Senin, 23 Februari 2009

Perploncoan PMB 2009 (3)

Minggu, 22 Februari 2009 pukul 07:12:00, Republika
Diperlukan Hal-hal yang Terukur

Banyak orangtua menentang, tapi ada pula yang jutsru menganjurkan anaknya.
''Kamu pilih mana. 'Buku suci' ini tak saya kembalikan atau cium kaki saya,'' kata sang senior. ''Pilih bukunya dikembalikan Tuan,'' jawab Nadia Rahmawati, yang mendapat nama bagus Megaaa. ''Pilihannya cuma dua. Bukunya tidak saya kembalikan atau cium kaki.'' Nadia akhirnya memilih cium kaki, dengan alasan agar bukunya segera dikembalikan. Tapi, ia pun tak segera mendapatkan bukunya. ''Saya tak menjanjikan setelah cium kaki, bukunya saya kembalikan. Saya cuma memberikan dua pilihan.'' jawab seniornya. ''Ingat ya, jangan pernah mau mencium kaki orang lain. Cium kaki hanya untuk orangtua,'' kata seniornya memberi nasihat.
Nadia pun mendapatkan bukunya, dan beralih ke senior lain untuk mendapatkan tanda tangan perkenalan di acara perpeloncoan di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB).Tapi, beberapa hari mengikuti perpeloncoan, Nadia harus berhadapan dengan orangtuanya. Padahal, untuk mengikuti acara itu, ia sudah mengantongi tanda tangan orangtua sebagai persetujuan, yang kemudian ia serahkan kepada panitia.
Nadia dilarang orangtuanya melanjutkan keikutsertaannya di acara itu. Nadia yang biasanya sudah di rumah paling telat pukul 21.00, selama ikut perpeloncoan baru pulang di atas pukul 00.00. Ibu Nadia bahkan sempat naik gula darahnya. Panitia pun kena semprot, karena tak bisa memenuhi janji acara selesai pukul 22.00 WIB.Nadia pun sempat menangis, karena hal itu. Di satu sisi ingin mematuhi keinginan orangtua, tapi di sisi lain ia ingin tersu melanjutkan perpeloncoan.
''Soal Mama emang selalu kepikiran. Pertama, takut komplikasi juga kan, abis udah lima tahun mengidap penyakit diabetes. Dan, inget kakek juga, yang meninggal karna diabetes. Apalagi gara-gara ini ada rasa takut disangka jadi anak yang nyusahin orangtualah, yang nggak nurut, yang nggak berbakti, jadi saat ngejalanin perpeloncoan ini banyak banget pikirannya,'' tutur mahasiswa Humas Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu.
Tapi, Nadia akhirnya bisa meluluhkan kekerasan hati orangtua, sehingga ia bisa sampai akhir acara perpeloncoan. Ia ngotot ikut inisiasi ini karena ia ingin memperluas jaringan dengan ikut organisasi.Thomas Alfa Edison yang sudah telah mengikuti orientasi studi di ITB, pun rela mengikuti perpeloncoan demi memperluas jaringan. ''Konsep perpeloncoan di PMB sudah dikaji, karena alumni PMB mempunyai profesi yang beragam mulai dari pengacara hingga ilmuwan,'' ujar Mahasiswa Terbaik MIPA ITB 2008 itu.
Perpeloncoan 10 hari di PMB, kata Thomas, hampir sama dengan OS di ITB. Namun ia merasa PMB lebih aman karena dilengkapi oleh dokter dan diawasi oleh orang-orang yang mengerti di bidangnya. ''Mereka yang mau masuk ke PMB sifatnya sukarela. sebelum perpeloncoan, mereka harus menjalani medical check up, dan mengisi formulir riwayat kesehatan mereka,'' ujar Deni Suryawan, ketua Panitia Penerimaan Anggota Baru PMB.
Menurut Deni, pelaksanaan perpeloncoan pun dikontrol dengan ketat. Ada coaching clinic soal pelaksanaan perpeloncoan, ada pula penjelasan makna dari masing-masing acara di perpeloncoan. ''Tekanan mental dan fisik diberikan kepada peserta secara terukur,'' ujar Deni.Menurut Deni, tanda tangan persetujuan orangtua juga menjadi syarat penting sebelum ikut perploncoan. Ketika ada yang memalsukan tanda tangan orangtua atau wali, mereka pun dipanggil panitia untuk memberikan pertanggungjawaban.
Aam Hamimsar menjadi orangtua yang akan menyodorkan tanda tangan persetujuan tanpa harus diminta terlebih dulu. Ia malah yang mendorong anaknya mengikuti kegiatan perpeloncoan. Bapak empat anak ini memang memandang tradisi perpeloncoan sebagai suatu hal yang positif. Alasannya lewat ajang seperti itulah rasa kepercayaan diri anaknya bisa muncul. Menghilangkan rasa malu itu lalu penting sebagai bagian dari perkembangan dirinya. ''Saya adalah produk hasil pelonco yang berhasil,'' kata Aam yang pernah menjalani perpeloncoan pada 1069 itu.
Di acara perpeloncoan, ada banyak hal yang menyenangkan. ''Siapa pun yang ikut perpeloncoan, awalnya pasti menyebalkan, namun jika sudah terlewati menjadi hal yang lucu,'' kata Thomas yang menjadi Jendral Pelonco 2009 di PMB.Keinginan Thomas menempatkan dirinya pada titik nol, membantu dirinya bisa melewati masa perpeloncoan itu. Ia menjalaninya dengan rasa, membuka segala kemungkinan baru yang ada di luar dirinya. Semuanya demi upaya membangun jaringan.
''Inget temen-temen semuanya, Nad terpacu terus motivasinya. Apalagi ada satu temen yang tau kondisi Nad kayak apa. Dia yang terus nyemangatin, makanya sedih dan terharu banget saat menyingsing fajar. Pas dipelonco sih nggak nangis, tapi giliran denger kata "selamat" ya, aduh, rasanya pengen terjun bebas saking seneng-nya,'' tutur Nadia.
Nadia selalu teringat peristiwa yang bergubungan dengan ibunya. Setelah ibunya merestui dirinya untuk meneruskan acar perpeloncoan, Nadia jadi sering dijemput ibunya. Teman-temannya pun ikut menumpang mobil ibunya. ''Mama masih ngomel-ngomel. Tapi, ngomel-nya sambil mau muntah. Solanya, kami pada bau. Apalagi setiap hari kami selalu diberi minum dan dilumuri minyak ikan,'' ujar Nadia. ren/ind/kie

Inisiasi di Wanadri dan Menwa
Wanadri dan Resimen Mahasiswa (Menwa) mempuyai tradisi yang keras dalam inisiasi. calon anggota kelompok pecinta alam di Bandung ini harus mengikuti empat tahap tes. ''Yaitu, tes psikologi, tes medis, tes fisik dan wawancara medis,'' ujar Iwan dari Wanadri.
Mereka yang dapat rekomendasi untuk bisa mengikuti inisiasi, akan menjalani pendidikkan dasar selama sebulan untuk mendapatkan 12 materi. Di antaranya, navigasi darat. survival, mengenal makanan yang bisa dimakan atau botani, tebing terjal, materi pembekalan wawasan kebangsaan, materi tentang lingkungan hidup, arung jeram, dan lain-lain.
Iwan mengaku, selama pendidikan dasar itu kontak fisik masih bisa diterapkan. Asal, tujuannya jelas. Tapi, kalau untuk menegakkan disiplin hukum yang diterapkan tidak akan mengada-ada. Misalnya, kalau ada peserta pendidikan itu yang melanggar aturan, mereka harus dihukum push up satu seri sebanyak 10 kali.
Tamparan pun, lanjut dia, bisa dilakukan pada orang tertentu dengan kondisi tertentu. Misalnya, kalau ada peserta yang kedinginan atau melamun, mereka harus ditampar untuk mengembalikan konsetrasi. Di gunung, kata dia, semua peserta harus dijaga suhu badannya agar tidak dingin karena kalau kedinginan bisa menyebabkan kematian.
Di Menwa, yang menerima anggota juga berdasarkan kesukarelaan, juga mengadakan serangkaian tes kepada calon anggota. "Nah, salah satu yang wajib dilampirkan saat mendaftar adalah surat keterangan sehat dari dokter," kata Ariza Patria, komandan Komando Nasional Resimen Mahasiswa Indonesia.
Calon anggota mengikuti proses wawancara dan pra-pendidikan dasar. Kegiatan tersebut banyak dilakukan di kampus-kampus. Sebelum pelatihan dijalankan, calon anggota sekali lagi harus memeriksakan kesehatannya dan melampirkan buktinya. Dalam pelatihan ini, materi-materi bela negara serta etika dalam ketentaraan di berikan di kelas, diiringi dengan pelatihan fisik. "Ya seperti push up, sit up, back up," ungkap Ariza.
Selain itu, setiap pra pendidikan dasar yang memang menu pelatihannya sudah standar tersebut, setiap kampus juga mengadakan jurit malam atau dalam istilah menwa disebut caraka malam. Dalam kegiatan itu, calon anggota baru seolah-olah berada dalam situasi perang dan harus mengirimkan pesan kepada komandannya. Dalam perjalannya dia akan menemui banyak halangan dan rintangan. "makanya teknik survival juga diajarkan disini," tambahnya. Ketika calon anggota baru itu lolos dari pelatihan ini maka dia akan melanjutkannya ke pendidikan dasar yang dilakukan di komando tingkat provinsi dengan materi yang lebih berat. kie/kim

Tidak ada komentar: