Minggu, 01 Februari 2009

Perploncoan PMB 2009 (1)

Minggu, 08 Februari 2009 pukul 08:47:00
Perpeloncoan
Oleh: Priyantono Oemar

Jendral dan Jendril siap dilelang namanya di acara Malam Lelang Nama. Sang Jendral adalah Thomas Alfa Edison, mahasiswa semester VII Fisika Institut Teknologi Bandung. Sang Jendril S Nadia Rahmawati, mahasiswa semester V Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.Sang Jendral adalah peraih medali perunggu Olimpiade Fisika Internasional pada 2005. Indeks Prestasi Kumulatifnya 3,9 dari skala 4,0. Indeks prestasi terendah 3,7, dan pernah 3,8. Lainnya 4,0.Sedangkan Sang Jendril gaul abis, pinter poco-poco, aktif di radio komunitas di Jatinangor, dan Indeks Prestasi Kumulatifnya 3,5 dari skala 4,0.Sang pembeli bertanya kepada mereka melalui juru lelang, karena sang pembeli sedang serak suaranya. ''Berapa harga kamu?'' tanya sang pembeli.''Dua puluh juta tuan,'' jawab Jendral.''OK, saya beli kamu berdua sama Jendril dengan harga Rp 25 juta.''Setelah applaus dari hadirin, sang pembeli tersu memberikan nama kepada Jendral dan Jendril. Sang Jendral diberi nama Sontoloyo Banget Yee (SBY) dan Jendril diberi nama Megaaaa. Malam itu ada lebih dari 100 plonco-plonci yang dilelang namanya. Mereka diberi nama baru, menggantikan nama asli mereka. Mereka harus menyebut nama baru itu sebagai nama bagus, dan nama asli merek sebagai nama jelek.Pagi harinya, saat apel pagi, Sang Jendril pun kebagian memimpin plonco-plonci menari poco-poco. ''Ci kenapa nama kamu a-nya banyak Ci.''''Karena saya kurus Tuan, jadi katanya untuk membedakan dengan yang asli,'' jawab plonci jendril.
Ada 165 mahasiswa Bandung yang pada Jumat (30/1) malam lalu mengikuti pembukaan perploncoan. Mereka akan mengikuti perpeloncoan selama 10 hari di Perhimpunan Mahasiswa Bandung, organisasi ekstrakampus yang dinilai Wimar Witoelar sebagai organisasi yang fun. Mereka menyatakan kesukarelaannya mengikuti perpeloncoan itu. Jika mereka tak cocok, mereka boleh mengundurkan diri. Mereka harus menunjukkan bukti adanya izin dari orangtua atau wali. Dan ternyata, ada pula orangtua atau wali yang menganjurkan anaknya atau anak walinya mengikuti perploncoan ini. ''Oom saya yang menganjurkan, untuk latihan mental katanya,'' ujar Arie Budhiana, mahasiswa Maranatha, Bandung.Tapi, ada juga orangtua yang khawatir, karena anaknya memaksa diizinkan untuk ikut. Tapi, karena sang anak merasa fun di acara perpeloncoan ini, sang anak tetap memaksa terus ikut. Sang Jendril Megaaa mengaku harus terus ikut perpeloncoan karena acaranya berbeda dengan Opspek di kampus. Selain itu, motivasi dia melewati masa ini adalah karena ia ingin menambah pergaulan, yang dengannya berarti akan memperluas jaringan.
Alasan yang juga diakui Sang Jendral.''Jendral, kamu pinter, ngapain kamu capek-capek ikut perpeloncoan?''''Saya ingin menambah jaringan Tuan.''''Memangnya di ITB nggak cukup. Kamu aktif di kampus?''''Aktif di tiga organisasi Tuan, tapi semuanya anak-anak ITB. Jadi, kalau ke sini, jaringan saya makin luas Tuan.'' Membangun jaringan, diakui Arifin Panigoro --yang juga hadir di Malam Lelang Nama peepeloncoan itu-- membantu memperlancar bisnis dia. Itulah yang ia pertegas di bukunya, Berbisnis Itu (tidak) Mudah. Sebagian besar plonco-plonci itu memang termotivasi untuk membangun jaringan, meski harus melalui masa perpeloncoan selama 10 hari. ''Biar para mahasiswa itu tidak kuuleun,'' kata Djanaka AD, mantan direksi PT Pupuk Kujang.

Perpeloncoan di Indonesia bermula dari Meneer Bosscha van Malabar, yang mengadopsi mitologi Yunani untuk memelonco anaknya di ITB. ''Dalam mitologi Yunani yang dianut sekolah publik Anglosaxon, ada penghukuman oleh Dewa Guntur, Zeus, Neptune, yang dimulai dengan mencabut hak hidup para Plebes (anak haram dari Sains dan Seni), lalu ada siksaan sampai kemudian ke Hades (neraka),'' papar Bernard Mangunsong, alumni ITB yang pernah menjadi Bapak Plonco pada 1969.Di antara itu, kata Bernard, ada side story selama menunggu hukuman berikutnya, yaitu cerita cinta semalam suntuk (whole night) ketika Helena diculik ke Athena oleh Paris dan masuknya Trojan Horse adalah pseudo victory bagi Plebes.Skenario perpeloncoan, oleh Meneeer Bosscha dibuat mengikuti skenario mitologi Yunani ini. Ada Dewa Guntur yang mencabut hak peserta, kemudian ditetapkan sebagai plonco-plonci (Plebes). Ada acara malam neraka, ada acara whole night, ada cease fire yang menggambarkan Ipseudo victory. Siksaan di mitologi Yunani tentu berbeda dengan siksaan di acara perpeloncoan. Bukan siksaan, tetapi sesuatu yang fun. Tak ada kekerasan fisik. ''Kemudian ada pengadilan terakhir sebelum masuk ke api unggun untuk bakar atribut ketika inaugurasi,'' jelas Bernard.'
'Tuan, perkenalkan, Tuan. Nama bagus saya belum punya, Tuan.''
''Nama bagus kamu belum punya?''
''Iya Tuan.''''Cepat minta buku suci.''
''Buku suci saya sudah punya Tuan.''
''Tapi, nama bagus kamu belum punya?''''Iya Tuan.''
''Kamu tidak ikut Malam Lelang Nama?''
''Ikut Tuan.''Sang Tuan pun meminta buku suci si plonco. Ia ingin memberinya nama yang harus ia tuliskan di buku suci.''Nah ini, kamu sudah punya nama bagus.''
''Iya Tuan, nama bagus saya belum punya, Tuan.'''
'Ini kamu sudah punya. Nama bagus kamu Belum Punya?''
''Iya Tuan.''Sang Tuan pun tak jadi memberikan nama bagus, karena Belum Punya adalah nama bagus siplonco itu.


Acara pembukaan














Sebelum acara pembukaan












Berpose didepan Gedung Merdeka










Latihan nyanyi












Jendral dam jendril PMB 2009








1 komentar:

vivien gusnavianti mengatakan...

Woyo2 PMB...ini kan angkatan saya saat di plonco...rindu sekali masa2 ini...