Minggu, 05 Mei 2019

PMB 1961, 1957, 158


PMB 1961.

-------------------------------------






ZUS UNDAP, PMB ‘57

Legenda Anggar Indonesia - Zus Undap

Anggar Membawanya Tenar
Olahraga yang digelutinya memang kurang populer di Indonesia. Namun bagi E.A.A. Poerawinata alias Zus Undap, hal itu justru membuat namanya menjadi dikenal banyak orang. Wanita kelahiran Sukabumi tahun 1934 ini disebut-sebut sebagai atlet anggar perempuan pertama di Indonesia. la telah bertanding anggar mulai dari PON III (1953) hingga PON IX (1977), mengumpulkan 13 medali emas dan 10 medali perak.

Pada tahun 1960 Zus Undap sudah ikut bertanding di Olimpiade Roma meski tidak memperoleh medali. Ketika GANEFO diadakan di Jakarta tahun 1963, ia mendapatkan medali emas di kelas floret putri. Setelah mengakhiri kariernya sebagai atlet, Zus Undap aktif melatih para juniornya. Ia menetap di Sukabumi dan mengajar olahraga di sebuah SMA di kota itu. Ketika ia harus melatih atlet anggar nasional di Jakarta, Zus Undap rela setiap hari pulang pergi Jakarta—Sukabumi, agar kedua tugasnya sebagai guru dan pelatih tetap dapat ditunaikan..

Ny. E.A.A. Poerawinata atau lebih dikenal dengan panggilan akrab Zus Undap (52) nampaknya merasa agak lega. Maklum, sebentar lagi masa liburan anak-anak sekolah tiba. Dengan begitu ia bisa sepanjang hari tinggal bersama anak-anak asuhannya di Pelatnas Asian Games, Senayan.

"Sebelumnya, kasihan juga saya melihatnya. Bolak-balik terus Senayan-Sukabumi naik bus seperti tidak ada capek-capeknya," komentar Sylvia Kuswandi, atlet anggar yang sempat bersama pelatihnya itu memperkuat tim Indonesia di arena Asian Games 1978, Bangkok.Bolak-baliknya Mammie, begitu panggilan akrabnya di Senayan, tentu bukan hanya karena anak-anaknya yang berjumlah empat. "Soalnya, saya mengajar olahraga juga di SMA BPK Sukabumi. Tak sampai hati kalau di tinggal-tinggal," ungkap bekas si "jago pedang" yang pernah berlaga di PON III sampai PON IX dan Olimpiade Roma 1960 itu.Memang, anak ke-3 dari 4 bersaudara keluarga almarhum pendeta S. Undap ini betah dengan dua kegiatannya di luar rumah. "Melatih dan mengajar di sekolah sama-sama menyenangkan. Tapi, dukanya mengajar juga ada, meskipun hanya sedikit," katanya. Apa? "Kalau bikin soal-soal ujian itu, lho," tambah Zus.(Penulis: Indrie HP, Mingguan BOLA Edisi No. 117, 23 Mei 1986)

======

Turut berduka dengan berpulang nya Almh.Zus Undap, semoga beliau mendapat tempat d sisi Tuhan YME....Aamiin 🌹
 

================================



 PMB 1958

Makna Persahabatan


Ahad 19 Oktober 2014, istri Palgunadi berulang tahun. Tapi barang setengah hari ia meminta izin untuk ikut acara kroeg 50 tahun Angkatan 64 Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB). Palgunadi menjadi senior angkatan ini, karena Palgunadi bergabung pada 1958.

“Saya ditelepon Jony, diminta datang ke sini. Saya nyatakan bisa,” ujar mantan dirut Astra itu menyebut Ahmad Bukhari Saleh, nama panggilan anak tokoh Petisi 50 dr Aziz Saleh itu. Jony tergabung di angkatan 64.

Dengan adanya undangan ini, kata Palgunadi, ia merasa masih dianggap sebagai bagian darinya. Ia menyatakan kesediaannya datang karena faktor persahabatan yang tak lekang oleh waktu. “Persahabatan itu ikatan di dalam batin. Ikatan untuk saling memperbaiki,” ujar Palgunadi. 

Hartarto, mantan menteri perindustrian zaman Pak Harto, yang bergabung dengan PMB tahun 1950-an ikut menyimak tausiyah Palgunadi siang itu. Ada pula Arifin Panigoro, Rachmat Witoelar+Erna Witoelar juga ikut menyimak. Setyanto P Santosa, mantan dirut Telkom yang masuk PMB tahun 1965 menyimak sembari duduk di anak tangga lantai bersama beberapa orang lainnya karena taak kebagian kursi.

Palgunadi menggambarkan persahabatan sebagai sesuatu yang bisa menggetarkan hati. “Ketika kita bertemu hanya saling menatap saja, ada getaran dalam hati dan Allah yang menggetarkan itu,” ujar Palgunadi.

Persahabatan mereka telah mereka bangun sejak masa sekolah dan kuliah. Di PMB mereka mengalami masa perploncoan yang cukup lama. 

Kini tibalah saatnya/ hari yang aku nantikan/ hari akhir dari segala penderitaan/ bermacam perngorbanan dan lain-lainnya/ pahit dan getir ku telan/ air mata sering berlinang/ tapi kini sakit dendam rela kubuang/

Palgunadi mendendangkan lagu penyemangat yang dulu sering mereka nyanyikan.

 (Copas dari _PRY_)

Snr Palgunadi telah wafat, dimakamkan di Lembang,


 

Tidak ada komentar: