Rabu, 11 Januari 2012

Rahman Tolleng


Rahman Tolleng: Musuh Kita Adalah Diri Kita Sendiri
Jakarta, NU Online
Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kebobrokan politik Indonesia, semua tidak menunjukkan keberhasilan. Politik Indonesia tampak tidak lebih baik dari sebelum gerakan reformasi dilakukan.Bahkan, sulit dibantah, wajah politik Indonesia saat ini tampak semakin kusut.
Demikian inti pernyataan yang disampaikan salah seorang eksponen aktivis Angkatan 1966, Rahman Tolleng, di Jakarta, Jumat (10/12).
Kusutnya politik nasional saat ini, kata Tolleng, telah mengikis semua usaha atau terobosan dalam memperbaiki politik Indonesia, sejak uji coba dari sistem multi partai, Pemilu yang jujur dan adil (Jurdil), semi distrik, sampai pemilihan presiden secara langsung. Tapi semuanya berjalan seperti sebelumnya, tidak membawa perubahan berarti, bahkan dalam beberapa hal terjadi kemerosotan yanglebih buruk,kata eksponen Angkatan 66 ini.
Aktivis yang pernah aktif di Forum Demokrasi (Fordem)organisasi masyarakat sipil yang kritis terhadap kekuasaan Rezim Soeharto pada masa silamakrab dipanggil dengan nama pendek Tolleng ini memang sengaja didaulat menjadi pembicara dalam acara Silaturrahmi Kelompok Pro Demokrasi dan Peringatan Hari Hak asasi Manusia (HAM)yang diselenggarakan oleh Gugus Nusantara Jakarta, hari ini.
.
Lebih lanjut Tolleng mengungkapkan, bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini sepenuhnya mengalami disorientasi atau kehilangan arah pandangan politik sebagai warga negara atau rakyat. Termasuk bagian dari kelompok ini, kata Tolleng, mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai pro demokrasi dan kalangan reformis.
Tolleng pun menyebutkan bukti-bukti dari disorientasi itu. Ketika menghadapi pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu mereka mengalami split ideology (ideologi ganda atau terpecah: Red.). Akibatnya, muncul tiga kelompok reformis, yaitu reformis fundamental, reformis pragmatis dan reformis spekulatif,ungkapnya.
Kelompok reformis fondamental, semestinya bila tidak menganut ideologi ganda, kata Tolleng, dalam menghadapi realitas politik pemilihan presiden yang memunculkan calon yang tidak sejalan dengan nilai reformasi seharusnya tidak memilih, sebab tidak ada calon yang bisa membawa amanat reformasi. Tetapi dalam kenyataannya, kata Tolleng, mereka tetap memilih.
Untuk kelompok reformis pragmatis, ungkap Tolleng, mereka lebih memilih megawati, sebab mereka bisa memperoleh akses kekuasaan yang memadai, dan posisi mereka yang sudah mapan tidak akan terganggu. Sedangkan, untuk kelompok reformis spekulatif, yang mengangankan perubahan, mereka mimilih Susilo Bambang Yudoyono (SBY), tanpa terlebih dahulu menyoal komitmen SBY yang belum pernah ditunjukkan dalam melakukan reformasi atau perubahan. Karena itu, menurut Tolleng, harapan itu bersifat spekulatif.
Selanjutnya Rahman Tolleng membuktikan bahwa para pemilih SBY benar-benar berspekulasi, karena terbukti hingga saat ini SBY belum membuat langkah dan kebijakan yang bisa mengarah pada perubahan fundamental, khususnya terhadap politik kenegaraan. Kekecewaan demi kekecewaan terus bermunculan, dan tidak menutup kemungkinan akan terus membesar.
Kalangan masyarakat sendiri juga mengalami kekecewaan, tidak hanya kepada partai, parlemen maupun Ormas, karena mereka terlibat dalam berbagai korupsi dan dan penyimpangan sehingga mereka merupakan bagian dari masalah,katanya.
Karena itu, menurut Rahman Tolleng, dalam mengatasi kekacauan sosial dan politik semacam ini, orang tidak bisa lagi hanya mengandalkan lembaga atau penataan sistem semata. Kita semua justeru harus kembali pada diri kita sendiri. Sebab, lawan sebenarnya dalam mengupayakan perubahan tidak lain adalah diri kita sendiri. Lawan kita adalah, nafsu kita, ambisi kita, yang semuanya harus dibayar mahal secara politik dan kekuasaan, melalui korupsi dan kolusi. Kalau kita sebagai individu tidak mampu mengontrol ambisi kitasendiri, maka segala upaya perbaikan sistem akan sia-sia seperti selama ini,kata Tolleng mengingatkan demoralisasi yang sudah melanda aktivis.
Sudah saatnya pragmatisme budaya dan gaya hidup metropolis yang jauh dari kesahajaan ditinggalkan, baik oleh para aktivis, maupun masyarakat umum,kata Tolleng mengharapkan. (neva)
Rahman Tolleng PMB angkatan 1959
-------------------
Tentang Rahman Tolleng
Oleh A. Syalaby Ichsan
Saya berkenalan pertama kali dengan dia lewat buku. Kisahnya ditulis heroik oleh beberapa penulis yang juga adalah kawan seperjuangannya dulu, seperti Rum Ally dengan ‘Titik Silang Kekuasaan Militer Otoriter’ dan Hasroel Mochtar yang menulis buku ‘Mereka Dari Bandung’. Atau juga dari seorang peneliti Perancis, Fracois Raillon dengan bukunya yang juga merupakan disertasi dengan judul ‘Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia’.
Buku-buku ini membahas dalam tentang Rahman Tolleng sebagai orang yang membidani MI di tahun 1967. Tidak ada bab khusus memang, tapi cerita-cerita tentang dia selalu mendominasi, terlebih manakala para penulis tersebut berkisah tentang angkatan ’66, atau pers mahasiswa dan lebih khusus mengenai Mingguan Mahasiswa Indonesia.
Kisahnya di dunia akademis penuh dengan cobaan. Rahman pindah ke Bandung, ITB dari Kedokteran Hewan UI (sekarang IPB) karena terinspirasi akan tokoh Sukarno yang juga adalah mahasiswa ITB. Presiden yang kelak justru ‘diturunkan’ oleh Rahman karena diktatoriatnya. Dan hingga akhir ia tidak menyelesaikan kuliah terakhirnya di Unpad.
Kisahnya sebagai aktivis adalah inspirasi bagi para aktivis lain. Ia menjadi rujukan bertanya bagi kawan-kawan seperjuangannya. Pantaslah jalan Tamblong, di kantor MI yang juga tempat dia bekerja selalu ramai oleh para aktivis mahasiswa. Kegiatan diskusi mewarnai kantor yang terletak di pusat kotabandung ini. Aktivis KAMI, KAPPI dan para Ketua Dema seringkali datang ke Tamblong untuk berdiskusi
Menangkap cerita dari buku-buku para penulis di atas, saya berasumsi bahwa Rahman Toleng, yang juga punya dua nama samaran sekaligus – Iwan Ramelan dan Armanto A.L (Asrama Latimojong)– adalah seorang dengan tipikal konseptor. Tidak banyak tampil ke depan, tapi menjadi dalang dari para wayang yang dia tampilkan. Lazimnya cerita dalam novel, sosok tokoh dengan karakter seperti ini penuh dengan misteri. Tidak ada yang bisa menduga arah pergerakannya dan yang teristimewa, ia punya jaringan yang luas dan rumit, sehingga, menurut seorang aktivis yang juga pernah berkenalan dengannya, jaringan itu sangat sulit untuk diurai.
Tentunya butuh kecerdasan di atas rata-rata dan bakat kepemimpinan yang kuat untuk menjadi seorang ‘dalang’, terlebih dalang itu punya ‘banyak tangan’. Darah bugis yang rata-rata menghasilkan manusia petualang menjadi given bagi Rahman.Sebutlah ia pernah menjadi buron di masa awalnya menjadi mahasiswa – sebab itu ia menggunakan nama samaran.
Contoh yang dapat menggambarkan kecerdasannya – yang ditulis oleh Hasyrul Mochtar – adalah ia dapat mengatur akses masuk dan keluar temannya, di masa orde lama, Ir. Ryandi atau Ir. Thuk Hok – kemudian juga menjadi salah satu Pemimpin Umum MI Jabar – untuk dapat menyusup ke dalam salah satu anak cabang PKI, yaitu HSI. Disana, Thung memata-matai pergerakan para tokoh muda PKI dan kemudian dilaporkan ke KODAM VI/Siliwangi.
Saya pun sempat bertemu langsung dengannya dalam rangka wawancara untuk karya tulis saya yang berjudul ‘Tahun-Tahun Terakhir Sebelum Pembredelan Mingguan Mahasiswa Indonesia (1972-1974)’ saya mendatangi tokoh yang satu ini sebab Rahman adalah bidan langsung dari MI.
Saya bertemu dengan Rahman di Kantornya, di Komunitas Utan Kayu, Jakarta. Bertemu langsung dengan sosok asli Rahman Tolleng memang tidak seperti yang saya bayangkan. Jujur, saya berharap bertemu dengan tokoh yang bersemangat terlebih ketika membicarakan mingguan yang dulu pernah dilahirkannya. Hanya saja, Rahman adalah sosok yang tenang, datar, tanpa ekspresi. Mungkin karena faktor usia yang sekitar 70 tahun, saya berasumsi. Ini karena beberapa pertanyaan saya mengenai MI tidak dapat ia jawab
Untuk fisik, ia termasuk sosok dengan tubuh mungil, tinggi lebih kurang 165 cm. pakaiannya sederhana. Cukup mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana berbahan katun dengan warna gelap. Ia pun perokok berat. Ini tampak dari rokok dalam pipa yang sebentar-sebentar diganti dan dinyalakannya.
Kalimatnya lugas tanpa bertele-tele, gagasannya cerdas wawasannya luas. Saya menyukai ketika ia menjelaskan tentang mengapa ia masuk ke dalam Golkar dan berpihak kepada pemerintah. Ia berfilosofis dengan menjelaskan mengenai nilai absolute dan nilai tanggung jawab sosial intinya adalah ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan, misalnya ada seorang penjahat yang mau menembak kita, maka kita tidak akan melawan karena katakanlah bahwa kita berprinsip anti terhadap kekerasan. Itulah yang disebut nilai absolut.
Akan tetapi sebaliknya, ketika kita memahami akan hakikat nilai tanggung jawab, karena kita setidaknya bertanggungjawab atas keselamatan diri kita, maka kita harus melawan, setidaknya menghindari tembakan penjahat itu.
Begitupun ketika Rahman memutuskan untuk memihak kepada Golkar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat kecacatan yang kala itu terlihat dalam tubuh Golkar, seperti ketika para penguasa memanfaatkan akses mereka ke daerah untuk memenangkan pemilu dan berinfiltrasi ke dalam kekuatan politik lain. Tapi Golkar, seperti disebutkan Rahman adalah suatu pilihan ‘The Bad among The Worst’. Istilah kasarnya, daripada kita tidak berpihak dan hanya berteriak-teriak di luar, lebih baik kitamembenahi sistem dari dalam meski terdapat cacat dalam sistem itu. Ini juga konsekuensi dari nilai tanggung jawab yang tadi kita anut.
Tolleng adalah sosok yang penuh dengan optimisme, percaya diri dan sedikit sombong. Tampak ketika ia mengatakan bahwa MI adalah Koran Rahman Tolleng dan dapat menjadi apa yang ia mau. Belum lagi ketika ia bicara dalam tataran pergerakan mahasiswa bandung. ia mengklaim bahwa isu-isu yang digulirkan oleh para mahasiswa umumnya adalah racikan dia karena data-data tentang kebobrokan pemerintah ketika itu, ia yang pegang.
Namun semua ini tentu diiringi dengan kerja keras dan keyakinan yang teguh akan perjuangan yang dia lakoni. Sesuai cerita tentang Rahman dari seorang koleganya, Ajan Sujana, iabilang “Rahman adalah orang yang betul-betul konsisten, sederhana, teguh sekali pada pendirian dan kental dengan konsepsi-konsepsi kemasyarakatan yang berakar dari paham modernisme. “Harus dibagaimanakan masyarakat Indonesia ini, setelah merdeka”.
Mengenai pergerakan mahasiswa saat ini, Rahman menjelaskan terdapat kondisi sosial politik yang berbeda antara kondisi lalu, di jamannya, dengan kondisi saat ini. Ia berujar,”kalau jaman dahulu, kita punya musuh yang nyata, yang ada dalam diri Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, tapi saat ini kondisinya berbeda dengan adanya iklim demokrasi yang kental dalam bangsa ini”.
Baginya, mahasiswa saat ini harus mulai menjawab akar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, tidak lagi menunjuk tokoh. Permasalahan-permasalahan besar seperto korupsi dan politik uang dalam demokrasi penting untuk segera dijawab. Adanya peristiwa Gestapu, meski di satu sisi mengorankan nyawa jendral-jendral Angkatan Darat, namun di sisi lain merupakan berkah tersendiri bagi Rahman karena efek dari gestapu yang menggerus kekuasaan orde lama, ia dapat muncul kembali ke permukaan dan berafiliasi dengan salah satu kekuatan sosial politik yang kala itu, menurut pendapatnya, menyerap aspirasi kaum muda dengan ide modernisasinya.
Gemsos yang berafiliasi dengan PSI.

Tidak ada komentar: