Senin, 22 September 2008

Diana C Pondaaga

Berikut petikan wawancara wartawan Republika, Reiny Dwinanda, dan fotografer Amin Madani dengan Diana Pondaaga:


(hanya sebagian yang di posting.... lebih lengkapnya lihat Republika Senin 22 September 2008)

Menyukai Film-film Kisah Nyata
Semasa remaja, Diana Pondaaga sering tampil di ajang peragaan busana bergengsi di Bandung, Jawa Barat. Perempuan kelahiran Makassar, 15 Juli ini menikmati profesinya sebagai model catwalk. Semasa kuliah, ia juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) sejak 1970. Namun, kegiatan model dan organisasi kemahasiswaan itu tak membuatnya lalai melanjutkan studi. Hanya, ketika berada di tingkat enam Universitas Padjadjaran, ia memutuskan untuk memperkaya wawasan ke Jerman. Diana berangkat ke Jerman tahun 1976. Di sana, ia mengikuti pelatihan salon rambut selama tiga tahun dan bekerja dua tahun berikutnya. ''Saya pulang ke Indonesia tahun 1981 dan menyelesaikan S1,'' kenang insinyur pertanian yang meraih gelar master of management dari Universitas Indonesia ini. Tahun 1986, Diana menikah dengan Iriantoko, seorang arsitek. Pernikahan itu terjadi atas jasa mak comblang. ''Mereka suami-istri. Yang mempertemukan sudah cerai, kami jalan terus,'' ketua PPRS apartemen di Slipi ini terkekeh. Pasangan Diana-Iriantoko tak memiliki keturunan. Mereka tak gusar menghadapi kenyataan itu. ''Kami malah bisa jalan-jalan, travelling, tanpa rencana,'' jelas Diana. Di kesehariannya, Diana gemar membaca. Buku-buku pengembangan pribadi dan spiritual adalah bacaan favoritnya. ''Saya juga suka nonton DVD yang true story,'' ujar perempuan berdarah Manado ini. Menatap ke belakang, mencermati pengalaman hidupnya, Diana tak memiliki penyesalan apapun atas pilihan masa lalunya. Tetapi, usai membaca buku pakar investasi, Robert Kiyosaki, ia sadar ada peluang bisnis luput digarapnya. ''Andai saja saya dulu membuka usaha salon, mungkin bisa seperti Johnny Andrean yang sukses dengan ratusan cabang salon di Indonesia,'' gumam Diana. n

Tidak ada komentar: