimakasih artikelnya kak ...
ittelkom-sby.ac.id